Elsa’s Secret

imagesedd

[ Diikutkan Dalam Lomba Menulis ‘Love With a Witch by Hyun Go Wun’ ]

Brandon sama seperti remaja kebanyakan. Pergi ke sekolah, bermain bola, menjahili anak perempuan, dan melakukan banyak hal dengan seenak jidatnya. Satu hal yang membedakannya dengan yang lain. Tubuhnya bisa mengeluarkan api berwarna biru. Ssst…, ini aku saja yang tahu. Sebelum ketika ia menyeret imajinasiku ke dalam dunianya, sebelum akhirnya aku dibuat jatuh-bangun dengan pesonanya. Sebelum keduanya terjadi aku sudah tahu.

“Elsa!” Dalam dekapan sebuah mantel Brandon melambai ke arahku sambil tersenyum lebar. Ada seragam sekolah yang kulihat di sana selepas ia berjalan.

Dengan jarak sebuah jalan dan lampu merah aku bisa menangkap ia sedang bermain-main dengan sihirnya. Ia mendekat dan semakin terlihatlah kobaran api itu dengan tubuh yang tak sedikit pun kuyup. Aku berdecak jika merasakan lagi kepalaku yang basah oleh hujan yang sedang mendera meski sudah diteduhi payung.

Aku mengamati sekeliling. Rasanya lega tidak ada yang mengetahui rahasia besarnya ini.

“Kamu jaga baik-baikan kekasihku ini?”

Aku mengulum lagi senyuman yang sudah mengembang, kemudian membuang muka ke tanah. Aku ini bukan anak kecil yang sedang butuh penjagaan seseorang. Apalagi dari perawan tua yang sedang bersamaku ini. Aku melirik wajahnya yang sedang bersinar. Di sana kudapatkan sebuah senyuman dengan arti khusus kepada Brandon.

“Kamu tidak usah khawatir, dia tidak merepotkan, kok,” kata perawan tua sambil melirikku.

Setelah percakapan pendek itu, Brandon membawaku pulang. Seragam sekolahnya masih saja kering padahal hujan sedang gencar-gencarnya memburu bumi. Satu hal lagi yang membuat Brandon tampak menakjubkan. Ia membuat wanita itu tidak sadar dengan tubuhnya yang tidak kebasahan. Selalu saja wajahnya yang menjadi pusat perhatian.

Dalam perjalan itu, aku mendengarnya bersenandung. Dia boleh tampan, tapi suaranya tidak bisa untuk di dengar dengan nada meliuk-liuk tanpa harmonisasi yang pas. Ketika itu ia langsung bercerita, sepertinya ia tahu perasaanku dengan baik kalau soal ini.

Katanya begini, “Elsa, aku sedang jatuh cinta.”

Di sekililing sedang hujan, tapi kenapa kurasakan petir sedang berlomba-lomba menyambar dadaku? It’s hurt, dude!

Brandon melanjutkan sambil mencapai puncak kepalaku. Mengusap-usapnya dan membuatku bergetar setengah mati. Aku harap setiap hari tangannya selalu seperti itu. “Ada seorang wanita yang mati-matian ingin kuambil hatinya tapi tidak pernah bisa,” tambahnya sambil berhenti di depan halte.

Kuamati baik-baik wajahnya. Kelenjar air mataku luruh begitu saja bercampur genangan air di pinggir jalan sejak ia mengucapkan kalimatnya. Brandon yang  mengatakan aku adalah kekasihnya sudah tidak bisa aku percayai lagi kata-katanya.

“Elsa, aku minta maaf.” Brandon mengamatiku. Mungkin ia sekarang sudah tahu kalau mataku sudah basah. Entahlah, dia selalu bodoh jika disuruh membaca bola mataku. Padahal kalimat “Aku cinta kamu” sering kuteriaki sampai aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Susah kalau sudah berurusan dengan penyihir bodoh yang hanya pintar bermain api.

Kemudian Brandon duduk di atas deretan kursi yang masih kosong. Sambil menungu bus ia membisikkan sesuatu. “Kadang-kadang hati seseorang itu bisa terbagi dengan sendirinya, lho. Kecuali kamu pintar menjaganya. Sayangnya aku bodoh, sih. Bisa-bisanya aku mencintai…,”

Stop!” Mungkin itu arti teriakanku kepadanya, sehingga membuat Brandon kelimpungan melihatku yang meledak-ledak.

