Malaikat Terindah

11034185_802337619820672_3806842506573325880_n

[ Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’ ]

Di dalam gigil tubuh Ibu aku tergugu. Beberapa menit yang lalu beling tertancap di jantungnya dan membuat mulutku terkunci. Satu dan lain hal yang membuatku memilih untuk terisak daripada pergi memangil tetangga untuk menyelesaikan darah yang sudah menggenang di lantai. Aku hanya sedang ingin menikmati pelukan terakhir dari ibu yang hangat, meski nyatanya sekarang tinggal bersisa kegigilan.

Satu jam sebelumnya aku pulang dari bimbingan belajar. Perutku keroncongan, mataku lelah, dan otakku memaksa untuk berhenti bekerja. Beberapa saat lagi akan ujian dan itu membuat semua otot-ototku menegang.

Sepulang dari sana aku langsung mencari ibu di dapur. Seperti biasa ada satu menu kesukaanku yang secara bergantian sering Ibu masak dan kusantap dengan lahap. Tempe dan sambal goreng serta nasi hangat. Semua itu dan raut muka ibu kalau tersenyum cukup membuat perasaan lelahku hilang.

Aku keluar dengan sepiring nasi dan mendapati ibu melambai kepada seorang pria. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia lebih rapi, tampan dengan rambut halus di sekitar dagunya, serta sepatu mengilat yang menghentak di beranda.

“Wi, kamu kapan pulang?” Ibu melotot dan gelagapan sambil mencari tempat duduk.

Aku menahan genggaman ke dalam piring. Mencoba menuangkan kekesalan di sana semampunya. “Bukannya kemarin yang terakhir bu?” Suaraku serak tidak seperti biasanya.

“Nggak, ini yang terakhir. Kali ini dia mau menikahi ibu.” Kalimat Ibu berakhir di sana.

Tak terasa piring yang sedang dalam genggaman itu sudah berantakan di lantai. Nasinya berceceran dan sudah dingin. Sungguh, disayangkan padahal sewaktu sampai di rumah aku lapar berat. Sekarang sepertinya kenyang oleh saliva ketika Ibu mengatakan kebohongannya lagi.

Sungguh, seharusnya dia adalah seorang malaikat yang sering teman-temanku bilang kepada Ibunya. Harusnya dia menjadi malaikat terindah bagi seorang Dewi. Aku juga ingin berangggapan begitu. Tapi rasanya berat sekali.

Tahu-tahu yang membekas dalam pikiranku hanya kalimat ‘Harusnya dulu Ibu tidak melahirkanku agar aku tidak pernah merasa sesakit ini melihat kelakuannya.” Selalu kuulang setiap aku terjepit dalam keadaan ini. Tapi hatiku masih saja rapuh dan ingin memelukknya.

Akhirnya keinginan itu pun kesampaian saat kekesalan yang kupindahkan ke dalam piring berisi nasi hangat berujung ke dada Ibu. Dia suka bermain laki-laki, dia egois, dia suka marah-marah sampai membuat pipiku kena tampar, dan dia sungguh menjengkelkan. Tapi dia selalu ada di sisiku saat aku bilang aku membencinya. Sekarang aku tahu kenapa dia tidak membuangku sewaktu kecil. Aku begitu berharga bagi Ibu. Aku teramat istimewa sehingga ia tidak ingin aku kesepian karena tidak hidup bersama. Dan sekarang aku yang membuat diriku sendiri melakukan keputusan yang tidak pernah diambil ibu kala itu.

Kepada Ibu yang tangannya pernah memelukku. Aku bersyukur kau telah melahirkanku.

Elsa’s Secret

imagesedd

[ Diikutkan Dalam Lomba Menulis ‘Love With a Witch by Hyun Go Wun’ ]

Brandon sama seperti remaja kebanyakan. Pergi ke sekolah, bermain bola, menjahili anak perempuan, dan melakukan banyak hal dengan seenak jidatnya. Satu hal yang membedakannya dengan yang lain. Tubuhnya bisa mengeluarkan api berwarna biru. Ssst…, ini aku saja yang tahu. Sebelum ketika ia menyeret imajinasiku ke dalam dunianya, sebelum akhirnya aku dibuat jatuh-bangun dengan pesonanya. Sebelum keduanya terjadi aku sudah tahu.

“Elsa!” Dalam dekapan sebuah mantel Brandon melambai ke arahku sambil tersenyum lebar. Ada seragam sekolah yang kulihat di sana selepas ia berjalan.

Dengan jarak sebuah jalan dan lampu merah aku bisa menangkap ia sedang bermain-main dengan sihirnya. Ia mendekat dan semakin terlihatlah kobaran api itu dengan tubuh yang tak sedikit pun kuyup. Aku berdecak jika merasakan lagi kepalaku yang basah oleh hujan yang sedang mendera meski sudah diteduhi payung.

Aku mengamati sekeliling. Rasanya lega tidak ada yang mengetahui rahasia besarnya ini.

“Kamu jaga baik-baikan kekasihku ini?”

Aku mengulum lagi senyuman yang sudah mengembang, kemudian membuang muka ke tanah. Aku ini bukan anak kecil yang sedang butuh penjagaan seseorang. Apalagi dari perawan tua yang sedang bersamaku ini. Aku melirik wajahnya yang sedang bersinar. Di sana kudapatkan sebuah senyuman dengan arti khusus kepada Brandon.

“Kamu tidak usah khawatir, dia tidak merepotkan, kok,” kata perawan tua sambil melirikku.

Setelah percakapan pendek itu, Brandon membawaku pulang. Seragam sekolahnya masih saja kering padahal hujan sedang gencar-gencarnya memburu bumi. Satu hal lagi yang membuat Brandon tampak menakjubkan. Ia membuat wanita itu tidak sadar dengan tubuhnya yang tidak kebasahan. Selalu saja wajahnya yang menjadi pusat perhatian.

Dalam perjalan itu, aku mendengarnya bersenandung. Dia boleh tampan, tapi suaranya tidak bisa untuk di dengar dengan nada meliuk-liuk tanpa harmonisasi yang pas. Ketika itu ia langsung bercerita, sepertinya ia tahu perasaanku dengan baik kalau soal ini.

