Lovember

Bukan maksudku mau membagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Cinta tercenung saat membaca deretan kalimat itu setelah dua belas tahun lamanya bersarang di lemari. Kumpulan-kumpulan kalimat lainnya yang sudah ia salin waktu itu masih sering ia tengok sampai ujung kertasnya lecek dan hampir sobek. Terutama kalimat yang diucapkan oleh Chairil sewaktu jalan di pantai.

Jika membaca lagi buku itu ia seakan kembali ke masa-masa itu. Ketika ia masih bersama Rangga dan saling berbagi kisah dengannya. Lalu sesuatu seperti nada pesan masuk membuatnya kembali ke masa sekarang.

Alya:

Ta, kayaknya besok gue nggak bisa nganter nyari buku deh. Gue ada urusan penting. Tapi besok gue tetep dateng ke acara kita, kok.

 

Me:

Hmm, nggak apa-apa. Gue besok sendiri aja. Yang penting kalian sama yang lain dateng ya!

 

Cinta mematikan ponselnya. Matanya menerawang jauh ke depan pada hujan pertama yang turun di bulan November. Tangan kanannya dipakai untuk menopang dagu, sedangkan yang lainnya memainkan sebuah pensil.

Sudah berapa kali purnama kamu tidak pulang, Rangga?

Ponsel itu bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk yang berhari-hari selalu ia hindari. Andre, rekan sekantornya.

Dering-dering berikutnya membuatnya putus asa. Ia sudah hafal jika di jam-jam segini orang itu menghubunginya, bukan masalah kantor lagi yang akan ia bicarakan. Berulang kali Cinta menolak laki-laki itu, tetapi dia tidak pernah putus asa dan malah tambah tergila-gila dengan Cinta.

Cinta mengembuskan napas panjang setelah panggilan itu berhenti. Tangannya buru-buru mencari nomor Max dan menghubunginya.

“Hallo? Max, bisa tolong kirimkan dokumen dari Bu Hana ke saya sekarang?” Cinta langsung berkoar setelah hubungan telepon itu tersambung.

“Maaf, dengan siapa?”

“Lho, ini bukannya nomor Max? Kamu siapa?” Cinta menyelipkan rambutnya ke telinga sambil mengerutkan dahi.

“Saya baru saja menemukan ponsel ini di jalan. Sepertinya jatuh. Kalau kamu temannya bisa tolong berikan ponsel ini lagi ke dia?”

Cinta mnggigit bibir bawahnya sambil melirik buku karya Sjumandjaya di mejanya. Matanya pindah ke luar dan menumbuk kumpulan hujan yang menipis, tetapi masih membawa hawa dingin. Kapiler darahnya saat ini benar-benar terasa beku.

“Baiklah.”

Setelah mengetahui keberadaan si pemilik suara berat teman mengobrolnya tadi Cinta langsung bergegas dan mencari orang itu di depan toko buku. Ia berpikir, kenapa tidak sekalian mencari buku saja ya? Cinta melipat payung, lalu masuk dan mecari beberapa kumpulan cerpen. Saat itu ponselnya berbunyi lagi.

“Maaf, tadi saya ke supermarket sebentar. Kamu sudah sampai?”

“Saya sedang di dalam. Sebentar lagi saya keluar.”

Cinta mengambil beberapa buku lalu pergi ke kasir tanpa mengantre. Lalu tangannya mendorong pintu sambil melangkah. Namun, ia tidak benar-benar keluar dengan mantap. Kakinya terhenti di tengah-tengah pintu itu karena keberadaan seorang laki-laki berpipi gempal sedang menahan tubuhnya untuk melangkah lagi.

“Apa kabar, Cinta?” Hari itu hujan turun lagi dengan lebatnya. Meski ada banyak perubahan laki-laki di hadapannya masih saja sangat ia hafal parasnya.

Cinta diam sejenak. “Saya pikir kamu tidak akan pulang. Saya pikir kamu lari.“ Ia mengela napas panjang, lalu melanjutkan, “Harusnya dulu saya tanya, kamu akan pulang  di purnama yang ke berapa?!”

Rangga tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah ponsel. Bibirnya menggumamkan sesuatu.

“Haruskah kulari ke hutan lalu belok ke pantai kalau di depan saya ada cinta?”

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam #KisahNovember @Kampusfiksi

 

Advertisements

The Boy in The Sun (2)

Di bawah meja berpayung dan burger yang baru digigit sedikit, Cath menaruh pandangan kaget. Belum lama ini laki-laki yang senyumnya bagai mentari sedang mengganggunya dengan sikap dan sorot mata yang sudah mulai ia hafal. Levi, laki-laki itu adalah orang pertama yang menarik hatinya selain Simon Snow. Cath dibuatnya tercenung dengan kalimat, ‘Aku pacarnya’ kepada seorang gadis yang barusan berjalan dengan muka masam ke arah mereka, dan sekarang sudah menjatuhkan bokongnya dengan kasar.

“Lev, kau mau membuatku membencimu?” Seorang gadis bernama Reagan melipat tangannya di atas meja sambil melotot kepada Levi. Dan respon laki-laki itu hanya tersenyum. Senyum yang sama yang diberikannya kepada Cath beberapa waktu lalu. Setelah itu mata Reagan mendelik, “Jadi kau yang bernama Cath?”

Cath mengangguk tanpa mengulurkan tangannya. Begitu pun yang dilakukan Reagan, ia hanya menyebutkan namanya lalu fokus kembali kepada Levi. Demi Tuhan! Cath ingin pergi dari tempat itu segera.

“Kau harus berhati-hati. Gadisku ini berbahaya, Cath. Suatu hari nanti kau akan merasa tidak nyaman dengan mukanya ini.” Levi terkekeh sambil melirik Reagan.

Gadis yang disinggung Levi langsung memukuli dan menghunjaminya dengan tatapan tajam. Cath hanya bisa menunduk dan mempererat genggaman burger di tangannya. Sebenarnya sejak pagi sampai kedatangannya ke Pound Hall ia belum menyentuh sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sekarang setelah ia benar-benar ingin memakan sesuatu, dua orang di depannya malah merusak hal tersebut dengan tawa yang terdengar hambar di telinga Cath.

Ah, sekarang aku ingin menulis!

Cath biasa mendesah seperti itu jika sedang merasa bosan. Sebenarnya, kapan pun  ketika ia merasa seperti itu hanya menulislah yang membuatnya tersenyum lagi. Simon Snow, yang selalu ada di pikirannya mampu menutupi semua perasaannya biarpun hanya sementara.

“Cath, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat, lho.” Lamat-lamat Levi menatap Cath sambil menekan pundaknya.

