Leonardo & Samantha

Bila kau merasa tidak bahagia dengan seseorang yang baru, kau boleh berbalik dan temui aku. Di penghujung jalan ini aku selalu setia menunggumu.

Aku selalu saja terkikik dengan kata-kata lelaki itu saat terakhir kali kami saling jumpa di depan pelataran gereja yang semula adalah tempat pertemuan pertama kami. Lucu memang, kami memulai dan mengakhiri di tempat yang sama. Bukan semata-mata ingin memiliki momentum yang unik. Coba bayangkan! Bagaimana bisa perpisahan antara sepasang kekasih boleh disebut cerita unik karena latar tempat berakhirnya? Semuanya omong kosong. Cinta itu hilang saat kami mengakhirinya di sana.

Di depan pelataran gereja itu, aku memandang sekilas bayangan dua orang yang sedang beradu argument karena segelas kopi tumpah di kemeja sang gadis. Lelaki itu tetap keras kepala tidak mau mengakui kesalahannya sampai-sampai aku harus berbicara lebih keras darinya, padahal aku tahu dari wajahya saja umurnya lebih tua dariku. Di akhir perdebatan panjang, ia meminta maaf dengan kening berkerut. Tentu aku tahu ia terpaksa. Tapi aku tak mau memperpanjang masalah, yang penting ia sudah meminta maaf. Tak lama setelah itu ia mampu mengejarku sampai ke halte.

Di depan halte ia seperti orang kebingungan. “Mana nomor HP-mu! Bajumu biar aku ganti!” katanya setelah jeda lumayan lama.

Ah, sialan. Begini, nih, mau minta nomor ponsel saja alih-alih malah menjadikan perdebatan tadi sebuah kesempatan. Tapi setidaknya ia masih punya sopan santun.

Memori masa lalu itu terputar kembali. Berulang kali pula aku merutuk diri. Hallo, Samantha, you must go move on!

Jengah memandang terus ke gereja yang julang itu, aku segera beranjak dan membawa satu buntel dokumen yang harus aku serahkan kepada manager hari ini. Ah, manager-ku itu betul-betul menyebalkan. Mentang-mentang aku karyawan baru, selalu saja aku yang menjadi korban antar-antar barang.

Kuperhatkan jalanan sedikit lengang. Sudah mau akhir pekan aku masih saja bekerja dan bekerja. Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja.

Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja! Aku selalu saja mempertegas kalimat itu. Seperti aku dan Ethan tidak punya hubungan apa-apa saja.

“Hati-hati, dong!” Seseorang melenting ketika aku menubruknya di depan kantor.

“Maaf… Maaf!” Aku membungkuk beberapa kali, sampai-sampai tumpukan dokumen itu mau ambruk.

Demi Tuhan! Hari ini benar-benar hari terburukku.

“Orange?”

Aku membelalak. Satu-satunya yang memanggilku dengan nama buah itu hanya Leo. Leonardo Hannes. Mantan kekasihku lima tahun yang lalu. Wajahku naik dan mengamati laki-laki itu. Ia masih terlihat sama, hanya saja ada rambut-rambut tipis yang mengelilingi dagunya. Leo juga bertambah tinggi beberapa senti.

“Benar kan, kau Orange?”

Aku mengangguk kikuk. Selama ia memandangku, aku tak berkata apa pun, yang jelas pertemuan ini benar-benar mengejutkan. Aku jadi tidak berani memikirkannya lagi kalau setiap kali aku membayangkannya  saja dia tiba-tiba muncul.

“Kau bekerja di sini?” tanya dia lagi.

“Hmm.” Aku mengangguk sambil masuk ke kantor. Kami jalan beriringan saat mencari elevator.

“Kau juga?”

“Hmm.” Ia ikut-ikutan bergumam.

Selama di dalam elevator kami tak saling berbincang. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan sejak lama.

“Kenapa kau memanggilku Orange, bahkan sampai sekarang?”

Leo diam sejenak.

Orange is sweet, sour, and fresh. Orange is a something that I love much more. I am without it not something. Kata Leo sambil tersenyum.

Advertisements

Aku dan Sepotong Hati

Aku manakutkan. Aku menakutkan meski hanya menyerupai bayangan setelah raga disinari cahaya. Orang bilang semakin terang cahaya semakin kuat juga bayangan yang dihasilkan. Ah, omong kosong, kuat ataupun tidak sebuah bayangan dari sosok ini tidak akan mengubah segalanya. Sosok dari gadis manis berambut hijau dengan kepangan kecil yang melilit ke belakang. Tidak ada yang menyangka sosok yang jelita ini mampu melakukan hal yang gila, bukan?

Di bawah lampu jalan aku berjalan menaiki beberapa anak tangga, berbelok ke kanan, lalu bertemu dengan lorong kecil yang dasarnya tergenang air hujan. Di tempat yang sedikit terkena sorotan lampu itu seseorang sedang menungguku dalam gigilnya. Hujan baru saja reda dan ia memintaku datang ke sana sendirian, tanpa mobil merk terbaru atau motor besar yang menjemput ke rumah terlebih dahulu.

“Mor….” Laki-laki yang sedang bersandar pada dinding lembap itu mendesah ketika rambutku berkibar dihempas angin, ketika langkahku mendera aspal, dan aroma yang semerbak ke hidungnya. Yah, dia memang sangat menghafalnya. Kami memang sering bersama sejak satu tahun silam.

“Hmm,” kataku sambil loncat ke dalam pelukannya.

“Pakai Sampo apa, kok wanginya beda?” tanya lelaki bernama Regan itu sambil mengusap puncak kepalaku sampai tengkukku meremang.

Aku mempererat pelukanku sambil membayangkan senyumannya yang khas.

“Kenapa, kok diem?” Ia melepas pelukannya dan menyambar pipiku. Ia usap-usap sampai aku meleleh.

Entah sudah berapa lama aku hanya membuat jeda dan memandang wajahnya. Kulihat rambut-rambut tipis tumbuh di sekitar dagu. Kuusap usap wajahnya yang kasar itu. Geli.

“Kamu tahu? Aku mencintaimu. Aku mencntaimu sampai aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Regan mengangguk sambil berguman. “Hmm. Aku tahu.”

“Tapi ada yang lebih aku sukai melebihi dirimu.”

Regan tersenyum sambil mencari tahu jawabannya dalam mataku.