Katanya begini, “Elsa, aku sedang jatuh cinta.”

Di sekililing sedang hujan, tapi kenapa kurasakan petir sedang berlomba-lomba menyambar dadaku? It’s hurt, dude!

Brandon melanjutkan sambil mencapai puncak kepalaku. Mengusap-usapnya dan membuatku bergetar setengah mati. Aku harap setiap hari tangannya selalu seperti itu. “Ada seorang wanita yang mati-matian ingin kuambil hatinya tapi tidak pernah bisa,” tambahnya sambil berhenti di depan halte.

Kuamati baik-baik wajahnya. Kelenjar air mataku luruh begitu saja bercampur genangan air di pinggir jalan sejak ia mengucapkan kalimatnya. Brandon yang  mengatakan aku adalah kekasihnya sudah tidak bisa aku percayai lagi kata-katanya.

“Elsa, aku minta maaf.” Brandon mengamatiku. Mungkin ia sekarang sudah tahu kalau mataku sudah basah. Entahlah, dia selalu bodoh jika disuruh membaca bola mataku. Padahal kalimat “Aku cinta kamu” sering kuteriaki sampai aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Susah kalau sudah berurusan dengan penyihir bodoh yang hanya pintar bermain api.

Kemudian Brandon duduk di atas deretan kursi yang masih kosong. Sambil menungu bus ia membisikkan sesuatu. “Kadang-kadang hati seseorang itu bisa terbagi dengan sendirinya, lho. Kecuali kamu pintar menjaganya. Sayangnya aku bodoh, sih. Bisa-bisanya aku mencintai…,”

Stop!” Mungkin itu arti teriakanku kepadanya, sehingga membuat Brandon kelimpungan melihatku yang meledak-ledak.

“Oh, Elsa, please,” bujuk Brandon sambil menangkap kembali puncak kepalaku.

Jujur saja, aku sudah tidak tahan. Pemikiran aku tidak bisa terbebas dari dunianya saja masih melekat dengan baik di dalam kepala. Sekarang ia mengagetkanku dengan kalimat itu. Aku bisa saja mati mendadak di tempat ini.

Tapi adakah yang bisa kulakuan selain bilang, “Jangan pergi ke lain hati!” atau sekadar, “Brandon, mampukah kamu melihat isi hatiku?”

“Resa,” lanjut Brandon setelah aku berhenti meracau.

Setelah nama itu ia ucap, aku hanya bisa melanjutkan pertanyaan. Adakah yang bisa kulakukan jika aku sendiri tidak bisa menandingi perawan tua itu? Sekadar menjambak rambutnya mungkin, atau membuat onar di rumahnya saat aku menginap di sana. Atau bisa saja langsung melabraknya dan bilang “Brandon adalah milikku.”

Sesuatu yang klise dilakukaan saat orang lain merebut kekasihnya. Tapi adakah yang bisa kulakukan selain menyadari diri sendiri dengan letak perbedaan yang terjadi di antara kami? Yang perlu kusampaikan kepadanya suatu hari nanti adalah, “Berbahagialah bersama wanita yang kamu cintai!” Tidak untuk sekarang karena aku sedang patah hati oleh api birumu yang sering menghangatkan tubuhku.

Ada hal yang belum kusampaikan. Kalau orang bilang tidak ada alasan saat mencintai. Itu salah. Karena nyatanya, alasanku mencintai Brandon adalah karena dia adalah dirinya. Seorang Brandon yang mampu membuat aku jatuh cinta dengan kebodohannya, api birunya, serta rasa aman yang kudapat kalau dia sudah memelukku erat.

Beberapa menit setelah itu Brandon berkata kepadaku, “Lihat nih, aku sudah belikan kamu makanan. Jadi lain kali kamu tidak akan tersedak tulang ikan lagi.”

Meowww!

FB_20150304_21_24_19_Saved_Picture[1]

Scary of Sady

Diikutkan Dalam Lomba Menulis Cerpen ‘Majo & Sady’

11011294_799121493475618_8276522854963876132_n

Sady dan rumah baru menjadi dua hal yang sangat berarti bagiku. Sejak kehidupan kami dimulai, pemikiranku tentang hidup tenang  dan bersantai di sofa ruang tamu segera lenyap. Sady sudah jauh-jauh hari membuatkan daftar pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan kami berdua. Kemudian akan menjadi rutinitas baru untuk ke depannya.

Hari senin sampai sabtu aku membuat sarapan, sedangkan Sady kebagian hari minggu saja. Belum apa-apa sudah berat sebelah begini. Mulai terlihat deh, Sady yang tidak bisa memasak. Padahal hari minggu juga tetap aku yang memasak. Yang dilakukan Sady, kan cuma membuat dapur berantakan dengan telur mata sapi gosong atau air yang surut karena ditinggal menonton acara Talk Show.

Kemudian jadwal yang sudah ia buat itu tidak keruan. Misalnya hari senin sampai rabu Sady mencuci baju lain harinya aku yang melakukan. Hari sabtu adalah ritual membersihkan kamar mandi yang hasilnya ia hanya bermain air sambil menyipratiku yang sedang menggosok lantai.

Pernah suatu hari waktu hari libur tiba, Sady sudah duduk manis di depan meja makan sambil membaca sebuah majalah dan meneguk secangkir teh hangat.

“Hari ini mau ke mana ya?” Sady bermaksud menyindirku karena minggu kemarin aku berjanji mengajaknya ke pantai. Tapi sayangnya hari ini aku kurang enak badan dan membatalkan janjiku kepada Sady.

Aku berdeham sambil membawa dua mangkuk bubur ke depan Sady.

“Wohooo, ini pasti enak,” kata Sady sambil bertepuk tangan. Sudah lupakah dia dengan jadwal memasaknya yang telah ia buat beberapa minggu yang lalu?

“Kok, ayamnya dipotong kecil-kecil? Aku kan nggak suka.” Sady menatapku dengan tatapan datar.