Sentuhan tiba-tiba itu mampu membuat Cath bergetar dan pipinya memerah.  Di saat seperti ini ia selalu tidak mau sekelompok kupu-kupu berkumpul di mana-mana. Perut, pipi, pencernaan, di mana pun itu ia tidak mau. Karena baginya kupu-kupu dalam purutnya hanya akan menggelitiknya saja lalu lama-lama akan membuatnya ketergantungan.

“Hey!” Reagan mendelik lagi.

“Aku harus mengantarnya kembali ke Pound Hall. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Ingat ya, kau harus menjaga teman sekamarmu ini!” Levi bangkit sambil mengusap puncak kepala Reagan.

Cath ikut-ikutan bangkit dan menggeleng cepat. “Tidak usah, lagian aku memang ingin kembali ke Pound Hall. Barang-barangku kan belum dibereskan.” Ia tersenyum kaku sambil meninggalkan kedua orang itu.

Napasnya naik turun saat meninggalkan Pear’s. Cath adalah tipe orang yang selalu menyendiri dan sibuk dengan Simon Snow seharian penuh. Bahkan karena hal tersebut tidak ada laki-laki yang benar-benar dekat dengannya karena Cath selalu menjaga jarak. Tapi setelah laki-laki itu memandangnya sambil tersenyum, hal yang selalu ia takutkan seperti kupu-kupu dalam perut, sekarang benar-benar terjadi kepadanya. Cath menyukai laki-laki yang bisa menyengatnya sampai ke ubun-ubun seperti yang dilakukan Levi. Ia menyukainya.

“Cath!” Suara Levi melengking. Bahkan Cath tahu suara itu walaupun ia tidak berbalik atau berhenti untuk menyakinkan.

Jangan berbalik! Kalau berbalik kau akan kalah dan kalau itu terjadi kau tidak bisa berhenti lagi walaupun hanya selangkah. Tidak bisa berhenti menyukai Levi, pacar Reagan.

“Cath!” pekik Levi sekali lagi.

Cath mengembuskan napas panjang sambil memantapkan langkahnya. Cinta pada pandangan pertama memang merepotkan. Sekarang aku benar-benar terpengaruh oleh senyumannya, segera dengan suaranya bahkan.

Levi duduk lagi sambil menilik wajah Reagan. “Dia kenapa ya?”

“Sebenarnya kau ingin apa? Aku sedang sibuk dan kau menyuruhku ke sini hanya untuk menemuinya?! Aku bahkan akan menemuinya setiap hari.” Reagan selalu tidak bisa berhenti menunjukkan muka masamnya.

“Sepertinya dia percaya.” Levi mengusap-usap dagunya.

“Percaya apa?”

“Kalau kau pacarku.”

Fanfiction ini diikut sertakan dalam #KuisFangirl yang diadakan oleh @NovelAddict_ bersama penerbit spring dan Haru

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Sekali Lagi Ada Bunga di Senyummu

Cinta pertama. Dua buah kata itu yang terlintas ketika aku menemukan wajahmu di setiap buku harian yang isinya kebanyakan tentangmu. Semua teman-teman, keluarga, sampai kucing darimu juga tahu bahwa dulu kita pernah menjalin kasih. Dahulu.

Cinta pertama. Ketika aku mendengar kata itu pikiranku selalu bekerja lebih cepat dari biasanya. Suatu ketika di ruang duduk ketika aku sedang membuka lembaran foto alumni SMA, aku diingatkan sesuatu. Setiap kali mencintaimu selalu ada pemikiran yang sejatinya kamu setujui. Mencintai itu seperti sedang ditelanjangi di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat. Cinta itu tanpa alasan bukan? Mencintai ya mencintai saja.

“Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan cinta.” Kadang kamu sering menyela dengan kalimat itu. Dan aku hanya bisa senyum-senyum sambil menatapmu lamat-lamat.

“Terus?”

Aku berusaha mengulik sesuatu dari pemikiranmu. Barangkali aku bisa mencari celah untuk mengetahui kedalaman perasaan itu.

“Tapi bisa saja definisi kamu sedikit menggambarkannya.” Kamu ikutan tersenyum alih-alih malah membuatku tambah gemas. Kamu hanya membolak-balikkan kalimatku. “Tapi, perihal cinta pertama apa kamu tahu?” Kamu membuat pandanganku naik ke langit-langit. “Cinta pertama itu…” Kamu nampak sedang berpikir, lalu meneruskannya, “Seperti ditelanjangi  di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat untuk pertama kalinya,” katamu yang disudahi dengan tawa sambil menjawil daguku.

“Itu sih kalimat aku.” Aku bersandar di sofa sambil memandang langit-langit lagi. Saat itu aku sadar gerak-gerikku tidak lepas dari pandanganmu.

“Cinta pertama adalah kamu. Manis. Cantik. Hangat. Lucu. Berisik. Cinta pertama itu kamu, sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan.” Penjelasanmu berhasil membuat tubuhku tegak lagi.

Sebelum menjawab pernyataannmu aku menyesap kopi yang sedari tadi aku biarkan sampai mendingin. Setelah aku menaruh cangkir Mama datang dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar. Aku mengangguk dan memandang kamu lagi.

“Kenapa?” Kamu tersenyum sambil melihat aku yang turut tersenyum.

“Kamu tahu? Cinta pertamaku itu tidak terdefinisi. Yang aku tahu, aku selalu kepayahan menahan sesuatu yang menggelegak di sini.” Aku menepuk dadaku.

Biasanya kamu selalu penasaran kalau aku tidak memberi tahu apa maksud dari sesuatu hal atau jadi marah ketika aku ingin tahu foto kanak-kanak yang ada di dompetmu. Tapi kali ini kamu hanya tersenyum dan tersenyum.

Lalu definisi itu berakhir ketika semuanya terasa salah. Ada satu dan lain hal yang membuatku tak bisa merasakan apa-apa. Biasanya apa pun yang terjadi di antara kita dan pertengkaran yang hanya berdurasi tiga menit, senyumanmu mampu menjadi hiburan tersindiri saat-saat itu. Ada yang bilang cinta pertama tidak akan berhasil. Sekarang aku memercayainya. Definisi-definisimu yang waktu itu juga hanya perasaan sesaat saja.

Aku mengembuskan napas panjang ketika sudah kembali dari delapan tahun silam. Mataku menilik jam yang sedang menunjukkan pukul tujuh kurang. Seharusnya lima belas menit lagi acara reuni SMA ini akan segera di mulai.

“El, Ellen!” Temanku Tia menjawil lenganku sambil menunjuk sesuatu dengan dagunya. Aku mengekorinya dengan cepat dan akurat. Tatapanku jatuh ke sebuah meja bundar dengan gelas warna-warni di atasnya yang di depannya ada seorang laki-laki yang dulu sering aku katakan kepadanya bahwa aku mencintainya.

Jarak kita teramat jauh tapi aku bisa melihat dengan jelas pipimu agak gempal dan tubuhmu semakin jangkung. Aku menahan saliva yang tidak masuk ataupun keluar dari tenggorokan.