“Hatimu.” Aku memeluknya lagi. Saat itu hujan turun lagi, tidak teralalu deras hanya rintik-rintik kecil yang sedikit membasahi kami. Ah, aku tidak peduli, aku sudah dihangatkan Regan.

“Hmm. Aku juga tahu.” Regan memelukku erat sekali. Lebih erat dari biasanya. Sampai-sampai jemariku dengan mudahnya menancap ke kulitnya, mengorek-ngorek jantung yang masih berdetak sangat lambat, detak yang diperuntukkan bagi seorang Morgiana.

Krashhh! Aku melumat habis jantung yang kucongkel secara paksa dara tubuh besarnya. Dingin, kurasakan itu setelah mencapai kerongkonganku. Sedingin perasaanku malam itu.

*Note: Sebelum membuat cerita ini aku bertanya terlebih dahulu kepada salah seorang teman dekat yang bagi aku dia sudah seperti Soulmate. Ke mana-mana bareng, tidak sedikit kami berjumpa dengan warna baju yang sama ketika janjian untuk ke suatu tempat. Saat aku tanya sebaikanya aku menulis tentang apa, dia hanya bilang “Nulis Horror aja! Horror romance.” Aku kaget karena satahuku dia sangat menyukai cerita romantis yang akhirnya selalu bahagia. Rupanya dia sedang menantang aku untuk menulis genre tulisan yang jarang sekali aku sentuh. Dan terciptalah beberapa kata dari cerita yang dia mau itu, meski mata ini sudah ngantuk karena baru pulang dari suatu tempat.

Boy in The Sun

Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring

 

Ada cowok di dalam kamarnya.

Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.

“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath mengerjap dan mengusap-usap tengkuknya tanpa menurunkan tangannya dan membalas uluran itu.

“Tidak ada. Aku Cath, kau sudah tahu,” kata Cath sambil melempar pandangan ke arah lain. Matanya mengamati setiap sudut kamar barunya.

Levi tersenyum teramat manis. Saat itu juga Cath merasa mendapat sengatan mentari. “Jadi, kau mau ikut kami ke Pear’s?”

Tidak ada suara yang dilesakkan Cath. Ia memberi jeda pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Levi, sebenarnya ia sedang menimang-nimang akan pergi atau tetap tinggal.

Sebelum Cath melontarkan sesuatu, Levi sudah menyambarnya duluan. “Nanti akan kubantu membereskannya kalau kau ragu soal barang-barangmu,” ujar Levi. Sekali lagi ia tersenyum begitu manis.

Cath tak berucap satu patah pun, sementara Levi memandangi kaus berwarna biru muda dengan gambar Simon Snow di bagian tengahnya sambil senyum-senyum. Matanya naik-turun menatap wajah Cath yang terlihat tegang.

“Percayalah, kau tidak akan menyesal. Burger itu benar-benar lebih besar dari kepalan tanganmu,” ujar Levi lagi sambil tersenyum.

Entah sudah yang ke berapa kali ia memberikan senyumannya kepada Cath. Yang jelas Cath merasa dirinya semakin canggung dengan tingkah laku Levi. Ia bersumpah jika sekali lagi cowok itu memberinya satu buah senyuman, Cath akan menerima ajakan itu.

“Kau benar tidak mau pergi, hmm?” Levi menumbuk seluruh wajah Cath dengan bola matanya. Pandangannya penuh dengan wajah Cath yang sedang gugup. Rasanya ada yang menggelitik perut Cath lagi.

“Aku pergi.” Cath mengangguk dengan masih saja ada kegugupan di nada suaranya dan dibalas sebuah senyuman oleh cowok itu.

Ah, kapan kau akan berhenti tersenyum? Batin Cath saat mengekori Levi.

Tidak butuh waktu lama dari asramanya menuju Pear’s. Levi langsung mengantre, sedangkan Cath menunggu di bangku yang kosong. Selama itu matanya liar menjajaki pemandangan di sekitarnya.

“Kau menyukainya?” tanya seorang cowok yang suaranya mulai dihafal oleh Cath.

Pundak Cath menegang. Ia tersentak oleh kedatangan Levi yang tiba-tiba. Cowok itu langsung duduk di hadapan Cath dan melahap burger-nya.

“Terima kasih,” lontar Cath pendek. Jiwanya yang selalu berada di dalam kamar bersama Simon Snow dan Laptop-nya sekarang merasa terkejut.

Levi  memaksa burger-nya masuk ke dalam kerongkongan dengan Soft drink. “Makanlah! Kau tidak akan kecewa dengan rasanya. Sudah kupilihkan yang enak.”

Cath menurut dan memakannya sedikit-sedikit. Saat itu Levi mendapat sebuah panggilan telepon. Beberapa menit ia berbicara dengan ponselnya, setelah itu Levi melanjutkan pembicaraannya dengan Cath.

“Jadi kau penggemar Simon Snow?”

Cath mengangguk setelah melihat gambar di kausnya.

“Aku juga menyukainya. Aku bahkan sering membaca Fanfiction-nya,” terang Levi dengan antusiasnya.

Cath membelalak. “Benarkah?”

“Iya, ada satu penulis yang sangat aku sukai. Namanya Magicath,” jelas Levi. Ia berpikir sejenak. “Mungkinkah itu kau? Nama kalian mirip,” tambahnya sambil tertawa.

Tenggorokan Cath tercekat. Yang sedang dibicarakan memang benar adalah dirinya, tapi ia sama sekali tidak bisa berkata apa pun.

“Ah, itu dia.” Levi tersenyum sambil melambai ke seseorang yang sedang berjalan ke arah mejanya. Cath, kali ini ia malah berharap selalu mendapat senyuman dari cowok yang baru dikenalnya itu.

Cath mengikuti ke mana mata Levi pergi. Seorang gadis berwajah masam dengan tas selempang warna cokelat itu tengah berjalan tergesa-gesa.

“Siapa?”

Levi menoleh. “Teman sekamarmu, Reagan.”

Cath terkejut. Jadi bukan kau?

“Ah aku lupa, aku tadi membantunya mengangkut kardus.”

“Membantu?”

“Iya, aku pacarnya.” Levi tersenyum lebar.

 ***

 

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell

Terbit: November 2014

Nasihat ter-hakpret!