“Oh, Elsa, please,” bujuk Brandon sambil menangkap kembali puncak kepalaku.

Jujur saja, aku sudah tidak tahan. Pemikiran aku tidak bisa terbebas dari dunianya saja masih melekat dengan baik di dalam kepala. Sekarang ia mengagetkanku dengan kalimat itu. Aku bisa saja mati mendadak di tempat ini.

Tapi adakah yang bisa kulakuan selain bilang, “Jangan pergi ke lain hati!” atau sekadar, “Brandon, mampukah kamu melihat isi hatiku?”

“Resa,” lanjut Brandon setelah aku berhenti meracau.

Setelah nama itu ia ucap, aku hanya bisa melanjutkan pertanyaan. Adakah yang bisa kulakukan jika aku sendiri tidak bisa menandingi perawan tua itu? Sekadar menjambak rambutnya mungkin, atau membuat onar di rumahnya saat aku menginap di sana. Atau bisa saja langsung melabraknya dan bilang “Brandon adalah milikku.”

Sesuatu yang klise dilakukaan saat orang lain merebut kekasihnya. Tapi adakah yang bisa kulakukan selain menyadari diri sendiri dengan letak perbedaan yang terjadi di antara kami? Yang perlu kusampaikan kepadanya suatu hari nanti adalah, “Berbahagialah bersama wanita yang kamu cintai!” Tidak untuk sekarang karena aku sedang patah hati oleh api birumu yang sering menghangatkan tubuhku.

Ada hal yang belum kusampaikan. Kalau orang bilang tidak ada alasan saat mencintai. Itu salah. Karena nyatanya, alasanku mencintai Brandon adalah karena dia adalah dirinya. Seorang Brandon yang mampu membuat aku jatuh cinta dengan kebodohannya, api birunya, serta rasa aman yang kudapat kalau dia sudah memelukku erat.

Beberapa menit setelah itu Brandon berkata kepadaku, “Lihat nih, aku sudah belikan kamu makanan. Jadi lain kali kamu tidak akan tersedak tulang ikan lagi.”

Meowww!

FB_20150304_21_24_19_Saved_Picture[1]

Advertisements

Scary of Sady

Diikutkan Dalam Lomba Menulis Cerpen ‘Majo & Sady’

11011294_799121493475618_8276522854963876132_n

Sady dan rumah baru menjadi dua hal yang sangat berarti bagiku. Sejak kehidupan kami dimulai, pemikiranku tentang hidup tenang  dan bersantai di sofa ruang tamu segera lenyap. Sady sudah jauh-jauh hari membuatkan daftar pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan kami berdua. Kemudian akan menjadi rutinitas baru untuk ke depannya.

Hari senin sampai sabtu aku membuat sarapan, sedangkan Sady kebagian hari minggu saja. Belum apa-apa sudah berat sebelah begini. Mulai terlihat deh, Sady yang tidak bisa memasak. Padahal hari minggu juga tetap aku yang memasak. Yang dilakukan Sady, kan cuma membuat dapur berantakan dengan telur mata sapi gosong atau air yang surut karena ditinggal menonton acara Talk Show.

Kemudian jadwal yang sudah ia buat itu tidak keruan. Misalnya hari senin sampai rabu Sady mencuci baju lain harinya aku yang melakukan. Hari sabtu adalah ritual membersihkan kamar mandi yang hasilnya ia hanya bermain air sambil menyipratiku yang sedang menggosok lantai.

Pernah suatu hari waktu hari libur tiba, Sady sudah duduk manis di depan meja makan sambil membaca sebuah majalah dan meneguk secangkir teh hangat.

“Hari ini mau ke mana ya?” Sady bermaksud menyindirku karena minggu kemarin aku berjanji mengajaknya ke pantai. Tapi sayangnya hari ini aku kurang enak badan dan membatalkan janjiku kepada Sady.

Aku berdeham sambil membawa dua mangkuk bubur ke depan Sady.