“Andi!” Tia menjerit sampai teman-teman yang lain memandang ke arah kami. Aku hanya bisa mengusap-usap tengkuk sambil bersembunyi di tubuh rampingnya. Kamu yang telah menerima sebuah lambaian langsung berjalan ke arah kami sambil membawa dua gelas minuman.

“Apa kabar?” Ia bukan sedang berbicara kepada Tia. Dia sudah menghilang di menit ketika kamu melangkahkan kaki. Anak itu memang sengaja melakukannya. Dia senang mengerjaiku dengan hal-hal semacam ini.

Aku apa kabar? Mungkin baik mungkin saja tidak. Sebenarnya aku ingin menjawab seperti itu, tetapi yang keluar hanyalah, “Hmm, baik.” Sambil mengangguk kikuk. Lalu ada keinginan untuk menambahkan kalimat seperti, “Apa kamu juga baik?” Tapi malah helaan panjang yang terdengar. Aku memang payah.

Kamu menyodorkan salah satu gelas kepadaku, lalu yang satunya kamu teguk sendiri. Kamu juga sepertinya terlihat canggung, tetapi kamu selalu pandai menyiasatinya.

“Apa ada yang mau kamu katakan?” Wajahku naik dan mendapati matanya yang entah sedang berbicara apa.

“Apa kamu tidak punya?” Aku menurunkan wajahku lagi.

“Aku ada,” ujarmu, lalu meneguk isi gelas itu sampai habis dan menaruhnya di meja. Kala itu aku kesusahan menarik napas dengan dua buah kalimatmu..

Aku mengangguk sambil bergumam, “Apa?”

“Waktu itu, ketika kamu tidak mencegahku untuk pergi, aku sudah memutuskan untuk kembali lagi ke kamu. Tapi setelah tahu kenyataannya, kamu sudah tidak di posisi semula lagi.” Sekarang kamu menggulung kemajamu sampai ke siku. Bolehkah kurasakan hangatnya tangan itu lagi?

Aku terdiam sejenak sambil memainkan kuku yang dicat warna pastel. Entah Sudah yang ke berapa kali aku mengangguk. Saat kalimat itu berakhir aku melakukannya lagi. “Kamu masih ingat tentang definisi cinta pertamamu yang waktu itu?” Sial, Aku malah memancingmu ke masa lalu.

Sebelum kamu menjawab, orang-orang ribut mengerumuni sebuah papan yang isinya foto-foto sewaktu SMA. Ada juga yang iseng memasang foto memalukan sewaktu mereka masih kecil. Saat itu sesuatu terlintas, apa ada fotomu yang dulu tidak boleh kulihat?

Kita berjalan menuju dinding itu sambil melanjutkan kalimat tadi yang sempat terjeda. “Hmm, aku masih ingat. Definisi itu tidak aku ubah sampai sekarang.” Kamu membuat jeda, lalu menumbukku dengan satu buah pernyataan. “Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?”

Waktu itu langkah kita berhenti karena sudah sampai di depan papan yang tak banyak dikerumuni orang lagi. Aku senyum-seyum sendiri saat melihat foto delapan tahun yang lalu yang saat itu gayaku masih terlihat kuno. Lalu mataku liar mengamati setiap foto itu satu persatu. Adakah foto masa kecilmu di sana?

Aku melirik wajahmu yang sedang tersenyum. Sekali lagi ada bunga disenyummu. Kamu bahkan masih terlihat manis saat ada rambut-rambut halus yang sekarang bisa kulihat dengan jelas.

“Ketemu!” Seseorang di sebelahku berteriak sambil menunjuk sebuah foto SMA-nya. Tapi fokusku bukan pada foto itu, melainkan foto yang ada di atasnya. Kamu juga sadar dengan foto itu dan segera menyambarnya, tetapi tanganku sampai duluan sehingga kamu malah mengenggam tanganku.

Aku mohon lepaskan! Dan kamu malah menikmati fantasi itu. Aku gemetar tapi tidak berupaya melepaskannya. Aku kadung nyaman sih. Lalu aku menarik foto itu dan memerhatikannya lamat-lamat. Kamu kecil dan dewasa sama-sama terlihat manis. Di sebuah tempat rekreasi kamu nampak sedang memakan kembang gula yang tangan sebelahnya dipegangi oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan berbaju cokelat. Aku masih hafal itu adalah Papa kamu.

Di belakang kalian ada sebuah bianglala yang sedang berputar. Namun, lebih dekat sebelum bianglala itu ada banyak orang-orang yang sedang mengabadikan momen bersama keluarganya termasuk gadis kecil yang sedang digendong oleh Mamanya. Aku tergelak sekaligus tidak percaya. Bahkan jauh sebelum masa-masa SMA itu aku dan kamu sudah dipertemukan.

Kamu merampas foto itu dan memasukannya ke dalam dompet. “Jadi, apa yang mau kamu katakan waktu itu?”

Aku menatapmu sambil bergeming.

Harusnya pertemuan-pertemuan itu tidak pernah ada. Sekarang, jika ditanya seperti itu aku hanya mampu merunutnya di dalam hati. Walaupun begitu aku masih merasa semuanya terasa salah.

Laki-laki dalam foto itu juga Papaku. Haruskah aku katakan itu? Sebenarnya ada yang perlu kamu tahu, waktu itu aku memang sengaja membiarkan cinta pertamaku pergi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event menyambut terbitnya Novel baru karya @ninnakrisna terbitan @grasindo_id

B1QOzsmCcAAJN8K

Never Let Go oleh Ninna Rosmina

Mencintaimu Ada Caranya

“Sha, ini di mana?”

Kamu yang mukanya ketus sekarang benar-benar telihat lucu. Kepalamu tidak mau diam saat  melontarkan itu. Dan ada sesuatu yang mampu mengalihkan penglihatanmu selain aku. Julangnya menara itu seolah berkata, ‘Aku lebih indah dari gadis itu’.”

“Aku tidak tahu. Seharusnya kita berada di tempat Mr. Smith.” Aku memasang ekspresi kebingungan. Sebenarnya aku hanya ingin mengerjaimu saja, tetapi kamu benar-benar tidak tahu Eiffel. Ya sudah, kuteruskan kisah terdampar ini.

“Hubungi Risa! Siapa tahu dia sudah sampai.” Aku merengut dan mengatakan baterai ponselku habis. Aku tidak suka caramu mengucapkan nama kekasihmu. Hangat.

Tidak kehabisan akal, kamu menyuruhku menggunakan telepon umum, dan aku menyerah. Sambil menunggu kedatang Risa kita memandangi kumpulan burung yang beterbangan setiap kali ada orang melintas, lalu tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas di kepalaku.

“Kamu mencintai Risa?”

Kamu menoleh sambil merengut. “I love her so much.”