Alkisah…. (Halah)

Gue bukan mau berpidato atau  numpang curhat. Gue cuma mau sharing beberapa paragraf yang entah berguna atau nggak. Lo juga nggak perlu khawatir. Gue bukan sales yang mau nawarin produk yang ada ekstraknya atau mau cerita kisah sedih di hari minggu yang mendayu-dayu dan penuh haru-biru. Tenang aja!

Ada beberapa hal yang nggak pernah lepas dari sifat manusia dari dulu sampai sekarang. Beberapa diantaranya bakal gue bahas di sini. Mari simak!

Pertama. Sejak dulu sampai sekarang kebanyakan orang selalu mengalami masalah sama gengsi. Ngapain sih pake gengsi-gengsian?  Gengsi berlebihan tidak akan mengurangi lemak di perut Anda. Ingat! Lho?

Gue sendiri nggak memungkiri meski kadang-kadang gengsi kalau ditawarin martabak telor sama tukang dagangnya atau saat bepergian lupa nggak bawa duit. Yah, namanya juga manusia pasti punya rasa gengsi lah. Namun, kalau dalam keadaan mendesak gue sama sekali tidak memikirkan gengsi itu lagi. Contohnya, kalau lagi berantem sama adek gue, sebut saja dia Bintang, lalu gue perlu penghapus dan harus pinjem sama dia. Karena gue sudah lewat masa kelulusan mau bagaimana lagi, kan? Mau beli juga males kalau cuma penghapus doang. Mending pinjem penghapus gopean dia, kan?  Terpaksa gue menghilangkan rasa gengsi itu dengan tampang tak tahu malu. Tanpa segan gue masuk ke kamarnya dan meraih tas pundaknya sambil merogoh tempat pensilnya dan bilang , “Gue pinjem penghapus!” Bintang  tentu saja tidak menyetujui. Namun karena ketangkasan gue, sebelum dia mengamuk gue sudah lari dan mengurung diri di kamar sambil cekikikkan.

Kedua. Ragu-ragu. Ragu-ragu bisa berakibat fatal bagi kemaslahatan hidup manusia. (Halah! Gue mulai sok tahu lagi.) Ragu-ragu karena tidak percaya diri juga sering dialami remaja yang sudah beranjak dewasa. Biasanya mereka memikirkan dulu prospek ke depannya, sehingga langkah dan keputusan yang mereka sangat memengaruhi masa depan. Hal itulah yangg akan menimbulkan keragu-raguan dalam mengambil keputusan. Gue sendiri sering mengalami keragu-raguan selama ini. Misalnya ragu-ragu untuk terjun dari puncak monas atau potong rambut dengan gaya cepak atau plontos. Mikir beratus-ratus kali pun gue masih nggak yakin, ragu untuk melakukan hal gila itu.

Ok, yang terakhir. Merasa menyesal. Banyak sekali penyesalan di dunia ini. Menyesal telah melepasmu contohnya. Cieee, uhuk! Kadang orang melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati mereka. Mereka hanya mengandalkan pemikiran sehingga menimbulkan sebuah penyesalan yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri. Sebisa mungkin kita harus menghindari penyesalan, guys! Pilihan yang kita ambil seharusnya dipikirkan matang-matang dan direnungkan bersama hati kecil kalian. Setidaknya dengan pengendapan waktu itu bisa meminimalisir banyaknya penyesalan di dunia ini.

Contoh penyesalan lainnya. Ketika ada orang yang jelas sayang sama lo tapi lo malah bersikap dingin dan tidak menganggapnya. Yang perlu lo tahu dia nggak pernah kehilangan emosinya meski dipatahkan berulang kali. Sampai suatu saat lo naruh hati sama dia, dia yang sekarang mungkin sudah melepas lo atau berpaling ke seseorang yang lain. Dan akhirnya lo akan mengalami yang namanya penyesalan itu. “Kenapa ya nggak gue rangkul aja dia dari dulu? Kenapa gue nggak sadar sama perasaan gue? Kenapa? Ah, kenapa ya?” Kenapa coba? Nggak ada jawaban untuk semua pertanyaan itu. Semuanya udah berakhir dan lo harus mengulangnya dari awal lagi. Keputusan memang harus diambil secara matang. Sebenarnya lo cuma ada dua pilihan saat mengahadapi situasi kayak gini. Tapi dianjurkan diambil saat-saat pertama. Tinggal atau pergi? Lo kudu pilih salah satu, nggak bisa pilih keduanya. Tinggal lalu pergi atau pergi lalu kembali. Hakprettt! Mana ada yang mau!?

Anggap aja ini sebuah pemainan tarik tambang. “Sekuat tenaga kamu mencapai tali dan menariknya kencang-kencang, bisa saja lawanmu malah melepaskan tali, lalu pergi.”  Entah dapet bisikan dari mana gue nemu filosofi kayak gitu. Bagian yang terpenting adalah saat lo berbalik dia udah nggak ada di tempatnya lagi. Syukurin! Gue semangat banget deh kalau ngebahas beginian. So, lo harus pintar-pintar mengambil keputusan, nih. OK! Ini cuma nasehat kecil aja, sih. Kalau nggak bermanfaat ya mohon dimaklumi kalau sebaliknya diharap mengirim satu koper uang ke alamat di bawah ini. Gue nggak becanda, kok.

Tapi ada satu hal yang tanpa perlu dipirkan terlebih dahulu. Ini sesunguhnya nggak akan membuat wanita mana pun merasa menyesal. Yaitu melahirkan anaknya. Begitu pun dengan Mama gue, dia pasti nggak akan menyesal. Tunggu-tunggu! Apa iya? Ah, sudahlah, Kembali ke keperayaan masing-masing aja, ya!

Kesimpulannya, tiga hal tersebut saling berkaitan. Gengsi – Ragu-ragu – Penyesalan. Yeah! Ingat gengsi berlebihan tidak akan menghilangkan lemak diperut Anda!

Regard

Purwakarta, 17 September 2014

The Story Only I didn’t Know

Aku perdu yang dilalap api, engkau pandu yang ditelan bumi. Kita tak berkisah, kita tak bercerita. Kita hanya sebuah birama dalam gelas.

Aku memejam. Berulang kali kuulang kalimat yang kupercayai sebagai mantra pemintal rindu untukmu.

“Satu…, dua…, tiga….” Setelah selesai menghitung, bunga Dandelion langsung membelai pipiku. Angin sedang memihakku kali ini. Mereka riang menari bersama pucuk-pucuk bunga itu, mengembus dengan mesranya.