“Wohooo, ini pasti enak,” kata Sady sambil bertepuk tangan. Sudah lupakah dia dengan jadwal memasaknya yang telah ia buat beberapa minggu yang lalu?

“Kok, ayamnya dipotong kecil-kecil? Aku kan nggak suka.” Sady menatapku dengan tatapan datar.

Setelah menyendok bubur kedua, aku menahan yang ketiga dan memperhatikan Sady yang sudah melipat tangan di depan dada.

“Aku buatkan lagi ya?” kataku menawarkan diri. kalimat itu rasanya lebih aman daripada sebuah alasan ini-itu.

Setelah aku kembali ke dapur kulihat ia tengah cengengesan sambil memakan keripik.

Yah, Sady memang seperti itu. Kadang dia suka meledak-ledak kalau aku tidak mau melakukan hal-hal yang ia minta. Contohnya seperti potong rambut yang ia lakukan kamis lalu. Padahal dia memotong seenak jidatnya sendiri dengan panduan sebuah majalah mode. Aku kan jadi kesal dengan gaya rambut tidak jelas buatan Sady.

Belum lagi kalau Sady sudah kumat dengan kebersihannya. Seharian penuh, punggungku bisa habis digosok olehnya cuma karena kau kecipratan lumpur di jalan. katanya aku banyak kumannya. Apalagi kalau menyangkut keuangan. Aku minta dibelikan sekumpulan ikan kecil saja dia langsung menjentikkan jari dan menyemburkan mottonya, hemat pangkal kaya.

Tapi Sady tetaplah Sady. Semenjengkelkan apa pun sifatnya, secapek apa pun aku melakukan daftar yang sudah ia buat, aku telah memilihnya sejak awal dan berjanji akan selalu membahagiakannya. Malah akan menjadi berbeda kalau dia berubah menjadi istri kalem, bermulut manis, dan sering kerja di dapur. Rasanya ada yang salah saja. Rasanya aku bukan menikahi Sady si tukang suruh, pemalas, dan tentunya yang mencintai suaminya dengan baik.

Apa pun itu, asalkan Sady merasa bahagia aku tetap akan melakukannya. Dan jika ada kata yang lebih hebat daripada kata ‘cinta’ aku akan mati-matian memberikannya meski dilakukan dengan berdarah. Karena aku mencintainya. Sangat. Lebih dari apa pun.

Purwakarta, 2 Maret 2015

1545696_799123193475448_1590826402508308213_n

10264869_799122626808838_390654746823398546_n

10945573_799122793475488_7445464674671198619_n

11026056_799123246808776_2526434352249406949_n

Lovember

Bukan maksudku mau membagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Cinta tercenung saat membaca deretan kalimat itu setelah dua belas tahun lamanya bersarang di lemari. Kumpulan-kumpulan kalimat lainnya yang sudah ia salin waktu itu masih sering ia tengok sampai ujung kertasnya lecek dan hampir sobek. Terutama kalimat yang diucapkan oleh Chairil sewaktu jalan di pantai.

Jika membaca lagi buku itu ia seakan kembali ke masa-masa itu. Ketika ia masih bersama Rangga dan saling berbagi kisah dengannya. Lalu sesuatu seperti nada pesan masuk membuatnya kembali ke masa sekarang.

Alya:

Ta, kayaknya besok gue nggak bisa nganter nyari buku deh. Gue ada urusan penting. Tapi besok gue tetep dateng ke acara kita, kok.

 

Me:

Hmm, nggak apa-apa. Gue besok sendiri aja. Yang penting kalian sama yang lain dateng ya!

 

Cinta mematikan ponselnya. Matanya menerawang jauh ke depan pada hujan pertama yang turun di bulan November. Tangan kanannya dipakai untuk menopang dagu, sedangkan yang lainnya memainkan sebuah pensil.

Sudah berapa kali purnama kamu tidak pulang, Rangga?

Ponsel itu bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk yang berhari-hari selalu ia hindari. Andre, rekan sekantornya.

Dering-dering berikutnya membuatnya putus asa. Ia sudah hafal jika di jam-jam segini orang itu menghubunginya, bukan masalah kantor lagi yang akan ia bicarakan. Berulang kali Cinta menolak laki-laki itu, tetapi dia tidak pernah putus asa dan malah tambah tergila-gila dengan Cinta.