Aku mengigit bibir bawahku. Berulangkali aku mendengar kalimat itu dan telingaku masih saja sakit.

Jamak rasanya ketika diri sendiri masih terbelenggu dengan pemikiran bahwa kamu memang begitu. Jahat dan tidak mau peduli, tetapi aku masih memaklumi, dan kamu mengulanginya lagi. Harusnya aku merasa jengah dan pergi berbekal amarah tanpa ada satu pun kenangan yang kubawa atau kucabuti. Ah, mungkin nanti hanya aku yang akan diracuni mimpi tentangmu lagi. Tentu kamu tidak akan pernah merasakan karena sedari awal kamu tak memberi dan kita tidak saling berbagi. Saling membutuhkan atau melepaskan. Makanya di kehidupanmu tidak ada yang namanya luka. Sepertinya hanya aku yang mengalami masa-masa sulit ini.

Dan rupanya mencintaimu ada caranya. Diam-diam.

[ Diikutsertakan dalam #PestaFF yang diadakan @NBC_IPB dan @novellianaapsari ]

Leonardo & Samantha

Bila kau merasa tidak bahagia dengan seseorang yang baru, kau boleh berbalik dan temui aku. Di penghujung jalan ini aku selalu setia menunggumu.

Aku selalu saja terkikik dengan kata-kata lelaki itu saat terakhir kali kami saling jumpa di depan pelataran gereja yang semula adalah tempat pertemuan pertama kami. Lucu memang, kami memulai dan mengakhiri di tempat yang sama. Bukan semata-mata ingin memiliki momentum yang unik. Coba bayangkan! Bagaimana bisa perpisahan antara sepasang kekasih boleh disebut cerita unik karena latar tempat berakhirnya? Semuanya omong kosong. Cinta itu hilang saat kami mengakhirinya di sana.

Di depan pelataran gereja itu, aku memandang sekilas bayangan dua orang yang sedang beradu argument karena segelas kopi tumpah di kemeja sang gadis. Lelaki itu tetap keras kepala tidak mau mengakui kesalahannya sampai-sampai aku harus berbicara lebih keras darinya, padahal aku tahu dari wajahya saja umurnya lebih tua dariku. Di akhir perdebatan panjang, ia meminta maaf dengan kening berkerut. Tentu aku tahu ia terpaksa. Tapi aku tak mau memperpanjang masalah, yang penting ia sudah meminta maaf. Tak lama setelah itu ia mampu mengejarku sampai ke halte.

Di depan halte ia seperti orang kebingungan. “Mana nomor HP-mu! Bajumu biar aku ganti!” katanya setelah jeda lumayan lama.

Ah, sialan. Begini, nih, mau minta nomor ponsel saja alih-alih malah menjadikan perdebatan tadi sebuah kesempatan. Tapi setidaknya ia masih punya sopan santun.

Memori masa lalu itu terputar kembali. Berulang kali pula aku merutuk diri. Hallo, Samantha, you must go move on!

Jengah memandang terus ke gereja yang julang itu, aku segera beranjak dan membawa satu buntel dokumen yang harus aku serahkan kepada manager hari ini. Ah, manager-ku itu betul-betul menyebalkan. Mentang-mentang aku karyawan baru, selalu saja aku yang menjadi korban antar-antar barang.

Kuperhatkan jalanan sedikit lengang. Sudah mau akhir pekan aku masih saja bekerja dan bekerja. Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja.

Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja! Aku selalu saja mempertegas kalimat itu. Seperti aku dan Ethan tidak punya hubungan apa-apa saja.

“Hati-hati, dong!” Seseorang melenting ketika aku menubruknya di depan kantor.

“Maaf… Maaf!” Aku membungkuk beberapa kali, sampai-sampai tumpukan dokumen itu mau ambruk.

Demi Tuhan! Hari ini benar-benar hari terburukku.

“Orange?”

Aku membelalak. Satu-satunya yang memanggilku dengan nama buah itu hanya Leo. Leonardo Hannes. Mantan kekasihku lima tahun yang lalu. Wajahku naik dan mengamati laki-laki itu. Ia masih terlihat sama, hanya saja ada rambut-rambut tipis yang mengelilingi dagunya. Leo juga bertambah tinggi beberapa senti.

“Benar kan, kau Orange?”

Aku mengangguk kikuk. Selama ia memandangku, aku tak berkata apa pun, yang jelas pertemuan ini benar-benar mengejutkan. Aku jadi tidak berani memikirkannya lagi kalau setiap kali aku membayangkannya  saja dia tiba-tiba muncul.

“Kau bekerja di sini?” tanya dia lagi.

“Hmm.” Aku mengangguk sambil masuk ke kantor. Kami jalan beriringan saat mencari elevator.

“Kau juga?”

“Hmm.” Ia ikut-ikutan bergumam.

Selama di dalam elevator kami tak saling berbincang. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan sejak lama.

“Kenapa kau memanggilku Orange, bahkan sampai sekarang?”

Leo diam sejenak.

Orange is sweet, sour, and fresh. Orange is a something that I love much more. I am without it not something. Kata Leo sambil tersenyum.

Aku dan Sepotong Hati

Aku manakutkan. Aku menakutkan meski hanya menyerupai bayangan setelah raga disinari cahaya. Orang bilang semakin terang cahaya semakin kuat juga bayangan yang dihasilkan. Ah, omong kosong, kuat ataupun tidak sebuah bayangan dari sosok ini tidak akan mengubah segalanya. Sosok dari gadis manis berambut hijau dengan kepangan kecil yang melilit ke belakang. Tidak ada yang menyangka sosok yang jelita ini mampu melakukan hal yang gila, bukan?

Di bawah lampu jalan aku berjalan menaiki beberapa anak tangga, berbelok ke kanan, lalu bertemu dengan lorong kecil yang dasarnya tergenang air hujan. Di tempat yang sedikit terkena sorotan lampu itu seseorang sedang menungguku dalam gigilnya. Hujan baru saja reda dan ia memintaku datang ke sana sendirian, tanpa mobil merk terbaru atau motor besar yang menjemput ke rumah terlebih dahulu.

“Mor….” Laki-laki yang sedang bersandar pada dinding lembap itu mendesah ketika rambutku berkibar dihempas angin, ketika langkahku mendera aspal, dan aroma yang semerbak ke hidungnya. Yah, dia memang sangat menghafalnya. Kami memang sering bersama sejak satu tahun silam.

“Hmm,” kataku sambil loncat ke dalam pelukannya.

“Pakai Sampo apa, kok wanginya beda?” tanya lelaki bernama Regan itu sambil mengusap puncak kepalaku sampai tengkukku meremang.

Aku mempererat pelukanku sambil membayangkan senyumannya yang khas.

“Kenapa, kok diem?” Ia melepas pelukannya dan menyambar pipiku. Ia usap-usap sampai aku meleleh.