Selama itu mulutku tak berhenti bersenandung. Lagu-lagu milik The Beatles seperti I will atau in My Life keluar begitu saja berupa dehaman. Aku benar-benar merasakan mereka sedang mengantarmu kembali. Membawa kenangan juga harapan bersama angin di akhir Agustus.

Detik demi detik berlalu, kurasakan aroma tubuhmu yang menyejukan. Ruas-ruas jemarimu menutupi kelopak mataku. Kau belai halus setiap jengkal wajahku saat aku masih memejam. Tak ada yang terlewat, kening, hidung, pipi, bibir, dan dagu. Jemarimu yang hangat menyentuhnya dengan syahdu. Sudah lama kurindukan ini sejak terakhir kita bertemu. Tidak, sebelum itu bahkan.

“Jaehyun-ah…,”desisku dengan suara gemetar. Mataku berbinar dan masih saja tak memercayai bahwa itu dirimu. Pertama kali aku melihat lagi wajah itu, kutemukan hunjaman dari sorot matamu. Tunggu! Apa di matamu ada tumpahan arak? Kalau tidak, kenapa aku bisa jadi semabuk ini ketika menumbuknya?

Gumpalan air dalam mataku sudah tak tertahankan lagi. Beberapa tetesan air mata jatuh mengenai jemarimu yang buku-buku jarinya sudah memutih. Lalu sesekali kau seka dengan lembutnya. Saat itu kau berkata, “Jangan menangis lagi, air matamu bukanlah kebahagianku.”

Betapa luluhnya aku ketika mendengar suara khasmu. Kala itu air mataku habis diseka olehmu. Kau tak lelah, kau tak marah. Kau hanya tak tega melihatku menangis karena sakitnya merindu. Rindu yang sudah menjalar sampai ke urat nadi dan baru sempat kutumpahkan.

“Jiyeon-ah…,” katamu dengan senyuman manis milikmu. “Ada kalanya, mantra itu tidak akan berfungsi lagi.” lanjutmu lagi. Kini jemarimu meremas jari-jariku dengan lembut. Kurasakan hampir tak ada sehelai udara pun yang mampu menyelinap di antaranya. Bulu kudukku langsung meremang, sehebat itu kah sentuhanmu? Ah, sejak dulu kau memang begitu.

“Jaehyun-ah….” Aku tak merespon pernyataan itu, dan malah melemparnya dengan sebuah gumamman.

“Emm?” Kau hanya berdeham. Tapi aku tetap meyukainya.

Aku mengusap-usap puncak lenganmu. “Saat ini yang paling aku inginkan dalam hidup adalah bersamamu. Apa kau juga sama?”

Kau tak merespon. Jelas membuatku bingung, tetapi genggamanmu yang semakin erat tak menggoyahkanku sama sekali. Aku tetap percaya kau akan selalu di sampingku. Meski kepercayaanku itu tak sepenuhnya dipenuhi kebenaran. Tapi aku tetap memilih untuk percaya.

Mataku menerawang ke arah bunga Dandelion yang sedang beterbangan. Jiwaku seakan ikut terbang bersama mereka. Ketika itu alunan piano seolah berputar-putar di kepalaku. Kata-katamu sudah tak aku hiraukan. Hanya suara piano itu saja.

“Kau yang kemarin, sekarang ataupun nanti tetaplah sama. Dengan atau tanpa mantra pun kau selalu jadi Jaehyun-ku. Kau selalu jadi rinduku.” Kepalaku bergerak-gerak mengikuti irama lagu.

Saat itu kau memandangiku pilu. “Sedang mendengarkan lagu?” tanyamu hati-hati. Wajahmu menilik ke dalam rautku.

“Iya, ini lagumu yang waktu itu kau perdengarkan. Aku suka, boleh kubungkus dan kubawa pulang?” tuturku sambil tersenyum jahil padamu. Saat itu kamu turut tersenyum melihat tingkahku. Katamu aku menggemaskan, sedangkan bagiku kau mengagumkan.

Lagi dan lagi kau memperlihatkan tatapan sedihmu. Hey, aku sedang bahagia. Aku sedang menikahinya sekarang. Hebat bukan bisa menikah dengan bahagia? Jangan hancurkan pernikahanku dengan tatapan itu. Aku tidak suka!

Kau diam seperti biasa, sedang menikmati sandaran kepalaku di bahumu. Kau pernah bilang, sandaranku selalu membuatmu nyaman. Sesekali aku bergumam tentang lagu darimu. Kubilang berulang kali bahwa aku bahagia bisa bersamamu, dan kau hanya mengangguk. Ah, aku benar-benar bahagia. Bisa bersamamu adalah kebutuhan, bahkan sudah kuubah ke mana  tempatku berpulang. Bukan lagi rumah dengan keluarga, tetapi dirimu dengan segenap perasaan candu itu.

“Jiyeon-ah…,” desahmu untuk yang kedua kalinya.

“Jaehyun-ah, aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu. Aku sedang menikmati angin, nih,” kataku setengah merajuk. Tubuhku bergerak-gerak waktu bersandar kepadanya.

Tubuhmu yang sedang rileks langsung ditegapkan, kepalaku kau singkirkan. Angin sore itu menyibak piringan hitam yang tengah berputar di dalamnya.

“Maaf…,” ucapmu, yang berhasil membuat tanda tanya besar di benakku. “Ada yang perlu kau tahu. Aku tak bisa bersama denganmu lagi,” ujarmu lagi dengan wajah meyakinkan.

Air mukaku berubah keruh seketika. Banyak pertanyaan yang berjubel di bibirku sampai akhirnya hanya mengeluarkan gumaman yang tidak jelas. Aku membelai wajahmu yang kini mulai mendingin. Sakit kurasa setelah menyambar sel-sel kulitmu. Aku seolah disadarkan sesuatu.

“Kini tidak akan ada lagi mantra yang mampu menghadirkanku. Aku ya aku, kau ya dirimu. Dari awal aku hanya bersumber dari isi kepalamu.” Kau menatapku dengan tajam. Sejenak aku gagal mengerti dengan tatapan itu. Air dari pematangku berlomba-lomba untuk jatuh lagi. Tidak cukupkah gerimis memenuhi wajahku?