Setelah menyendok bubur kedua, aku menahan yang ketiga dan memperhatikan Sady yang sudah melipat tangan di depan dada.

“Aku buatkan lagi ya?” kataku menawarkan diri. kalimat itu rasanya lebih aman daripada sebuah alasan ini-itu.

Setelah aku kembali ke dapur kulihat ia tengah cengengesan sambil memakan keripik.

Yah, Sady memang seperti itu. Kadang dia suka meledak-ledak kalau aku tidak mau melakukan hal-hal yang ia minta. Contohnya seperti potong rambut yang ia lakukan kamis lalu. Padahal dia memotong seenak jidatnya sendiri dengan panduan sebuah majalah mode. Aku kan jadi kesal dengan gaya rambut tidak jelas buatan Sady.

Belum lagi kalau Sady sudah kumat dengan kebersihannya. Seharian penuh, punggungku bisa habis digosok olehnya cuma karena kau kecipratan lumpur di jalan. katanya aku banyak kumannya. Apalagi kalau menyangkut keuangan. Aku minta dibelikan sekumpulan ikan kecil saja dia langsung menjentikkan jari dan menyemburkan mottonya, hemat pangkal kaya.

Tapi Sady tetaplah Sady. Semenjengkelkan apa pun sifatnya, secapek apa pun aku melakukan daftar yang sudah ia buat, aku telah memilihnya sejak awal dan berjanji akan selalu membahagiakannya. Malah akan menjadi berbeda kalau dia berubah menjadi istri kalem, bermulut manis, dan sering kerja di dapur. Rasanya ada yang salah saja. Rasanya aku bukan menikahi Sady si tukang suruh, pemalas, dan tentunya yang mencintai suaminya dengan baik.

Apa pun itu, asalkan Sady merasa bahagia aku tetap akan melakukannya. Dan jika ada kata yang lebih hebat daripada kata ‘cinta’ aku akan mati-matian memberikannya meski dilakukan dengan berdarah. Karena aku mencintainya. Sangat. Lebih dari apa pun.

Purwakarta, 2 Maret 2015

1545696_799123193475448_1590826402508308213_n

10264869_799122626808838_390654746823398546_n

10945573_799122793475488_7445464674671198619_n

11026056_799123246808776_2526434352249406949_n

Lovember

Bukan maksudku mau membagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Cinta tercenung saat membaca deretan kalimat itu setelah dua belas tahun lamanya bersarang di lemari. Kumpulan-kumpulan kalimat lainnya yang sudah ia salin waktu itu masih sering ia tengok sampai ujung kertasnya lecek dan hampir sobek. Terutama kalimat yang diucapkan oleh Chairil sewaktu jalan di pantai.

Jika membaca lagi buku itu ia seakan kembali ke masa-masa itu. Ketika ia masih bersama Rangga dan saling berbagi kisah dengannya. Lalu sesuatu seperti nada pesan masuk membuatnya kembali ke masa sekarang.

Alya:

Ta, kayaknya besok gue nggak bisa nganter nyari buku deh. Gue ada urusan penting. Tapi besok gue tetep dateng ke acara kita, kok.

 

Me:

Hmm, nggak apa-apa. Gue besok sendiri aja. Yang penting kalian sama yang lain dateng ya!

 

Cinta mematikan ponselnya. Matanya menerawang jauh ke depan pada hujan pertama yang turun di bulan November. Tangan kanannya dipakai untuk menopang dagu, sedangkan yang lainnya memainkan sebuah pensil.

Sudah berapa kali purnama kamu tidak pulang, Rangga?

Ponsel itu bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk yang berhari-hari selalu ia hindari. Andre, rekan sekantornya.

Dering-dering berikutnya membuatnya putus asa. Ia sudah hafal jika di jam-jam segini orang itu menghubunginya, bukan masalah kantor lagi yang akan ia bicarakan. Berulang kali Cinta menolak laki-laki itu, tetapi dia tidak pernah putus asa dan malah tambah tergila-gila dengan Cinta.

Cinta mengembuskan napas panjang setelah panggilan itu berhenti. Tangannya buru-buru mencari nomor Max dan menghubunginya.

“Hallo? Max, bisa tolong kirimkan dokumen dari Bu Hana ke saya sekarang?” Cinta langsung berkoar setelah hubungan telepon itu tersambung.

“Maaf, dengan siapa?”

“Lho, ini bukannya nomor Max? Kamu siapa?” Cinta menyelipkan rambutnya ke telinga sambil mengerutkan dahi.

“Saya baru saja menemukan ponsel ini di jalan. Sepertinya jatuh. Kalau kamu temannya bisa tolong berikan ponsel ini lagi ke dia?”

Cinta mnggigit bibir bawahnya sambil melirik buku karya Sjumandjaya di mejanya. Matanya pindah ke luar dan menumbuk kumpulan hujan yang menipis, tetapi masih membawa hawa dingin. Kapiler darahnya saat ini benar-benar terasa beku.

“Baiklah.”

Setelah mengetahui keberadaan si pemilik suara berat teman mengobrolnya tadi Cinta langsung bergegas dan mencari orang itu di depan toko buku. Ia berpikir, kenapa tidak sekalian mencari buku saja ya? Cinta melipat payung, lalu masuk dan mecari beberapa kumpulan cerpen. Saat itu ponselnya berbunyi lagi.

“Maaf, tadi saya ke supermarket sebentar. Kamu sudah sampai?”

“Saya sedang di dalam. Sebentar lagi saya keluar.”

Cinta mengambil beberapa buku lalu pergi ke kasir tanpa mengantre. Lalu tangannya mendorong pintu sambil melangkah. Namun, ia tidak benar-benar keluar dengan mantap. Kakinya terhenti di tengah-tengah pintu itu karena keberadaan seorang laki-laki berpipi gempal sedang menahan tubuhnya untuk melangkah lagi.

“Apa kabar, Cinta?” Hari itu hujan turun lagi dengan lebatnya. Meski ada banyak perubahan laki-laki di hadapannya masih saja sangat ia hafal parasnya.