Cinta mengembuskan napas panjang setelah panggilan itu berhenti. Tangannya buru-buru mencari nomor Max dan menghubunginya.

“Hallo? Max, bisa tolong kirimkan dokumen dari Bu Hana ke saya sekarang?” Cinta langsung berkoar setelah hubungan telepon itu tersambung.

“Maaf, dengan siapa?”

“Lho, ini bukannya nomor Max? Kamu siapa?” Cinta menyelipkan rambutnya ke telinga sambil mengerutkan dahi.

“Saya baru saja menemukan ponsel ini di jalan. Sepertinya jatuh. Kalau kamu temannya bisa tolong berikan ponsel ini lagi ke dia?”

Cinta mnggigit bibir bawahnya sambil melirik buku karya Sjumandjaya di mejanya. Matanya pindah ke luar dan menumbuk kumpulan hujan yang menipis, tetapi masih membawa hawa dingin. Kapiler darahnya saat ini benar-benar terasa beku.

“Baiklah.”

Setelah mengetahui keberadaan si pemilik suara berat teman mengobrolnya tadi Cinta langsung bergegas dan mencari orang itu di depan toko buku. Ia berpikir, kenapa tidak sekalian mencari buku saja ya? Cinta melipat payung, lalu masuk dan mecari beberapa kumpulan cerpen. Saat itu ponselnya berbunyi lagi.

“Maaf, tadi saya ke supermarket sebentar. Kamu sudah sampai?”

“Saya sedang di dalam. Sebentar lagi saya keluar.”

Cinta mengambil beberapa buku lalu pergi ke kasir tanpa mengantre. Lalu tangannya mendorong pintu sambil melangkah. Namun, ia tidak benar-benar keluar dengan mantap. Kakinya terhenti di tengah-tengah pintu itu karena keberadaan seorang laki-laki berpipi gempal sedang menahan tubuhnya untuk melangkah lagi.

“Apa kabar, Cinta?” Hari itu hujan turun lagi dengan lebatnya. Meski ada banyak perubahan laki-laki di hadapannya masih saja sangat ia hafal parasnya.

Cinta diam sejenak. “Saya pikir kamu tidak akan pulang. Saya pikir kamu lari.“ Ia mengela napas panjang, lalu melanjutkan, “Harusnya dulu saya tanya, kamu akan pulang  di purnama yang ke berapa?!”

Rangga tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah ponsel. Bibirnya menggumamkan sesuatu.

“Haruskah kulari ke hutan lalu belok ke pantai kalau di depan saya ada cinta?”

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam #KisahNovember @Kampusfiksi

 

The Boy in The Sun (2)

Di bawah meja berpayung dan burger yang baru digigit sedikit, Cath menaruh pandangan kaget. Belum lama ini laki-laki yang senyumnya bagai mentari sedang mengganggunya dengan sikap dan sorot mata yang sudah mulai ia hafal. Levi, laki-laki itu adalah orang pertama yang menarik hatinya selain Simon Snow. Cath dibuatnya tercenung dengan kalimat, ‘Aku pacarnya’ kepada seorang gadis yang barusan berjalan dengan muka masam ke arah mereka, dan sekarang sudah menjatuhkan bokongnya dengan kasar.

“Lev, kau mau membuatku membencimu?” Seorang gadis bernama Reagan melipat tangannya di atas meja sambil melotot kepada Levi. Dan respon laki-laki itu hanya tersenyum. Senyum yang sama yang diberikannya kepada Cath beberapa waktu lalu. Setelah itu mata Reagan mendelik, “Jadi kau yang bernama Cath?”

Cath mengangguk tanpa mengulurkan tangannya. Begitu pun yang dilakukan Reagan, ia hanya menyebutkan namanya lalu fokus kembali kepada Levi. Demi Tuhan! Cath ingin pergi dari tempat itu segera.

“Kau harus berhati-hati. Gadisku ini berbahaya, Cath. Suatu hari nanti kau akan merasa tidak nyaman dengan mukanya ini.” Levi terkekeh sambil melirik Reagan.