Entah sudah berapa lama aku hanya membuat jeda dan memandang wajahnya. Kulihat rambut-rambut tipis tumbuh di sekitar dagu. Kuusap usap wajahnya yang kasar itu. Geli.

“Kamu tahu? Aku mencintaimu. Aku mencntaimu sampai aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Regan mengangguk sambil berguman. “Hmm. Aku tahu.”

“Tapi ada yang lebih aku sukai melebihi dirimu.”

Regan tersenyum sambil mencari tahu jawabannya dalam mataku.

“Hatimu.” Aku memeluknya lagi. Saat itu hujan turun lagi, tidak teralalu deras hanya rintik-rintik kecil yang sedikit membasahi kami. Ah, aku tidak peduli, aku sudah dihangatkan Regan.

“Hmm. Aku juga tahu.” Regan memelukku erat sekali. Lebih erat dari biasanya. Sampai-sampai jemariku dengan mudahnya menancap ke kulitnya, mengorek-ngorek jantung yang masih berdetak sangat lambat, detak yang diperuntukkan bagi seorang Morgiana.

Krashhh! Aku melumat habis jantung yang kucongkel secara paksa dara tubuh besarnya. Dingin, kurasakan itu setelah mencapai kerongkonganku. Sedingin perasaanku malam itu.

*Note: Sebelum membuat cerita ini aku bertanya terlebih dahulu kepada salah seorang teman dekat yang bagi aku dia sudah seperti Soulmate. Ke mana-mana bareng, tidak sedikit kami berjumpa dengan warna baju yang sama ketika janjian untuk ke suatu tempat. Saat aku tanya sebaikanya aku menulis tentang apa, dia hanya bilang “Nulis Horror aja! Horror romance.” Aku kaget karena satahuku dia sangat menyukai cerita romantis yang akhirnya selalu bahagia. Rupanya dia sedang menantang aku untuk menulis genre tulisan yang jarang sekali aku sentuh. Dan terciptalah beberapa kata dari cerita yang dia mau itu, meski mata ini sudah ngantuk karena baru pulang dari suatu tempat.

Boy in The Sun

Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring

 

Ada cowok di dalam kamarnya.

Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.

“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath mengerjap dan mengusap-usap tengkuknya tanpa menurunkan tangannya dan membalas uluran itu.

“Tidak ada. Aku Cath, kau sudah tahu,” kata Cath sambil melempar pandangan ke arah lain. Matanya mengamati setiap sudut kamar barunya.

Levi tersenyum teramat manis. Saat itu juga Cath merasa mendapat sengatan mentari. “Jadi, kau mau ikut kami ke Pear’s?”

Tidak ada suara yang dilesakkan Cath. Ia memberi jeda pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Levi, sebenarnya ia sedang menimang-nimang akan pergi atau tetap tinggal.

Sebelum Cath melontarkan sesuatu, Levi sudah menyambarnya duluan. “Nanti akan kubantu membereskannya kalau kau ragu soal barang-barangmu,” ujar Levi. Sekali lagi ia tersenyum begitu manis.

Cath tak berucap satu patah pun, sementara Levi memandangi kaus berwarna biru muda dengan gambar Simon Snow di bagian tengahnya sambil senyum-senyum. Matanya naik-turun menatap wajah Cath yang terlihat tegang.

“Percayalah, kau tidak akan menyesal. Burger itu benar-benar lebih besar dari kepalan tanganmu,” ujar Levi lagi sambil tersenyum.

Entah sudah yang ke berapa kali ia memberikan senyumannya kepada Cath. Yang jelas Cath merasa dirinya semakin canggung dengan tingkah laku Levi. Ia bersumpah jika sekali lagi cowok itu memberinya satu buah senyuman, Cath akan menerima ajakan itu.

“Kau benar tidak mau pergi, hmm?” Levi menumbuk seluruh wajah Cath dengan bola matanya. Pandangannya penuh dengan wajah Cath yang sedang gugup. Rasanya ada yang menggelitik perut Cath lagi.

“Aku pergi.” Cath mengangguk dengan masih saja ada kegugupan di nada suaranya dan dibalas sebuah senyuman oleh cowok itu.

Ah, kapan kau akan berhenti tersenyum? Batin Cath saat mengekori Levi.

Tidak butuh waktu lama dari asramanya menuju Pear’s. Levi langsung mengantre, sedangkan Cath menunggu di bangku yang kosong. Selama itu matanya liar menjajaki pemandangan di sekitarnya.

“Kau menyukainya?” tanya seorang cowok yang suaranya mulai dihafal oleh Cath.

Pundak Cath menegang. Ia tersentak oleh kedatangan Levi yang tiba-tiba. Cowok itu langsung duduk di hadapan Cath dan melahap burger-nya.

“Terima kasih,” lontar Cath pendek. Jiwanya yang selalu berada di dalam kamar bersama Simon Snow dan Laptop-nya sekarang merasa terkejut.

Levi  memaksa burger-nya masuk ke dalam kerongkongan dengan Soft drink. “Makanlah! Kau tidak akan kecewa dengan rasanya. Sudah kupilihkan yang enak.”

Cath menurut dan memakannya sedikit-sedikit. Saat itu Levi mendapat sebuah panggilan telepon. Beberapa menit ia berbicara dengan ponselnya, setelah itu Levi melanjutkan pembicaraannya dengan Cath.

“Jadi kau penggemar Simon Snow?”

Cath mengangguk setelah melihat gambar di kausnya.

“Aku juga menyukainya. Aku bahkan sering membaca Fanfiction-nya,” terang Levi dengan antusiasnya.

Cath membelalak. “Benarkah?”

“Iya, ada satu penulis yang sangat aku sukai. Namanya Magicath,” jelas Levi. Ia berpikir sejenak. “Mungkinkah itu kau? Nama kalian mirip,” tambahnya sambil tertawa.

Tenggorokan Cath tercekat. Yang sedang dibicarakan memang benar adalah dirinya, tapi ia sama sekali tidak bisa berkata apa pun.

“Ah, itu dia.” Levi tersenyum sambil melambai ke seseorang yang sedang berjalan ke arah mejanya. Cath, kali ini ia malah berharap selalu mendapat senyuman dari cowok yang baru dikenalnya itu.

Cath mengikuti ke mana mata Levi pergi. Seorang gadis berwajah masam dengan tas selempang warna cokelat itu tengah berjalan tergesa-gesa.

“Siapa?”

Levi menoleh. “Teman sekamarmu, Reagan.”

Cath terkejut. Jadi bukan kau?

“Ah aku lupa, aku tadi membantunya mengangkut kardus.”

“Membantu?”

“Iya, aku pacarnya.” Levi tersenyum lebar.

 ***

 

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell

Terbit: November 2014

Nasihat ter-hakpret!