Cinta diam sejenak. “Saya pikir kamu tidak akan pulang. Saya pikir kamu lari.“ Ia mengela napas panjang, lalu melanjutkan, “Harusnya dulu saya tanya, kamu akan pulang  di purnama yang ke berapa?!”

Rangga tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah ponsel. Bibirnya menggumamkan sesuatu.

“Haruskah kulari ke hutan lalu belok ke pantai kalau di depan saya ada cinta?”

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam #KisahNovember @Kampusfiksi

 

The Boy in The Sun (2)

Di bawah meja berpayung dan burger yang baru digigit sedikit, Cath menaruh pandangan kaget. Belum lama ini laki-laki yang senyumnya bagai mentari sedang mengganggunya dengan sikap dan sorot mata yang sudah mulai ia hafal. Levi, laki-laki itu adalah orang pertama yang menarik hatinya selain Simon Snow. Cath dibuatnya tercenung dengan kalimat, ‘Aku pacarnya’ kepada seorang gadis yang barusan berjalan dengan muka masam ke arah mereka, dan sekarang sudah menjatuhkan bokongnya dengan kasar.

“Lev, kau mau membuatku membencimu?” Seorang gadis bernama Reagan melipat tangannya di atas meja sambil melotot kepada Levi. Dan respon laki-laki itu hanya tersenyum. Senyum yang sama yang diberikannya kepada Cath beberapa waktu lalu. Setelah itu mata Reagan mendelik, “Jadi kau yang bernama Cath?”

Cath mengangguk tanpa mengulurkan tangannya. Begitu pun yang dilakukan Reagan, ia hanya menyebutkan namanya lalu fokus kembali kepada Levi. Demi Tuhan! Cath ingin pergi dari tempat itu segera.

“Kau harus berhati-hati. Gadisku ini berbahaya, Cath. Suatu hari nanti kau akan merasa tidak nyaman dengan mukanya ini.” Levi terkekeh sambil melirik Reagan.

Gadis yang disinggung Levi langsung memukuli dan menghunjaminya dengan tatapan tajam. Cath hanya bisa menunduk dan mempererat genggaman burger di tangannya. Sebenarnya sejak pagi sampai kedatangannya ke Pound Hall ia belum menyentuh sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sekarang setelah ia benar-benar ingin memakan sesuatu, dua orang di depannya malah merusak hal tersebut dengan tawa yang terdengar hambar di telinga Cath.

Ah, sekarang aku ingin menulis!

Cath biasa mendesah seperti itu jika sedang merasa bosan. Sebenarnya, kapan pun  ketika ia merasa seperti itu hanya menulislah yang membuatnya tersenyum lagi. Simon Snow, yang selalu ada di pikirannya mampu menutupi semua perasaannya biarpun hanya sementara.

“Cath, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat, lho.” Lamat-lamat Levi menatap Cath sambil menekan pundaknya.

Sentuhan tiba-tiba itu mampu membuat Cath bergetar dan pipinya memerah.  Di saat seperti ini ia selalu tidak mau sekelompok kupu-kupu berkumpul di mana-mana. Perut, pipi, pencernaan, di mana pun itu ia tidak mau. Karena baginya kupu-kupu dalam purutnya hanya akan menggelitiknya saja lalu lama-lama akan membuatnya ketergantungan.

“Hey!” Reagan mendelik lagi.

“Aku harus mengantarnya kembali ke Pound Hall. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Ingat ya, kau harus menjaga teman sekamarmu ini!” Levi bangkit sambil mengusap puncak kepala Reagan.

Cath ikut-ikutan bangkit dan menggeleng cepat. “Tidak usah, lagian aku memang ingin kembali ke Pound Hall. Barang-barangku kan belum dibereskan.” Ia tersenyum kaku sambil meninggalkan kedua orang itu.

Napasnya naik turun saat meninggalkan Pear’s. Cath adalah tipe orang yang selalu menyendiri dan sibuk dengan Simon Snow seharian penuh. Bahkan karena hal tersebut tidak ada laki-laki yang benar-benar dekat dengannya karena Cath selalu menjaga jarak. Tapi setelah laki-laki itu memandangnya sambil tersenyum, hal yang selalu ia takutkan seperti kupu-kupu dalam perut, sekarang benar-benar terjadi kepadanya. Cath menyukai laki-laki yang bisa menyengatnya sampai ke ubun-ubun seperti yang dilakukan Levi. Ia menyukainya.

“Cath!” Suara Levi melengking. Bahkan Cath tahu suara itu walaupun ia tidak berbalik atau berhenti untuk menyakinkan.

Jangan berbalik! Kalau berbalik kau akan kalah dan kalau itu terjadi kau tidak bisa berhenti lagi walaupun hanya selangkah. Tidak bisa berhenti menyukai Levi, pacar Reagan.

“Cath!” pekik Levi sekali lagi.

Cath mengembuskan napas panjang sambil memantapkan langkahnya. Cinta pada pandangan pertama memang merepotkan. Sekarang aku benar-benar terpengaruh oleh senyumannya, segera dengan suaranya bahkan.

Levi duduk lagi sambil menilik wajah Reagan. “Dia kenapa ya?”

“Sebenarnya kau ingin apa? Aku sedang sibuk dan kau menyuruhku ke sini hanya untuk menemuinya?! Aku bahkan akan menemuinya setiap hari.” Reagan selalu tidak bisa berhenti menunjukkan muka masamnya.

“Sepertinya dia percaya.” Levi mengusap-usap dagunya.

“Percaya apa?”

“Kalau kau pacarku.”

Fanfiction ini diikut sertakan dalam #KuisFangirl yang diadakan oleh @NovelAddict_ bersama penerbit spring dan Haru

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Sekali Lagi Ada Bunga di Senyummu

Cinta pertama. Dua buah kata itu yang terlintas ketika aku menemukan wajahmu di setiap buku harian yang isinya kebanyakan tentangmu. Semua teman-teman, keluarga, sampai kucing darimu juga tahu bahwa dulu kita pernah menjalin kasih. Dahulu.