Lalu tangisku memenuhi seluruh wajah. Samar kulihat wajah itu tengah mendekat, tanganmu mengambil sesuatu dari telingaku. Sebuah headset yang entah sejak kapan sudah terjejal di sana.

“Itu bukan lagu dariku. Itu lagu milikmu,” tuturmu sangat pelan. Bahkan setengah berbisik. Saat itu pertahananku langsung runtuh di hadapanmu. Tubuhku gigil diterpa angin yang semakin kencang. Kausku yang tipis tak mampu menahannya. Kulitku rapuh setelah terkenanya.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu cerita ini?” Aku terisak di balik jemari tanganku, sedangkan tanganmu masih tak bosan membelai rambutku yang terjurai sampai ke puncak dada. Aku tersedu.

“Kembali ke kehidupanmu! Jangan menangis lagi, karena itu bukanlah kebahagiaanku,” terangmu lagi. Sudah kuhafal kalimat terakhirmu, terngiang teramat jelas di telinga ini bersama dentingan piano itu.

“Aku mohon tetaplah di sampingku. Sungguh ini bukan perpisahan yang indah.” Aku terus memohon dengan berderai air mata. Nyatanya kau tak mendengarkan, lantas pergi dibawa angin bersama bunga-bunga Dandelion. Ketika itu lagumu serta cerita-cerita tentang kita berputar di bola mataku bersamaan ketika aku menangis sambil terpejam.

Sakit! Perih! Nyeri!

Kemudian, yang kusadari setelah kepergianmu adalah saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu.

Aku bukan perdu, dan engkau bukan pandu lagi. Kita memang tak berkisah juga tak bercerita, kita hanyalah birama dalam gelas kosong. Engkau hanya mantra yang kubuat sendiri, kau hanya sebuah cerita yang tak kuketahui awalnya. Paduan indah yang kuwujudkan dan diam-diam kuhirup aromanya. Senyawa dalam kepalaku yang sering kali inginku kurengkuh wajahnya.

Kau mati, aku runtuh.

Nyatanya kau ada hanya ketika aku mati rasa.

Tulisan ini ditulis berdasarkan isi lagu The story I didn’t know oleh IU, namun ditulis dengan versi yang berbeda.

Pertemuan di Tahun Baru

Suatu hari di malam akhir Desember, seorang laki-laki sudah siap dengan satu buket tulip kuning digenggamannya.

“Olivia!” jelas terdengar suaranya yang tenor.

Sang pemilik nama menoleh. “Hey, Pram,” ucapnya dengan kepulan asap dari bibirnya. “Sudah lama aku menunggumu di sini,” lanjut gadis bermantel tebal itu.

Sambil terengah-engah Pram berusaha berucap. “Sudah kuputuskan, akan kugantungkan harapanku untuk memilikimu.” Ia menjawil hati Olivia dengan satu buket bunga dari genggamannya.

Gadis itu melihat sebuah harapan di mata Pram. “Jika ingin melihatku berdusta, maka aku akan menerimamu,” ujar Olivia dengan meninggalkan kecewa di dada Pram.

Sekali lagi dilihatnya mata itu, sudah tidak ada lagi harapan. Tinggal bersisa luka yang ingin ia gapai, lalu ia hempaskan.

Tubuh Pram beku. Bibirnya mencari-cari kalimatnya yang tiba-tiba hilang. “Kalau boleh kukasih saran, berdustalah untuk sekali saja. Setidaknya agar hati ini tak terasa nyeri.” Pram gemetar.

“Sayangnya, kau adalah sepupuku Pram. Mana bisa aku berdusta soal cinta. Maaf aku harus singgah dari hatimu. Sudah ada yang lain di hati ini,” tutur Olivia dengan mantap.

“Siapa?” Pram terluka, tapi tetap saja ia ingin tahu seluk beluk kehancurannya.

“George,” kata Olivia. Sejurus kemudian ia mulai melangkah, jauh meninggalkan jejaknya.

Di dalam kepala Pram ada semacam kembang api yang saat itu sedang menghiasi malam tahun baru. Tahun baru dengan luka yang baru. Lengkap.

Setelah kepergian Olivia, ia melewatkan malam dengan langkah yang tak punya tujuan. Pikirannya tak keruan, sesekali terlintas paras Olivia yang rupawan. Sebelum akhirnya tubuh yang tergopoh-gopoh itu ditabrak seseorang. Yang menabrak malah jatuh duluan, tubuhnya membentur ke deretan aspal di bawahnya.

“Maaf, sini kubantu.” Akhir dari sekian lamanya bibir itu pun menemukan kalimatnya. Tangannya mengulur ke arah sang gadis yang jatuh terduduk.

“Iya, maaf tadi aku yang tidak lihat,” kilahnya dengan bibir mengilap . Pram langsung meleleh.

“Boleh kau bayar maafmu dengan waktumu? Aku sedang ingin mengobrol. ” Pram mengerling. Dimatanya timbul secercah harapan baru.

Gadis dengan bandana merah itu mengangguk. Sama sekali di wajahnya tidak ada raut kegembiraan.

Pada sebuah kursi di depan air mancur, mereka terduduk. Beberapa menit tak ada yang melesakkan suara. Kecanggungan menghinggapi keduanya.

“Kau sedang sendiri?” tanya Pram, membuka percakapan.

Gadis itu mengangguk dengan satu botol minuman berakohol di genggamannya. “Sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Aku sedang bersama kecewa,” ungkapnya.

Pram hanya mengangguk lalu meneruskan ucapannya. “Aku juga.”

Gadis dengan bandana merah itu menaruh botol minumannya diantara mereka. “Kenapa?”

“Lima belas menit yang lalu aku baru saja patah hati.” Pram menekuk kepalanya.

“Lucu ya, sedangkan aku baru saja mematahkan hati seseorang,” ujar gadis itu setelah menerima jawaban dari Pram.

Diantara keduanya tidak ada kalimat yang terdengar lagi. Mereka tengah asyik menikmati percikan kembang api yang menghampar di langit Januari .

“Kalau saja dia menerimaku, pasti dia sedang bersandar di bahuku sekarang,” kata Pram dengan mata yang tak pernah lepas dari langit.

Gadis di sebelahnya langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Pram setelah mendengar harapan yang sudah runtuh darinya. Mata Pram langsung membelalak ketika menerima gerakan tiba-tiba dari gadis di sampingnya.