Alkisah…. (Halah)

Gue bukan mau berpidato atau  numpang curhat. Gue cuma mau sharing beberapa paragraf yang entah berguna atau nggak. Lo juga nggak perlu khawatir. Gue bukan sales yang mau nawarin produk yang ada ekstraknya atau mau cerita kisah sedih di hari minggu yang mendayu-dayu dan penuh haru-biru. Tenang aja!

Ada beberapa hal yang nggak pernah lepas dari sifat manusia dari dulu sampai sekarang. Beberapa diantaranya bakal gue bahas di sini. Mari simak!

Pertama. Sejak dulu sampai sekarang kebanyakan orang selalu mengalami masalah sama gengsi. Ngapain sih pake gengsi-gengsian?  Gengsi berlebihan tidak akan mengurangi lemak di perut Anda. Ingat! Lho?

Gue sendiri nggak memungkiri meski kadang-kadang gengsi kalau ditawarin martabak telor sama tukang dagangnya atau saat bepergian lupa nggak bawa duit. Yah, namanya juga manusia pasti punya rasa gengsi lah. Namun, kalau dalam keadaan mendesak gue sama sekali tidak memikirkan gengsi itu lagi. Contohnya, kalau lagi berantem sama adek gue, sebut saja dia Bintang, lalu gue perlu penghapus dan harus pinjem sama dia. Karena gue sudah lewat masa kelulusan mau bagaimana lagi, kan? Mau beli juga males kalau cuma penghapus doang. Mending pinjem penghapus gopean dia, kan?  Terpaksa gue menghilangkan rasa gengsi itu dengan tampang tak tahu malu. Tanpa segan gue masuk ke kamarnya dan meraih tas pundaknya sambil merogoh tempat pensilnya dan bilang , “Gue pinjem penghapus!” Bintang  tentu saja tidak menyetujui. Namun karena ketangkasan gue, sebelum dia mengamuk gue sudah lari dan mengurung diri di kamar sambil cekikikkan.

Kedua. Ragu-ragu. Ragu-ragu bisa berakibat fatal bagi kemaslahatan hidup manusia. (Halah! Gue mulai sok tahu lagi.) Ragu-ragu karena tidak percaya diri juga sering dialami remaja yang sudah beranjak dewasa. Biasanya mereka memikirkan dulu prospek ke depannya, sehingga langkah dan keputusan yang mereka sangat memengaruhi masa depan. Hal itulah yangg akan menimbulkan keragu-raguan dalam mengambil keputusan. Gue sendiri sering mengalami keragu-raguan selama ini. Misalnya ragu-ragu untuk terjun dari puncak monas atau potong rambut dengan gaya cepak atau plontos. Mikir beratus-ratus kali pun gue masih nggak yakin, ragu untuk melakukan hal gila itu.

Ok, yang terakhir. Merasa menyesal. Banyak sekali penyesalan di dunia ini. Menyesal telah melepasmu contohnya. Cieee, uhuk! Kadang orang melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati mereka. Mereka hanya mengandalkan pemikiran sehingga menimbulkan sebuah penyesalan yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri. Sebisa mungkin kita harus menghindari penyesalan, guys! Pilihan yang kita ambil seharusnya dipikirkan matang-matang dan direnungkan bersama hati kecil kalian. Setidaknya dengan pengendapan waktu itu bisa meminimalisir banyaknya penyesalan di dunia ini.

Contoh penyesalan lainnya. Ketika ada orang yang jelas sayang sama lo tapi lo malah bersikap dingin dan tidak menganggapnya. Yang perlu lo tahu dia nggak pernah kehilangan emosinya meski dipatahkan berulang kali. Sampai suatu saat lo naruh hati sama dia, dia yang sekarang mungkin sudah melepas lo atau berpaling ke seseorang yang lain. Dan akhirnya lo akan mengalami yang namanya penyesalan itu. “Kenapa ya nggak gue rangkul aja dia dari dulu? Kenapa gue nggak sadar sama perasaan gue? Kenapa? Ah, kenapa ya?” Kenapa coba? Nggak ada jawaban untuk semua pertanyaan itu. Semuanya udah berakhir dan lo harus mengulangnya dari awal lagi. Keputusan memang harus diambil secara matang. Sebenarnya lo cuma ada dua pilihan saat mengahadapi situasi kayak gini. Tapi dianjurkan diambil saat-saat pertama. Tinggal atau pergi? Lo kudu pilih salah satu, nggak bisa pilih keduanya. Tinggal lalu pergi atau pergi lalu kembali. Hakprettt! Mana ada yang mau!?

Anggap aja ini sebuah pemainan tarik tambang. “Sekuat tenaga kamu mencapai tali dan menariknya kencang-kencang, bisa saja lawanmu malah melepaskan tali, lalu pergi.”  Entah dapet bisikan dari mana gue nemu filosofi kayak gitu. Bagian yang terpenting adalah saat lo berbalik dia udah nggak ada di tempatnya lagi. Syukurin! Gue semangat banget deh kalau ngebahas beginian. So, lo harus pintar-pintar mengambil keputusan, nih. OK! Ini cuma nasehat kecil aja, sih. Kalau nggak bermanfaat ya mohon dimaklumi kalau sebaliknya diharap mengirim satu koper uang ke alamat di bawah ini. Gue nggak becanda, kok.

Tapi ada satu hal yang tanpa perlu dipirkan terlebih dahulu. Ini sesunguhnya nggak akan membuat wanita mana pun merasa menyesal. Yaitu melahirkan anaknya. Begitu pun dengan Mama gue, dia pasti nggak akan menyesal. Tunggu-tunggu! Apa iya? Ah, sudahlah, Kembali ke keperayaan masing-masing aja, ya!

Kesimpulannya, tiga hal tersebut saling berkaitan. Gengsi – Ragu-ragu – Penyesalan. Yeah! Ingat gengsi berlebihan tidak akan menghilangkan lemak diperut Anda!

Regard

Purwakarta, 17 September 2014

The Story Only I didn’t Know

Aku perdu yang dilalap api, engkau pandu yang ditelan bumi. Kita tak berkisah, kita tak bercerita. Kita hanya sebuah birama dalam gelas.

Aku memejam. Berulang kali kuulang kalimat yang kupercayai sebagai mantra pemintal rindu untukmu.

“Satu…, dua…, tiga….” Setelah selesai menghitung, bunga Dandelion langsung membelai pipiku. Angin sedang memihakku kali ini. Mereka riang menari bersama pucuk-pucuk bunga itu, mengembus dengan mesranya.

Selama itu mulutku tak berhenti bersenandung. Lagu-lagu milik The Beatles seperti I will atau in My Life keluar begitu saja berupa dehaman. Aku benar-benar merasakan mereka sedang mengantarmu kembali. Membawa kenangan juga harapan bersama angin di akhir Agustus.