Cinta pertama. Ketika aku mendengar kata itu pikiranku selalu bekerja lebih cepat dari biasanya. Suatu ketika di ruang duduk ketika aku sedang membuka lembaran foto alumni SMA, aku diingatkan sesuatu. Setiap kali mencintaimu selalu ada pemikiran yang sejatinya kamu setujui. Mencintai itu seperti sedang ditelanjangi di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat. Cinta itu tanpa alasan bukan? Mencintai ya mencintai saja.

“Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan cinta.” Kadang kamu sering menyela dengan kalimat itu. Dan aku hanya bisa senyum-senyum sambil menatapmu lamat-lamat.

“Terus?”

Aku berusaha mengulik sesuatu dari pemikiranmu. Barangkali aku bisa mencari celah untuk mengetahui kedalaman perasaan itu.

“Tapi bisa saja definisi kamu sedikit menggambarkannya.” Kamu ikutan tersenyum alih-alih malah membuatku tambah gemas. Kamu hanya membolak-balikkan kalimatku. “Tapi, perihal cinta pertama apa kamu tahu?” Kamu membuat pandanganku naik ke langit-langit. “Cinta pertama itu…” Kamu nampak sedang berpikir, lalu meneruskannya, “Seperti ditelanjangi  di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat untuk pertama kalinya,” katamu yang disudahi dengan tawa sambil menjawil daguku.

“Itu sih kalimat aku.” Aku bersandar di sofa sambil memandang langit-langit lagi. Saat itu aku sadar gerak-gerikku tidak lepas dari pandanganmu.

“Cinta pertama adalah kamu. Manis. Cantik. Hangat. Lucu. Berisik. Cinta pertama itu kamu, sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan.” Penjelasanmu berhasil membuat tubuhku tegak lagi.

Sebelum menjawab pernyataannmu aku menyesap kopi yang sedari tadi aku biarkan sampai mendingin. Setelah aku menaruh cangkir Mama datang dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar. Aku mengangguk dan memandang kamu lagi.

“Kenapa?” Kamu tersenyum sambil melihat aku yang turut tersenyum.

“Kamu tahu? Cinta pertamaku itu tidak terdefinisi. Yang aku tahu, aku selalu kepayahan menahan sesuatu yang menggelegak di sini.” Aku menepuk dadaku.

Biasanya kamu selalu penasaran kalau aku tidak memberi tahu apa maksud dari sesuatu hal atau jadi marah ketika aku ingin tahu foto kanak-kanak yang ada di dompetmu. Tapi kali ini kamu hanya tersenyum dan tersenyum.

Lalu definisi itu berakhir ketika semuanya terasa salah. Ada satu dan lain hal yang membuatku tak bisa merasakan apa-apa. Biasanya apa pun yang terjadi di antara kita dan pertengkaran yang hanya berdurasi tiga menit, senyumanmu mampu menjadi hiburan tersindiri saat-saat itu. Ada yang bilang cinta pertama tidak akan berhasil. Sekarang aku memercayainya. Definisi-definisimu yang waktu itu juga hanya perasaan sesaat saja.

Aku mengembuskan napas panjang ketika sudah kembali dari delapan tahun silam. Mataku menilik jam yang sedang menunjukkan pukul tujuh kurang. Seharusnya lima belas menit lagi acara reuni SMA ini akan segera di mulai.

“El, Ellen!” Temanku Tia menjawil lenganku sambil menunjuk sesuatu dengan dagunya. Aku mengekorinya dengan cepat dan akurat. Tatapanku jatuh ke sebuah meja bundar dengan gelas warna-warni di atasnya yang di depannya ada seorang laki-laki yang dulu sering aku katakan kepadanya bahwa aku mencintainya.

Jarak kita teramat jauh tapi aku bisa melihat dengan jelas pipimu agak gempal dan tubuhmu semakin jangkung. Aku menahan saliva yang tidak masuk ataupun keluar dari tenggorokan.

“Andi!” Tia menjerit sampai teman-teman yang lain memandang ke arah kami. Aku hanya bisa mengusap-usap tengkuk sambil bersembunyi di tubuh rampingnya. Kamu yang telah menerima sebuah lambaian langsung berjalan ke arah kami sambil membawa dua gelas minuman.

“Apa kabar?” Ia bukan sedang berbicara kepada Tia. Dia sudah menghilang di menit ketika kamu melangkahkan kaki. Anak itu memang sengaja melakukannya. Dia senang mengerjaiku dengan hal-hal semacam ini.

Aku apa kabar? Mungkin baik mungkin saja tidak. Sebenarnya aku ingin menjawab seperti itu, tetapi yang keluar hanyalah, “Hmm, baik.” Sambil mengangguk kikuk. Lalu ada keinginan untuk menambahkan kalimat seperti, “Apa kamu juga baik?” Tapi malah helaan panjang yang terdengar. Aku memang payah.

Kamu menyodorkan salah satu gelas kepadaku, lalu yang satunya kamu teguk sendiri. Kamu juga sepertinya terlihat canggung, tetapi kamu selalu pandai menyiasatinya.

“Apa ada yang mau kamu katakan?” Wajahku naik dan mendapati matanya yang entah sedang berbicara apa.

“Apa kamu tidak punya?” Aku menurunkan wajahku lagi.

“Aku ada,” ujarmu, lalu meneguk isi gelas itu sampai habis dan menaruhnya di meja. Kala itu aku kesusahan menarik napas dengan dua buah kalimatmu..

Aku mengangguk sambil bergumam, “Apa?”

“Waktu itu, ketika kamu tidak mencegahku untuk pergi, aku sudah memutuskan untuk kembali lagi ke kamu. Tapi setelah tahu kenyataannya, kamu sudah tidak di posisi semula lagi.” Sekarang kamu menggulung kemajamu sampai ke siku. Bolehkah kurasakan hangatnya tangan itu lagi?

Aku terdiam sejenak sambil memainkan kuku yang dicat warna pastel. Entah Sudah yang ke berapa kali aku mengangguk. Saat kalimat itu berakhir aku melakukannya lagi. “Kamu masih ingat tentang definisi cinta pertamamu yang waktu itu?” Sial, Aku malah memancingmu ke masa lalu.