Gadis yang disinggung Levi langsung memukuli dan menghunjaminya dengan tatapan tajam. Cath hanya bisa menunduk dan mempererat genggaman burger di tangannya. Sebenarnya sejak pagi sampai kedatangannya ke Pound Hall ia belum menyentuh sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sekarang setelah ia benar-benar ingin memakan sesuatu, dua orang di depannya malah merusak hal tersebut dengan tawa yang terdengar hambar di telinga Cath.

Ah, sekarang aku ingin menulis!

Cath biasa mendesah seperti itu jika sedang merasa bosan. Sebenarnya, kapan pun  ketika ia merasa seperti itu hanya menulislah yang membuatnya tersenyum lagi. Simon Snow, yang selalu ada di pikirannya mampu menutupi semua perasaannya biarpun hanya sementara.

“Cath, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat, lho.” Lamat-lamat Levi menatap Cath sambil menekan pundaknya.

Sentuhan tiba-tiba itu mampu membuat Cath bergetar dan pipinya memerah.  Di saat seperti ini ia selalu tidak mau sekelompok kupu-kupu berkumpul di mana-mana. Perut, pipi, pencernaan, di mana pun itu ia tidak mau. Karena baginya kupu-kupu dalam purutnya hanya akan menggelitiknya saja lalu lama-lama akan membuatnya ketergantungan.

“Hey!” Reagan mendelik lagi.

“Aku harus mengantarnya kembali ke Pound Hall. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Ingat ya, kau harus menjaga teman sekamarmu ini!” Levi bangkit sambil mengusap puncak kepala Reagan.

Cath ikut-ikutan bangkit dan menggeleng cepat. “Tidak usah, lagian aku memang ingin kembali ke Pound Hall. Barang-barangku kan belum dibereskan.” Ia tersenyum kaku sambil meninggalkan kedua orang itu.

Napasnya naik turun saat meninggalkan Pear’s. Cath adalah tipe orang yang selalu menyendiri dan sibuk dengan Simon Snow seharian penuh. Bahkan karena hal tersebut tidak ada laki-laki yang benar-benar dekat dengannya karena Cath selalu menjaga jarak. Tapi setelah laki-laki itu memandangnya sambil tersenyum, hal yang selalu ia takutkan seperti kupu-kupu dalam perut, sekarang benar-benar terjadi kepadanya. Cath menyukai laki-laki yang bisa menyengatnya sampai ke ubun-ubun seperti yang dilakukan Levi. Ia menyukainya.

“Cath!” Suara Levi melengking. Bahkan Cath tahu suara itu walaupun ia tidak berbalik atau berhenti untuk menyakinkan.

Jangan berbalik! Kalau berbalik kau akan kalah dan kalau itu terjadi kau tidak bisa berhenti lagi walaupun hanya selangkah. Tidak bisa berhenti menyukai Levi, pacar Reagan.

“Cath!” pekik Levi sekali lagi.

Cath mengembuskan napas panjang sambil memantapkan langkahnya. Cinta pada pandangan pertama memang merepotkan. Sekarang aku benar-benar terpengaruh oleh senyumannya, segera dengan suaranya bahkan.

Levi duduk lagi sambil menilik wajah Reagan. “Dia kenapa ya?”

“Sebenarnya kau ingin apa? Aku sedang sibuk dan kau menyuruhku ke sini hanya untuk menemuinya?! Aku bahkan akan menemuinya setiap hari.” Reagan selalu tidak bisa berhenti menunjukkan muka masamnya.

“Sepertinya dia percaya.” Levi mengusap-usap dagunya.

“Percaya apa?”

“Kalau kau pacarku.”

Fanfiction ini diikut sertakan dalam #KuisFangirl yang diadakan oleh @NovelAddict_ bersama penerbit spring dan Haru

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Boy in The Sun

Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring

 

Ada cowok di dalam kamarnya.

Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.

“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath mengerjap dan mengusap-usap tengkuknya tanpa menurunkan tangannya dan membalas uluran itu.

“Tidak ada. Aku Cath, kau sudah tahu,” kata Cath sambil melempar pandangan ke arah lain. Matanya mengamati setiap sudut kamar barunya.