Detik demi detik berlalu, kurasakan aroma tubuhmu yang menyejukan. Ruas-ruas jemarimu menutupi kelopak mataku. Kau belai halus setiap jengkal wajahku saat aku masih memejam. Tak ada yang terlewat, kening, hidung, pipi, bibir, dan dagu. Jemarimu yang hangat menyentuhnya dengan syahdu. Sudah lama kurindukan ini sejak terakhir kita bertemu. Tidak, sebelum itu bahkan.

“Jaehyun-ah…,”desisku dengan suara gemetar. Mataku berbinar dan masih saja tak memercayai bahwa itu dirimu. Pertama kali aku melihat lagi wajah itu, kutemukan hunjaman dari sorot matamu. Tunggu! Apa di matamu ada tumpahan arak? Kalau tidak, kenapa aku bisa jadi semabuk ini ketika menumbuknya?

Gumpalan air dalam mataku sudah tak tertahankan lagi. Beberapa tetesan air mata jatuh mengenai jemarimu yang buku-buku jarinya sudah memutih. Lalu sesekali kau seka dengan lembutnya. Saat itu kau berkata, “Jangan menangis lagi, air matamu bukanlah kebahagianku.”

Betapa luluhnya aku ketika mendengar suara khasmu. Kala itu air mataku habis diseka olehmu. Kau tak lelah, kau tak marah. Kau hanya tak tega melihatku menangis karena sakitnya merindu. Rindu yang sudah menjalar sampai ke urat nadi dan baru sempat kutumpahkan.

“Jiyeon-ah…,” katamu dengan senyuman manis milikmu. “Ada kalanya, mantra itu tidak akan berfungsi lagi.” lanjutmu lagi. Kini jemarimu meremas jari-jariku dengan lembut. Kurasakan hampir tak ada sehelai udara pun yang mampu menyelinap di antaranya. Bulu kudukku langsung meremang, sehebat itu kah sentuhanmu? Ah, sejak dulu kau memang begitu.

“Jaehyun-ah….” Aku tak merespon pernyataan itu, dan malah melemparnya dengan sebuah gumamman.

“Emm?” Kau hanya berdeham. Tapi aku tetap meyukainya.

Aku mengusap-usap puncak lenganmu. “Saat ini yang paling aku inginkan dalam hidup adalah bersamamu. Apa kau juga sama?”

Kau tak merespon. Jelas membuatku bingung, tetapi genggamanmu yang semakin erat tak menggoyahkanku sama sekali. Aku tetap percaya kau akan selalu di sampingku. Meski kepercayaanku itu tak sepenuhnya dipenuhi kebenaran. Tapi aku tetap memilih untuk percaya.

Mataku menerawang ke arah bunga Dandelion yang sedang beterbangan. Jiwaku seakan ikut terbang bersama mereka. Ketika itu alunan piano seolah berputar-putar di kepalaku. Kata-katamu sudah tak aku hiraukan. Hanya suara piano itu saja.

“Kau yang kemarin, sekarang ataupun nanti tetaplah sama. Dengan atau tanpa mantra pun kau selalu jadi Jaehyun-ku. Kau selalu jadi rinduku.” Kepalaku bergerak-gerak mengikuti irama lagu.

Saat itu kau memandangiku pilu. “Sedang mendengarkan lagu?” tanyamu hati-hati. Wajahmu menilik ke dalam rautku.

“Iya, ini lagumu yang waktu itu kau perdengarkan. Aku suka, boleh kubungkus dan kubawa pulang?” tuturku sambil tersenyum jahil padamu. Saat itu kamu turut tersenyum melihat tingkahku. Katamu aku menggemaskan, sedangkan bagiku kau mengagumkan.

Lagi dan lagi kau memperlihatkan tatapan sedihmu. Hey, aku sedang bahagia. Aku sedang menikahinya sekarang. Hebat bukan bisa menikah dengan bahagia? Jangan hancurkan pernikahanku dengan tatapan itu. Aku tidak suka!

Kau diam seperti biasa, sedang menikmati sandaran kepalaku di bahumu. Kau pernah bilang, sandaranku selalu membuatmu nyaman. Sesekali aku bergumam tentang lagu darimu. Kubilang berulang kali bahwa aku bahagia bisa bersamamu, dan kau hanya mengangguk. Ah, aku benar-benar bahagia. Bisa bersamamu adalah kebutuhan, bahkan sudah kuubah ke mana  tempatku berpulang. Bukan lagi rumah dengan keluarga, tetapi dirimu dengan segenap perasaan candu itu.

“Jiyeon-ah…,” desahmu untuk yang kedua kalinya.

“Jaehyun-ah, aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu. Aku sedang menikmati angin, nih,” kataku setengah merajuk. Tubuhku bergerak-gerak waktu bersandar kepadanya.

Tubuhmu yang sedang rileks langsung ditegapkan, kepalaku kau singkirkan. Angin sore itu menyibak piringan hitam yang tengah berputar di dalamnya.

“Maaf…,” ucapmu, yang berhasil membuat tanda tanya besar di benakku. “Ada yang perlu kau tahu. Aku tak bisa bersama denganmu lagi,” ujarmu lagi dengan wajah meyakinkan.

Air mukaku berubah keruh seketika. Banyak pertanyaan yang berjubel di bibirku sampai akhirnya hanya mengeluarkan gumaman yang tidak jelas. Aku membelai wajahmu yang kini mulai mendingin. Sakit kurasa setelah menyambar sel-sel kulitmu. Aku seolah disadarkan sesuatu.

“Kini tidak akan ada lagi mantra yang mampu menghadirkanku. Aku ya aku, kau ya dirimu. Dari awal aku hanya bersumber dari isi kepalamu.” Kau menatapku dengan tajam. Sejenak aku gagal mengerti dengan tatapan itu. Air dari pematangku berlomba-lomba untuk jatuh lagi. Tidak cukupkah gerimis memenuhi wajahku?

Lalu tangisku memenuhi seluruh wajah. Samar kulihat wajah itu tengah mendekat, tanganmu mengambil sesuatu dari telingaku. Sebuah headset yang entah sejak kapan sudah terjejal di sana.

“Itu bukan lagu dariku. Itu lagu milikmu,” tuturmu sangat pelan. Bahkan setengah berbisik. Saat itu pertahananku langsung runtuh di hadapanmu. Tubuhku gigil diterpa angin yang semakin kencang. Kausku yang tipis tak mampu menahannya. Kulitku rapuh setelah terkenanya.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu cerita ini?” Aku terisak di balik jemari tanganku, sedangkan tanganmu masih tak bosan membelai rambutku yang terjurai sampai ke puncak dada. Aku tersedu.

“Kembali ke kehidupanmu! Jangan menangis lagi, karena itu bukanlah kebahagiaanku,” terangmu lagi. Sudah kuhafal kalimat terakhirmu, terngiang teramat jelas di telinga ini bersama dentingan piano itu.