Sebelum kamu menjawab, orang-orang ribut mengerumuni sebuah papan yang isinya foto-foto sewaktu SMA. Ada juga yang iseng memasang foto memalukan sewaktu mereka masih kecil. Saat itu sesuatu terlintas, apa ada fotomu yang dulu tidak boleh kulihat?

Kita berjalan menuju dinding itu sambil melanjutkan kalimat tadi yang sempat terjeda. “Hmm, aku masih ingat. Definisi itu tidak aku ubah sampai sekarang.” Kamu membuat jeda, lalu menumbukku dengan satu buah pernyataan. “Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?”

Waktu itu langkah kita berhenti karena sudah sampai di depan papan yang tak banyak dikerumuni orang lagi. Aku senyum-seyum sendiri saat melihat foto delapan tahun yang lalu yang saat itu gayaku masih terlihat kuno. Lalu mataku liar mengamati setiap foto itu satu persatu. Adakah foto masa kecilmu di sana?

Aku melirik wajahmu yang sedang tersenyum. Sekali lagi ada bunga disenyummu. Kamu bahkan masih terlihat manis saat ada rambut-rambut halus yang sekarang bisa kulihat dengan jelas.

“Ketemu!” Seseorang di sebelahku berteriak sambil menunjuk sebuah foto SMA-nya. Tapi fokusku bukan pada foto itu, melainkan foto yang ada di atasnya. Kamu juga sadar dengan foto itu dan segera menyambarnya, tetapi tanganku sampai duluan sehingga kamu malah mengenggam tanganku.

Aku mohon lepaskan! Dan kamu malah menikmati fantasi itu. Aku gemetar tapi tidak berupaya melepaskannya. Aku kadung nyaman sih. Lalu aku menarik foto itu dan memerhatikannya lamat-lamat. Kamu kecil dan dewasa sama-sama terlihat manis. Di sebuah tempat rekreasi kamu nampak sedang memakan kembang gula yang tangan sebelahnya dipegangi oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan berbaju cokelat. Aku masih hafal itu adalah Papa kamu.

Di belakang kalian ada sebuah bianglala yang sedang berputar. Namun, lebih dekat sebelum bianglala itu ada banyak orang-orang yang sedang mengabadikan momen bersama keluarganya termasuk gadis kecil yang sedang digendong oleh Mamanya. Aku tergelak sekaligus tidak percaya. Bahkan jauh sebelum masa-masa SMA itu aku dan kamu sudah dipertemukan.

Kamu merampas foto itu dan memasukannya ke dalam dompet. “Jadi, apa yang mau kamu katakan waktu itu?”

Aku menatapmu sambil bergeming.

Harusnya pertemuan-pertemuan itu tidak pernah ada. Sekarang, jika ditanya seperti itu aku hanya mampu merunutnya di dalam hati. Walaupun begitu aku masih merasa semuanya terasa salah.

Laki-laki dalam foto itu juga Papaku. Haruskah aku katakan itu? Sebenarnya ada yang perlu kamu tahu, waktu itu aku memang sengaja membiarkan cinta pertamaku pergi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event menyambut terbitnya Novel baru karya @ninnakrisna terbitan @grasindo_id

B1QOzsmCcAAJN8K

Never Let Go oleh Ninna Rosmina

Mencintaimu Ada Caranya

“Sha, ini di mana?”

Kamu yang mukanya ketus sekarang benar-benar telihat lucu. Kepalamu tidak mau diam saat  melontarkan itu. Dan ada sesuatu yang mampu mengalihkan penglihatanmu selain aku. Julangnya menara itu seolah berkata, ‘Aku lebih indah dari gadis itu’.”

“Aku tidak tahu. Seharusnya kita berada di tempat Mr. Smith.” Aku memasang ekspresi kebingungan. Sebenarnya aku hanya ingin mengerjaimu saja, tetapi kamu benar-benar tidak tahu Eiffel. Ya sudah, kuteruskan kisah terdampar ini.

“Hubungi Risa! Siapa tahu dia sudah sampai.” Aku merengut dan mengatakan baterai ponselku habis. Aku tidak suka caramu mengucapkan nama kekasihmu. Hangat.

Tidak kehabisan akal, kamu menyuruhku menggunakan telepon umum, dan aku menyerah. Sambil menunggu kedatang Risa kita memandangi kumpulan burung yang beterbangan setiap kali ada orang melintas, lalu tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas di kepalaku.

“Kamu mencintai Risa?”

Kamu menoleh sambil merengut. “I love her so much.”

Aku mengigit bibir bawahku. Berulangkali aku mendengar kalimat itu dan telingaku masih saja sakit.

Jamak rasanya ketika diri sendiri masih terbelenggu dengan pemikiran bahwa kamu memang begitu. Jahat dan tidak mau peduli, tetapi aku masih memaklumi, dan kamu mengulanginya lagi. Harusnya aku merasa jengah dan pergi berbekal amarah tanpa ada satu pun kenangan yang kubawa atau kucabuti. Ah, mungkin nanti hanya aku yang akan diracuni mimpi tentangmu lagi. Tentu kamu tidak akan pernah merasakan karena sedari awal kamu tak memberi dan kita tidak saling berbagi. Saling membutuhkan atau melepaskan. Makanya di kehidupanmu tidak ada yang namanya luka. Sepertinya hanya aku yang mengalami masa-masa sulit ini.

Dan rupanya mencintaimu ada caranya. Diam-diam.

[ Diikutsertakan dalam #PestaFF yang diadakan @NBC_IPB dan @novellianaapsari ]

Leonardo & Samantha

Bila kau merasa tidak bahagia dengan seseorang yang baru, kau boleh berbalik dan temui aku. Di penghujung jalan ini aku selalu setia menunggumu.

Aku selalu saja terkikik dengan kata-kata lelaki itu saat terakhir kali kami saling jumpa di depan pelataran gereja yang semula adalah tempat pertemuan pertama kami. Lucu memang, kami memulai dan mengakhiri di tempat yang sama. Bukan semata-mata ingin memiliki momentum yang unik. Coba bayangkan! Bagaimana bisa perpisahan antara sepasang kekasih boleh disebut cerita unik karena latar tempat berakhirnya? Semuanya omong kosong. Cinta itu hilang saat kami mengakhirinya di sana.