Ia bingung, akan mengatakan apa lagi ketika merasakan hangat di tubuhnya, ketika sel-sel kulit mereka hendak bersentuhan jika saja tidak terhalang oleh sebuah mantel.

“Takdir selalu membawamu ke jalan yang benar,” kata gadis itu setelah beberapa saat. “Kalau saja aku menerima cintanya mungkin kami sudah menjadi bahan gunjingan orang,” lanjut sang gadis.

“Memang kenapa?” Dahi Pram saling bertaut.

Butuh waktu lama untuk gadis itu angkat bicara lagi. Dan setelah kembang api ricuh di langit, ia kembali bersuara. “Kami sama-sama wanita,” tegasnya.

Pram melonjak, gerakan itu pun disadari si gadis. Sampai akhirnya ia terbangun dari sandarannya.

“Cinta ini terlalu dingin seperti salju. Tapi selalu ada kebahagiaan ketika kita sudah mencapai puncaknya. Seperti kembang api diantara salju itu,” terangnya lagi dengan panjang lebar. Pram hanya termangu mendengarnya.

Sejurus kemudian senyumnya merekah. Kalimatnya sudah buntu perkara cinta dan cerita beberapa menit sebelumnya. “Kau benar. Omong-omong, panggil saja aku Pram!”

Gadis disampingnya cekikikan, hujan di wajahnya mulai mereda.

“Aku George, Georgina!”

 

Purwakarta, 23 Juli 2014

 

 

 

Sebuah Luka yang Manis

Dalam kesedihan aku tengah terlelap bersama gigil. Mimpiku membawa pesan pada seorang pemuda. “Maaf, Bung, sampaikan pada luka bahwa aku tidak membutuhkannya lagi.”

Kata seseorang kepadaku. “Maaf, Nona, katanya luka masih ingin tinggal di dadamu.”

Sejenak aku terdiam, lalu menepuk dadaku berulang kali. “Berikan aku alasan kenapa luka tak mau singgah, dan kenapa luka memberi rasa sakit?”

Pemuda itu mengerjap. “Mungkin kamu sendiri yang mengundang luka, atau kamu yang mempertahankannya tanpa sadar. Jangan salahkan luka, Nona. Kadang-kadang kamu butuh luka untuk merasakan syukur. Jangan rasakan tapi syukuri!”

Mataku liar, tak terima dengan pernyataan pemuda di hadapanku. “Memangnya kamu siapa, bicara seolah tahu segalanya? Luka itu sakit, perih, nyeri. Kalau terus menerus dihinggapi kamu bisa mati. Mati hati,” kataku tak kalah menggebu.

“Aku adalah seseorang di balik luka,” tuturnya mantap.

Aku mengernyih. “Siapa? Lara?”

Pemuda itu tersenyum. “Bukan, Nona. Aku hanya seulas senyum yang setia menanti luka pergi.”

Aku mulai berkilah. Sama sekali pernyataannya belum bisa kuterima. “Bodoh! Kesetiaan dan kesiaan itu tak ada bedanya. Mereka saling berdampingan di atas cinta.”

“Kamu yang sebenarnya dibodohi luka. Cinta bukan segalanya, Nona. Jika kamu seorang pencinta, itu berarti kamu juga pembuat luka. Tidak ada yang hanya menjalani salah satunya.”

“Sampah! Kamu cuma bicara omong kosong!” lentingku dengan gigi yang gemeletuk.

“Omong kosong itu jika tak terbukti kebenarannya. Coba tengok hatimu, dari mana luka itu berasal?” tandasnya. Matanya menumbuk manik mataku dengan tajam.

Aku gelagapan. Pematang sungaiku beriak-riak, sisa hujan di wajahku terlihat jelas oleh pandangannya. “Aku…,” ucapku lirih.

Pemuda itu kembali berceloteh. “Jangan menengok kenangan pahit yang jauh di ranah luka kalau hatimu yang sedekat itu pun tak berani kau lihat! Sudah kukatakan kan? Masih ada aku yang setia menunggu luka pergi. Jangan khawatir!”

Skak!

Jemariku mulai berkeringat. Baru saja aku tertampar oleh kebenarannya yang begitu hunjam.

“Berarti kamu sedang menanti lukaku pergi?” kataku akhirnya dengan bibir gemetar.

“Lebih tepatnya aku sedang menanti digamit oleh bibirmu.” Seketika mataku menghambur, memenuhi wajahnya.

Tak bosan kupandangi senyum yang mulai merekah di sudut bibirnya yang sesekali kujeda dengan kedipan mata. Senyum itu menular pada bibirku yang sedari tadi terasa kelu, dihantam luka.

Sang pemuda angkat bicara lagi. “Bagaimana, manis bukan? Tersenyumlah selagi kamu mampu!”

Aku bergeming. Satu kata terakhir kulesakkan sebelum akhirnya kita saling merengkuh. “Bung, senyummu jatuh terus tuh. Awas nanti aku suka lho!”

 

Purwakarta, 22 Juli 2014

Gadis Secerah Mentari

Selagi mata kuning ditenggelamkan langit, aku masih sibuk dengan ponsel yang terhubung dengan kekasihku, Mia. Telingaku masih mendengarkan setiap omong kosongnya yang ingin minta putus, namun mataku liar pada sosok gadis tepat di depan mejaku.

Rambutnya yang terjurai sampai ke puncak dada, mengilat karena pantulan wajahnya yang secerah mentari. Aneh, wajahnya masih cerah, padahal tatapannya membayang sorot yang terluka pada segelas air di hadapannya.

“Udah bukaaa!” Bibir yang sedari tadi terkatup langsung terbuka lebar, matanya menyala-nyala ketika mengumandangkan itu.

Saat itu juga aku segera mengakhiri hubungan ponsel dan mematikannya. Mataku masih menumbuk wajahnya, sesekali kujeda dengan beberapa teguk es teh manis yang sejak tadi siang ingin kuuyup. Benar saja, ketika sampai ke kerongkongan, fokusku pada gadis secerah mentari itu menipis.

“Aw!” Aku terlonjak mendengar suara benturan yang dibarengi dengan lentingan tak kalah kencang dengan yang tadi.

Gadis secerah mentari itu, mengusap-usap kepalanya sambil merengut. Tangan lainnya, sibuk menggenggam sendok yang baru saja ia ambil dari lantai. Di hadapannya hanya ada semangkuk mie kari dan telur rebus serta beberapa bungkus kerupuk kulit. Kuahnya merah menggoda dengan potongan-potongan sayur kecil. Asapnya mengepul di wajahnya, aromanya terbang ke lubang hidungku. Tak bisa kubedakan antara aroma mie dan wajahnya, keduanya teramu begitu saja oleh udara.