“Aku mohon tetaplah di sampingku. Sungguh ini bukan perpisahan yang indah.” Aku terus memohon dengan berderai air mata. Nyatanya kau tak mendengarkan, lantas pergi dibawa angin bersama bunga-bunga Dandelion. Ketika itu lagumu serta cerita-cerita tentang kita berputar di bola mataku bersamaan ketika aku menangis sambil terpejam.

Sakit! Perih! Nyeri!

Kemudian, yang kusadari setelah kepergianmu adalah saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu.

Aku bukan perdu, dan engkau bukan pandu lagi. Kita memang tak berkisah juga tak bercerita, kita hanyalah birama dalam gelas kosong. Engkau hanya mantra yang kubuat sendiri, kau hanya sebuah cerita yang tak kuketahui awalnya. Paduan indah yang kuwujudkan dan diam-diam kuhirup aromanya. Senyawa dalam kepalaku yang sering kali inginku kurengkuh wajahnya.

Kau mati, aku runtuh.

Nyatanya kau ada hanya ketika aku mati rasa.

Tulisan ini ditulis berdasarkan isi lagu The story I didn’t know oleh IU, namun ditulis dengan versi yang berbeda.

Pertemuan di Tahun Baru

Suatu hari di malam akhir Desember, seorang laki-laki sudah siap dengan satu buket tulip kuning digenggamannya.

“Olivia!” jelas terdengar suaranya yang tenor.

Sang pemilik nama menoleh. “Hey, Pram,” ucapnya dengan kepulan asap dari bibirnya. “Sudah lama aku menunggumu di sini,” lanjut gadis bermantel tebal itu.

Sambil terengah-engah Pram berusaha berucap. “Sudah kuputuskan, akan kugantungkan harapanku untuk memilikimu.” Ia menjawil hati Olivia dengan satu buket bunga dari genggamannya.

Gadis itu melihat sebuah harapan di mata Pram. “Jika ingin melihatku berdusta, maka aku akan menerimamu,” ujar Olivia dengan meninggalkan kecewa di dada Pram.

Sekali lagi dilihatnya mata itu, sudah tidak ada lagi harapan. Tinggal bersisa luka yang ingin ia gapai, lalu ia hempaskan.

Tubuh Pram beku. Bibirnya mencari-cari kalimatnya yang tiba-tiba hilang. “Kalau boleh kukasih saran, berdustalah untuk sekali saja. Setidaknya agar hati ini tak terasa nyeri.” Pram gemetar.

“Sayangnya, kau adalah sepupuku Pram. Mana bisa aku berdusta soal cinta. Maaf aku harus singgah dari hatimu. Sudah ada yang lain di hati ini,” tutur Olivia dengan mantap.

“Siapa?” Pram terluka, tapi tetap saja ia ingin tahu seluk beluk kehancurannya.

“George,” kata Olivia. Sejurus kemudian ia mulai melangkah, jauh meninggalkan jejaknya.

Di dalam kepala Pram ada semacam kembang api yang saat itu sedang menghiasi malam tahun baru. Tahun baru dengan luka yang baru. Lengkap.

Setelah kepergian Olivia, ia melewatkan malam dengan langkah yang tak punya tujuan. Pikirannya tak keruan, sesekali terlintas paras Olivia yang rupawan. Sebelum akhirnya tubuh yang tergopoh-gopoh itu ditabrak seseorang. Yang menabrak malah jatuh duluan, tubuhnya membentur ke deretan aspal di bawahnya.

“Maaf, sini kubantu.” Akhir dari sekian lamanya bibir itu pun menemukan kalimatnya. Tangannya mengulur ke arah sang gadis yang jatuh terduduk.

“Iya, maaf tadi aku yang tidak lihat,” kilahnya dengan bibir mengilap . Pram langsung meleleh.

“Boleh kau bayar maafmu dengan waktumu? Aku sedang ingin mengobrol. ” Pram mengerling. Dimatanya timbul secercah harapan baru.

Gadis dengan bandana merah itu mengangguk. Sama sekali di wajahnya tidak ada raut kegembiraan.

Pada sebuah kursi di depan air mancur, mereka terduduk. Beberapa menit tak ada yang melesakkan suara. Kecanggungan menghinggapi keduanya.

“Kau sedang sendiri?” tanya Pram, membuka percakapan.

Gadis itu mengangguk dengan satu botol minuman berakohol di genggamannya. “Sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Aku sedang bersama kecewa,” ungkapnya.

Pram hanya mengangguk lalu meneruskan ucapannya. “Aku juga.”

Gadis dengan bandana merah itu menaruh botol minumannya diantara mereka. “Kenapa?”

“Lima belas menit yang lalu aku baru saja patah hati.” Pram menekuk kepalanya.

“Lucu ya, sedangkan aku baru saja mematahkan hati seseorang,” ujar gadis itu setelah menerima jawaban dari Pram.

Diantara keduanya tidak ada kalimat yang terdengar lagi. Mereka tengah asyik menikmati percikan kembang api yang menghampar di langit Januari .

“Kalau saja dia menerimaku, pasti dia sedang bersandar di bahuku sekarang,” kata Pram dengan mata yang tak pernah lepas dari langit.

Gadis di sebelahnya langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Pram setelah mendengar harapan yang sudah runtuh darinya. Mata Pram langsung membelalak ketika menerima gerakan tiba-tiba dari gadis di sampingnya.

Ia bingung, akan mengatakan apa lagi ketika merasakan hangat di tubuhnya, ketika sel-sel kulit mereka hendak bersentuhan jika saja tidak terhalang oleh sebuah mantel.

“Takdir selalu membawamu ke jalan yang benar,” kata gadis itu setelah beberapa saat. “Kalau saja aku menerima cintanya mungkin kami sudah menjadi bahan gunjingan orang,” lanjut sang gadis.

“Memang kenapa?” Dahi Pram saling bertaut.

Butuh waktu lama untuk gadis itu angkat bicara lagi. Dan setelah kembang api ricuh di langit, ia kembali bersuara. “Kami sama-sama wanita,” tegasnya.

Pram melonjak, gerakan itu pun disadari si gadis. Sampai akhirnya ia terbangun dari sandarannya.

“Cinta ini terlalu dingin seperti salju. Tapi selalu ada kebahagiaan ketika kita sudah mencapai puncaknya. Seperti kembang api diantara salju itu,” terangnya lagi dengan panjang lebar. Pram hanya termangu mendengarnya.

Sejurus kemudian senyumnya merekah. Kalimatnya sudah buntu perkara cinta dan cerita beberapa menit sebelumnya. “Kau benar. Omong-omong, panggil saja aku Pram!”

Gadis disampingnya cekikikan, hujan di wajahnya mulai mereda.

“Aku George, Georgina!”

 

Purwakarta, 23 Juli 2014