Di depan pelataran gereja itu, aku memandang sekilas bayangan dua orang yang sedang beradu argument karena segelas kopi tumpah di kemeja sang gadis. Lelaki itu tetap keras kepala tidak mau mengakui kesalahannya sampai-sampai aku harus berbicara lebih keras darinya, padahal aku tahu dari wajahya saja umurnya lebih tua dariku. Di akhir perdebatan panjang, ia meminta maaf dengan kening berkerut. Tentu aku tahu ia terpaksa. Tapi aku tak mau memperpanjang masalah, yang penting ia sudah meminta maaf. Tak lama setelah itu ia mampu mengejarku sampai ke halte.

Di depan halte ia seperti orang kebingungan. “Mana nomor HP-mu! Bajumu biar aku ganti!” katanya setelah jeda lumayan lama.

Ah, sialan. Begini, nih, mau minta nomor ponsel saja alih-alih malah menjadikan perdebatan tadi sebuah kesempatan. Tapi setidaknya ia masih punya sopan santun.

Memori masa lalu itu terputar kembali. Berulang kali pula aku merutuk diri. Hallo, Samantha, you must go move on!

Jengah memandang terus ke gereja yang julang itu, aku segera beranjak dan membawa satu buntel dokumen yang harus aku serahkan kepada manager hari ini. Ah, manager-ku itu betul-betul menyebalkan. Mentang-mentang aku karyawan baru, selalu saja aku yang menjadi korban antar-antar barang.

Kuperhatkan jalanan sedikit lengang. Sudah mau akhir pekan aku masih saja bekerja dan bekerja. Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja.

Seperti tidak ada laki-laki yang akan mengencani saja! Aku selalu saja mempertegas kalimat itu. Seperti aku dan Ethan tidak punya hubungan apa-apa saja.

“Hati-hati, dong!” Seseorang melenting ketika aku menubruknya di depan kantor.

“Maaf… Maaf!” Aku membungkuk beberapa kali, sampai-sampai tumpukan dokumen itu mau ambruk.

Demi Tuhan! Hari ini benar-benar hari terburukku.

“Orange?”

Aku membelalak. Satu-satunya yang memanggilku dengan nama buah itu hanya Leo. Leonardo Hannes. Mantan kekasihku lima tahun yang lalu. Wajahku naik dan mengamati laki-laki itu. Ia masih terlihat sama, hanya saja ada rambut-rambut tipis yang mengelilingi dagunya. Leo juga bertambah tinggi beberapa senti.

“Benar kan, kau Orange?”

Aku mengangguk kikuk. Selama ia memandangku, aku tak berkata apa pun, yang jelas pertemuan ini benar-benar mengejutkan. Aku jadi tidak berani memikirkannya lagi kalau setiap kali aku membayangkannya  saja dia tiba-tiba muncul.

“Kau bekerja di sini?” tanya dia lagi.

“Hmm.” Aku mengangguk sambil masuk ke kantor. Kami jalan beriringan saat mencari elevator.

“Kau juga?”

“Hmm.” Ia ikut-ikutan bergumam.

Selama di dalam elevator kami tak saling berbincang. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan sejak lama.

“Kenapa kau memanggilku Orange, bahkan sampai sekarang?”

Leo diam sejenak.

Orange is sweet, sour, and fresh. Orange is a something that I love much more. I am without it not something. Kata Leo sambil tersenyum.

Aku dan Sepotong Hati

Aku manakutkan. Aku menakutkan meski hanya menyerupai bayangan setelah raga disinari cahaya. Orang bilang semakin terang cahaya semakin kuat juga bayangan yang dihasilkan. Ah, omong kosong, kuat ataupun tidak sebuah bayangan dari sosok ini tidak akan mengubah segalanya. Sosok dari gadis manis berambut hijau dengan kepangan kecil yang melilit ke belakang. Tidak ada yang menyangka sosok yang jelita ini mampu melakukan hal yang gila, bukan?

Di bawah lampu jalan aku berjalan menaiki beberapa anak tangga, berbelok ke kanan, lalu bertemu dengan lorong kecil yang dasarnya tergenang air hujan. Di tempat yang sedikit terkena sorotan lampu itu seseorang sedang menungguku dalam gigilnya. Hujan baru saja reda dan ia memintaku datang ke sana sendirian, tanpa mobil merk terbaru atau motor besar yang menjemput ke rumah terlebih dahulu.

“Mor….” Laki-laki yang sedang bersandar pada dinding lembap itu mendesah ketika rambutku berkibar dihempas angin, ketika langkahku mendera aspal, dan aroma yang semerbak ke hidungnya. Yah, dia memang sangat menghafalnya. Kami memang sering bersama sejak satu tahun silam.

“Hmm,” kataku sambil loncat ke dalam pelukannya.

“Pakai Sampo apa, kok wanginya beda?” tanya lelaki bernama Regan itu sambil mengusap puncak kepalaku sampai tengkukku meremang.

Aku mempererat pelukanku sambil membayangkan senyumannya yang khas.

“Kenapa, kok diem?” Ia melepas pelukannya dan menyambar pipiku. Ia usap-usap sampai aku meleleh.

Entah sudah berapa lama aku hanya membuat jeda dan memandang wajahnya. Kulihat rambut-rambut tipis tumbuh di sekitar dagu. Kuusap usap wajahnya yang kasar itu. Geli.

“Kamu tahu? Aku mencintaimu. Aku mencntaimu sampai aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Regan mengangguk sambil berguman. “Hmm. Aku tahu.”

“Tapi ada yang lebih aku sukai melebihi dirimu.”

Regan tersenyum sambil mencari tahu jawabannya dalam mataku.

“Hatimu.” Aku memeluknya lagi. Saat itu hujan turun lagi, tidak teralalu deras hanya rintik-rintik kecil yang sedikit membasahi kami. Ah, aku tidak peduli, aku sudah dihangatkan Regan.