“Sial!” pekiknya lagi sambil menghantam meja. Tubuhnya melorot, sampai kepalanya mencapai sandaran kursi. Diusap-usap perutnya yang terbalut kaus warna hitam bermotif sambil mengembuskan napas panjang.

Air putihnya tinggal seperempat, mie karinya tumpah sebelum ia benar-benar menghabiskannya. Lama, aku pandangi wajah itu sampai akhirnya kuputuskan bangkit dan memindahkan semua isi mejaku ke atas mejanya.

Sebelum angkat bicara kusempatkan berdeham agar matanya tak terkatup lagi. “Kita bisa makan bareng?” Mataku mencari-cari jawaban.

Setelah pertanyaanku berakhir dan mie yang tumpah itu dibersihkan, gadis itu segera menyantap makananku dengan lahap. Dimulai dari sate kambing yang kupesan sepuluh tusuk dan diakhiri dengan es teh manisku yang waktu itu baru keteguk sedikit. Sama sekali aku tak melahap apapun sejak maghrib tadi. Perutku sudah kenyang oleh kupu-kupu yang baru saja tumbuh dan berkembang di sana.

“Makasih,” katanya pendek. Sungguh aku meleleh setelah mendengar suara gadis itu, lebih merdu ketimbang saat ia berteriak.

Aku memberi jeda beberapa menit untuk mencairkan suasana. “Kulihat dari tadi kamu kayak lagi kesal?” tanyaku dengan telapakan yang sudah basah.

“Aku  baru kecopetan tadi. Maaf nanti biar kuganti deh, makananmu,” ungkapnya. Bibirnya gemetar saat menyelesaikan kalimatnya.

Aku hanya terdiam. Bingung dengan kata yang akan kulesakkan lagi.

“Kenapa kamu nggak buka? Kamu nggak puasa?” tanyanya lagi dengan sekelumit pertanyaan yang membuatku melonjak.

“Eh, aku puasa, kok. Udah tadi, sebelum aku ke meja kamu,” kataku buru-buru.

Iya, sudah dengan satu paket menu dari wajahmu. Batinku.

Aku termenung sebentar, menikmati setiap jengkal wajahnya yang tak ingin kuakhiri.

“Boleh kutukar makananku sama nomer Hp-mu?” Aku sesak menahan dadaku yang semakin menggelegak. Bayangan Mia sering kali lenyap ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini.

Gadis itu malah termangu, mungkin kaget dengan ucapanku yang tiba-tiba menyambarnya dengan sebuah permintaan.

Saat itu aku disadarkan oleh sesuatu.

“Oh ya, aku Dika. Nama kamu siapa?” tanganku menjulur di atas piring-piring yang sudah hampir kosong.

Gadis secerah mentari itu membalas uluranku dengan remah kerupuk yang masih menempel di sekitar bibirnya. “Namaku, Mentari!”

The End

 

Purwakarta, 16 Juli 2014

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan menulis  #DeskripsiBakso di @kampusfiski

Jumlah kata: 518 kata

Jumlah kata” lalu, lantas, kemudian, terus”: Tidak ada

Makan Angin

Petang baru saja menyapa ketika seorang gadis sudah lama terduduk di trotoar. Sepuluh keping uang lima ratusan telentang di telapak tangan kusamnya, hasil yang ia dapat seharian penuh setelah menjual suara cemprengnya  di depan lampu merah. Hidungnya liar, menghirup aroma jagung bakar, nasi goreng, dan juga sate. Kepulan asapnya mengocok perutnya tanpa ampun.

“Mbak!” tutur gadis yang sedang digandengnya, ia seolah mengisyaratkan sesuatu. Tangannya tak kalah kusam dari sang Kakak.

Tangan yang sama besarnya itu saling menggenggam melewati lalu-lalang pasar di sekitarnya. Beberapa menit kemudian mereka sampai ke tempat peristirahatannya yang sudah ia singgahi sejak lama. Beberapa lembar kardus yang disebar di depan toko yang sudah tutup.

“Mbak, cepet pulang ya!” kata adiknya sambil menjawil kaus Kakaknya yang sudah sobek.

Sang Kakak menyahut, “Iya,” lalu di selingi dengan anggukan.

Kakinya merangsak lagi sampai ke lalu-lalang tadi. Tak ada yang berbeda, kepulan asap dari masing-masing penjual makanan menjejal hidungnya kembali sampai ia kepayahan membedakannya dengan oksigen. Kepingan uang tadi masih ia genggam, begitu erat di telapakannya yang mulai berkeringat.

Satu persatu ia amati bagaimana para penjual meracik dagangannya, satu persatu pula ia hirup aromanya.

“Mau beli berapa bungkus, Dek?” tanya seorang laki-laki paruh baya setelah ia sampai di depan gerobaknya. Aroma nasi di bakar langsung menyembul dari wajan.

“Satu berapa, Pak?”

“Sepuluh ribu, pake sambel atau nggak?” Si Bapak mengambil suara lagi.

Diliriknya kepingan uang digenggamannya, hanya sebesar lima ribu rupiah. Cepat ia menggeleng. “Maaf Pak, nggak jadi,” ucap gadis itu sambil meninggalkan gerobak penjual nasi goreng.

Kembali ia menyusuri jalan demi mendapatkan sesuap nasi untuk dirinya dan juga adiknya. Desau angin malam itu memantik sela-sela rambutnya yang lusuh.

Sesekali ia menelan salivanya sendiri. Sudah lama ia merasa lambungnya kembung, sejak adzan maghrib satu jam yang lalu.
Matanya menghambur, lalu jatuh dan menumbuk ke lesehan dekat tukang penjual bakso. Perutnya bergejolak lagi ketika aroma daging sapi mengoyak lambungnya.

“Bu, nasi sama tempe berapa?” tanya gadis itu dengan perhatian masih kepada daging sapi yang selesai digoreng dan sekarang dicampur dengan bumbu cabai yang sudah dihaluskan.

Ibu-ibu yang diajak bicara sedang memasukkan beberapa cukil nasi ke dalam daun pisang lalu menaruh dua buah tempe di atasnya. “Enam ribu, Dek,” katanya tersenyum manis sambil memberikan nasi yang sudah dibungkus kantung plastik.