Levi tersenyum teramat manis. Saat itu juga Cath merasa mendapat sengatan mentari. “Jadi, kau mau ikut kami ke Pear’s?”

Tidak ada suara yang dilesakkan Cath. Ia memberi jeda pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Levi, sebenarnya ia sedang menimang-nimang akan pergi atau tetap tinggal.

Sebelum Cath melontarkan sesuatu, Levi sudah menyambarnya duluan. “Nanti akan kubantu membereskannya kalau kau ragu soal barang-barangmu,” ujar Levi. Sekali lagi ia tersenyum begitu manis.

Cath tak berucap satu patah pun, sementara Levi memandangi kaus berwarna biru muda dengan gambar Simon Snow di bagian tengahnya sambil senyum-senyum. Matanya naik-turun menatap wajah Cath yang terlihat tegang.

“Percayalah, kau tidak akan menyesal. Burger itu benar-benar lebih besar dari kepalan tanganmu,” ujar Levi lagi sambil tersenyum.

Entah sudah yang ke berapa kali ia memberikan senyumannya kepada Cath. Yang jelas Cath merasa dirinya semakin canggung dengan tingkah laku Levi. Ia bersumpah jika sekali lagi cowok itu memberinya satu buah senyuman, Cath akan menerima ajakan itu.

“Kau benar tidak mau pergi, hmm?” Levi menumbuk seluruh wajah Cath dengan bola matanya. Pandangannya penuh dengan wajah Cath yang sedang gugup. Rasanya ada yang menggelitik perut Cath lagi.

“Aku pergi.” Cath mengangguk dengan masih saja ada kegugupan di nada suaranya dan dibalas sebuah senyuman oleh cowok itu.

Ah, kapan kau akan berhenti tersenyum? Batin Cath saat mengekori Levi.

Tidak butuh waktu lama dari asramanya menuju Pear’s. Levi langsung mengantre, sedangkan Cath menunggu di bangku yang kosong. Selama itu matanya liar menjajaki pemandangan di sekitarnya.

“Kau menyukainya?” tanya seorang cowok yang suaranya mulai dihafal oleh Cath.

Pundak Cath menegang. Ia tersentak oleh kedatangan Levi yang tiba-tiba. Cowok itu langsung duduk di hadapan Cath dan melahap burger-nya.

“Terima kasih,” lontar Cath pendek. Jiwanya yang selalu berada di dalam kamar bersama Simon Snow dan Laptop-nya sekarang merasa terkejut.

Levi  memaksa burger-nya masuk ke dalam kerongkongan dengan Soft drink. “Makanlah! Kau tidak akan kecewa dengan rasanya. Sudah kupilihkan yang enak.”

Cath menurut dan memakannya sedikit-sedikit. Saat itu Levi mendapat sebuah panggilan telepon. Beberapa menit ia berbicara dengan ponselnya, setelah itu Levi melanjutkan pembicaraannya dengan Cath.

“Jadi kau penggemar Simon Snow?”

Cath mengangguk setelah melihat gambar di kausnya.

“Aku juga menyukainya. Aku bahkan sering membaca Fanfiction-nya,” terang Levi dengan antusiasnya.

Cath membelalak. “Benarkah?”

“Iya, ada satu penulis yang sangat aku sukai. Namanya Magicath,” jelas Levi. Ia berpikir sejenak. “Mungkinkah itu kau? Nama kalian mirip,” tambahnya sambil tertawa.

Tenggorokan Cath tercekat. Yang sedang dibicarakan memang benar adalah dirinya, tapi ia sama sekali tidak bisa berkata apa pun.

“Ah, itu dia.” Levi tersenyum sambil melambai ke seseorang yang sedang berjalan ke arah mejanya. Cath, kali ini ia malah berharap selalu mendapat senyuman dari cowok yang baru dikenalnya itu.

Cath mengikuti ke mana mata Levi pergi. Seorang gadis berwajah masam dengan tas selempang warna cokelat itu tengah berjalan tergesa-gesa.

“Siapa?”

Levi menoleh. “Teman sekamarmu, Reagan.”

Cath terkejut. Jadi bukan kau?