“Hmm. Aku juga tahu.” Regan memelukku erat sekali. Lebih erat dari biasanya. Sampai-sampai jemariku dengan mudahnya menancap ke kulitnya, mengorek-ngorek jantung yang masih berdetak sangat lambat, detak yang diperuntukkan bagi seorang Morgiana.

Krashhh! Aku melumat habis jantung yang kucongkel secara paksa dara tubuh besarnya. Dingin, kurasakan itu setelah mencapai kerongkonganku. Sedingin perasaanku malam itu.

*Note: Sebelum membuat cerita ini aku bertanya terlebih dahulu kepada salah seorang teman dekat yang bagi aku dia sudah seperti Soulmate. Ke mana-mana bareng, tidak sedikit kami berjumpa dengan warna baju yang sama ketika janjian untuk ke suatu tempat. Saat aku tanya sebaikanya aku menulis tentang apa, dia hanya bilang “Nulis Horror aja! Horror romance.” Aku kaget karena satahuku dia sangat menyukai cerita romantis yang akhirnya selalu bahagia. Rupanya dia sedang menantang aku untuk menulis genre tulisan yang jarang sekali aku sentuh. Dan terciptalah beberapa kata dari cerita yang dia mau itu, meski mata ini sudah ngantuk karena baru pulang dari suatu tempat.

Boy in The Sun

Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring

 

Ada cowok di dalam kamarnya.

Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.

“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath mengerjap dan mengusap-usap tengkuknya tanpa menurunkan tangannya dan membalas uluran itu.

“Tidak ada. Aku Cath, kau sudah tahu,” kata Cath sambil melempar pandangan ke arah lain. Matanya mengamati setiap sudut kamar barunya.

Levi tersenyum teramat manis. Saat itu juga Cath merasa mendapat sengatan mentari. “Jadi, kau mau ikut kami ke Pear’s?”

Tidak ada suara yang dilesakkan Cath. Ia memberi jeda pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Levi, sebenarnya ia sedang menimang-nimang akan pergi atau tetap tinggal.

Sebelum Cath melontarkan sesuatu, Levi sudah menyambarnya duluan. “Nanti akan kubantu membereskannya kalau kau ragu soal barang-barangmu,” ujar Levi. Sekali lagi ia tersenyum begitu manis.

Cath tak berucap satu patah pun, sementara Levi memandangi kaus berwarna biru muda dengan gambar Simon Snow di bagian tengahnya sambil senyum-senyum. Matanya naik-turun menatap wajah Cath yang terlihat tegang.

“Percayalah, kau tidak akan menyesal. Burger itu benar-benar lebih besar dari kepalan tanganmu,” ujar Levi lagi sambil tersenyum.

Entah sudah yang ke berapa kali ia memberikan senyumannya kepada Cath. Yang jelas Cath merasa dirinya semakin canggung dengan tingkah laku Levi. Ia bersumpah jika sekali lagi cowok itu memberinya satu buah senyuman, Cath akan menerima ajakan itu.

“Kau benar tidak mau pergi, hmm?” Levi menumbuk seluruh wajah Cath dengan bola matanya. Pandangannya penuh dengan wajah Cath yang sedang gugup. Rasanya ada yang menggelitik perut Cath lagi.

“Aku pergi.” Cath mengangguk dengan masih saja ada kegugupan di nada suaranya dan dibalas sebuah senyuman oleh cowok itu.

Ah, kapan kau akan berhenti tersenyum? Batin Cath saat mengekori Levi.

Tidak butuh waktu lama dari asramanya menuju Pear’s. Levi langsung mengantre, sedangkan Cath menunggu di bangku yang kosong. Selama itu matanya liar menjajaki pemandangan di sekitarnya.

“Kau menyukainya?” tanya seorang cowok yang suaranya mulai dihafal oleh Cath.

Pundak Cath menegang. Ia tersentak oleh kedatangan Levi yang tiba-tiba. Cowok itu langsung duduk di hadapan Cath dan melahap burger-nya.

“Terima kasih,” lontar Cath pendek. Jiwanya yang selalu berada di dalam kamar bersama Simon Snow dan Laptop-nya sekarang merasa terkejut.

Levi  memaksa burger-nya masuk ke dalam kerongkongan dengan Soft drink. “Makanlah! Kau tidak akan kecewa dengan rasanya. Sudah kupilihkan yang enak.”

Cath menurut dan memakannya sedikit-sedikit. Saat itu Levi mendapat sebuah panggilan telepon. Beberapa menit ia berbicara dengan ponselnya, setelah itu Levi melanjutkan pembicaraannya dengan Cath.

“Jadi kau penggemar Simon Snow?”

Cath mengangguk setelah melihat gambar di kausnya.

“Aku juga menyukainya. Aku bahkan sering membaca Fanfiction-nya,” terang Levi dengan antusiasnya.

Cath membelalak. “Benarkah?”

“Iya, ada satu penulis yang sangat aku sukai. Namanya Magicath,” jelas Levi. Ia berpikir sejenak. “Mungkinkah itu kau? Nama kalian mirip,” tambahnya sambil tertawa.

Tenggorokan Cath tercekat. Yang sedang dibicarakan memang benar adalah dirinya, tapi ia sama sekali tidak bisa berkata apa pun.

“Ah, itu dia.” Levi tersenyum sambil melambai ke seseorang yang sedang berjalan ke arah mejanya. Cath, kali ini ia malah berharap selalu mendapat senyuman dari cowok yang baru dikenalnya itu.

Cath mengikuti ke mana mata Levi pergi. Seorang gadis berwajah masam dengan tas selempang warna cokelat itu tengah berjalan tergesa-gesa.

“Siapa?”

Levi menoleh. “Teman sekamarmu, Reagan.”

Cath terkejut. Jadi bukan kau?

“Ah aku lupa, aku tadi membantunya mengangkut kardus.”

“Membantu?”

“Iya, aku pacarnya.” Levi tersenyum lebar.

 ***

 

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell

Terbit: November 2014