Air muka gadis itu berubah keruh. Harga nasi itu tidak sesuai dengan recehan yang akan ia tukarkan.

“Maaf, Bu saya cuma punya lima…,” kata gadis itu terbata. Kantung itu ditarik lagi, ucapannya dipotong oleh ibu-ibu penjual nasi yang tadi tersenyum manis, sekarang berubah masam.

“Ah, pergi sana! Kalo nggak punya uang jangan beli nasi di sini.’ Kali ini suara ibu-ibu bertubuh tambun itu melenting. Tangannya menunjuk-nunjuk ke depan muka si gadis.

Dari jauh, di belakang penjual tukang bakso, seorang anak laki-laki tengah menatapnya penuh iba. Kepalanya tertutup peci, tubuhnya berbalut mantel yang tidak terlalu tebal, namun sama kumalnya dengan pakaian yang sedang dipakai sang gadis.

Gadis itu terisak, perutnya sudah tidak bisa menahan rasa lapar yang semakin lama menjadi perih. “Besok saya bayar sisanya, Bu! Saya janji!” pinta gadis itu sambil berlutut. Namun sesekali matanya berkeliaran ke sosok anak laki-laki yang masih memerhatikannya.

“Anak zaman sekarang bisanya cuma janji-janji, besoknya udah nggak bisa dipertanggungjawabkan lagi ucapannya. Saya nggak akan ketipu lagi ya, bagi saya lima ratus perak pun juga berarti!” terang ibu itu dengan suara yang membara. Beberapa pedagang meliriknya dengan tatapan tak suka, tapi tak melakukan apapun. Hanya menyaksikan adegan peradegan gadis itu dibentak-bentak.

Sudah tidak ada lagi balasan dari mulut gadis itu, lidahnya rasanya kelu untuk memohon-mohon lagi. Akhirnya ia mulai beringsut, menghampiri anak laki-laki yang sampai sekarang masih mengawasinya.

Ia perhatikan baik-baik, dari kaki sampai ke kepala, tidak ada yang menarik. Semuanya terlihat lusuh sama seperti dirinya. Tubuhnya kurus kering dengan bibir pucat pasi.

“Kenapa kamu ngeliatin terus?”

Anak laki-laki itu tak menjawab, hanya menatapnya, lalu menitikkan air mata. Satu, dua tetes, lalu semakin lama semakin berderai tanpa henti. Tangannya menekan-nekan perutnya di balik mantel.

“Kamu kenapa?” Gadis itu kelabakan sendiri.

“Aku lapar…,” kata anak lelaki itu, lalu terisak lagi.

Aku juga! Batin si gadis.

“Udah dua hari ini aku nggak sahur dan berbuka, perutku sakit banget.” Anak lelaki itu mengerang dan terus menekan perutnya.

Melihat rintihan anak lelaki di hadapannya, gadis itu menangis. Dengan mantap bibirnya gemetar berucap, “maaf aku juga lapar,” katanya sambil merangsak pergi, mengembara dan mencari makanan lagi.

“Bakpaonya…, bakpaonya…, masih hangat…, masih hangat,” lenting seorang lelaki dengan wajah yang sudah mengendur. Tubuhnya rendah, sepantar gerobaknya.

Gadis itu langsung berlari, kepingan uangnya masih ia genggam dengan erat, tak memebiarkan satu pun menceus diantara jemarinya.

“Pak, bakpaonya berapa?” tanya gadis itu penuh pengharapan.

“Murah kok, Neng. Cuma dua ribu lima ratusan. Mau beli berapa?”

Senyum si gadis langsung merekah. “Dua aja, Pak.”

Langkah yang tadinya gontai berubah tegas karena kantung plastik yang menggantung di jemari tangannya. Akhirnya, hari itu ia bisa berbuka dengan segumpal karbohidrat, tidak dengan air mineral seperti biasanya. Sejurus kemudian langkahnya tertahan setelah sampai di depan ibu-ibu penjual nasi yang tadi ia lewati. Mata ibu itu mendelik ke arah si gadis, anmaun ia hiraukan.

Ia lihat anak lelaki itu masih terduduk di sana, dengan tangan yang memeluk lutut. Kepalanya ambruk ke sela-sela kakinya. Dengan sedikit nyeri di dadanya ia mengahampiri anak itu lagi.

“Nih,” kata gadis itu setelah mengeluarkan satu buah bakpao dari kantung plastiknya.

Telapak tangan anak lelaki itu gemetar setelah bakpao menyentuhnya.

“Kamu udah makan?” tanyanya dengan bakpao yang sudah memenuhi mulut.

“Udah tadi,” jelas gadis itu sambil tersenyum. Dadanya sudah tidak terasa nyeri lagi seperti tadi. “Makan angin,” lanjutnya. “Daaah.” Gadis itu melambai-lambai dan meninggalkan anak laki-laki itu bersama satu buah bakpao di mulutnya.

Beberapa meter kakinya telah menjauh dari pasar. Kantung plastik itu terombang-ambing oleh lengannya. Beberapa kali ia ingin melahap bakpao itu, namun napas panjangnya segera menghentikannya.

“Dek, nih, Mbak bawa bakpao,” kata gadis itu pada deretan kardus yang tertindih tubuh kecil seseorang. Adiknya terlonjak setelah mendengar suara Kakaknya.

“Mbak udah pulang! Kok bakpaonya satu? Mbak udah makan?” tanya adiknya buru-buru.

“Udah kok, sekarang kamu buka puasa dulu ya!” ujar si gadis sambil membelai rambut Adiknya.

Adiknya menggeleng. “Mbak aja yang makan, aku udah kenyang. Tadi ada yang ngasih aku makan, Mbak!”

Sang Kakak membelalak. “Siapa?”

Adiknya gelagapan. “Nggak tau, tadi ada anak laki-laki pakai mantel bawain aku dua buah bakpao.”

Kakaknya tercengang. Batinnya sedang menangis sekarang.

“Mbak, bener udah makan?” tanya adiknya lagi tanpa mengerti dengan batin Kakaknya yang sedang kebingungan.

Lalu kakaknya mengangguk. “Udah, makan angin!”

 

The end

Purwakarta, 13 Juli 2014

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan menulis #EkspresiPuasa di @kampusfiksi