“Ah aku lupa, aku tadi membantunya mengangkut kardus.”

“Membantu?”

“Iya, aku pacarnya.” Levi tersenyum lebar.

 ***

 

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell

Terbit: November 2014

The Story Only I didn’t Know

Aku perdu yang dilalap api, engkau pandu yang ditelan bumi. Kita tak berkisah, kita tak bercerita. Kita hanya sebuah birama dalam gelas.

Aku memejam. Berulang kali kuulang kalimat yang kupercayai sebagai mantra pemintal rindu untukmu.

“Satu…, dua…, tiga….” Setelah selesai menghitung, bunga Dandelion langsung membelai pipiku. Angin sedang memihakku kali ini. Mereka riang menari bersama pucuk-pucuk bunga itu, mengembus dengan mesranya.

Selama itu mulutku tak berhenti bersenandung. Lagu-lagu milik The Beatles seperti I will atau in My Life keluar begitu saja berupa dehaman. Aku benar-benar merasakan mereka sedang mengantarmu kembali. Membawa kenangan juga harapan bersama angin di akhir Agustus.

Detik demi detik berlalu, kurasakan aroma tubuhmu yang menyejukan. Ruas-ruas jemarimu menutupi kelopak mataku. Kau belai halus setiap jengkal wajahku saat aku masih memejam. Tak ada yang terlewat, kening, hidung, pipi, bibir, dan dagu. Jemarimu yang hangat menyentuhnya dengan syahdu. Sudah lama kurindukan ini sejak terakhir kita bertemu. Tidak, sebelum itu bahkan.

“Jaehyun-ah…,”desisku dengan suara gemetar. Mataku berbinar dan masih saja tak memercayai bahwa itu dirimu. Pertama kali aku melihat lagi wajah itu, kutemukan hunjaman dari sorot matamu. Tunggu! Apa di matamu ada tumpahan arak? Kalau tidak, kenapa aku bisa jadi semabuk ini ketika menumbuknya?

Gumpalan air dalam mataku sudah tak tertahankan lagi. Beberapa tetesan air mata jatuh mengenai jemarimu yang buku-buku jarinya sudah memutih. Lalu sesekali kau seka dengan lembutnya. Saat itu kau berkata, “Jangan menangis lagi, air matamu bukanlah kebahagianku.”

Betapa luluhnya aku ketika mendengar suara khasmu. Kala itu air mataku habis diseka olehmu. Kau tak lelah, kau tak marah. Kau hanya tak tega melihatku menangis karena sakitnya merindu. Rindu yang sudah menjalar sampai ke urat nadi dan baru sempat kutumpahkan.

“Jiyeon-ah…,” katamu dengan senyuman manis milikmu. “Ada kalanya, mantra itu tidak akan berfungsi lagi.” lanjutmu lagi. Kini jemarimu meremas jari-jariku dengan lembut. Kurasakan hampir tak ada sehelai udara pun yang mampu menyelinap di antaranya. Bulu kudukku langsung meremang, sehebat itu kah sentuhanmu? Ah, sejak dulu kau memang begitu.

“Jaehyun-ah….” Aku tak merespon pernyataan itu, dan malah melemparnya dengan sebuah gumamman.

“Emm?” Kau hanya berdeham. Tapi aku tetap meyukainya.

Aku mengusap-usap puncak lenganmu. “Saat ini yang paling aku inginkan dalam hidup adalah bersamamu. Apa kau juga sama?”

Kau tak merespon. Jelas membuatku bingung, tetapi genggamanmu yang semakin erat tak menggoyahkanku sama sekali. Aku tetap percaya kau akan selalu di sampingku. Meski kepercayaanku itu tak sepenuhnya dipenuhi kebenaran. Tapi aku tetap memilih untuk percaya.

Mataku menerawang ke arah bunga Dandelion yang sedang beterbangan. Jiwaku seakan ikut terbang bersama mereka. Ketika itu alunan piano seolah berputar-putar di kepalaku. Kata-katamu sudah tak aku hiraukan. Hanya suara piano itu saja.

“Kau yang kemarin, sekarang ataupun nanti tetaplah sama. Dengan atau tanpa mantra pun kau selalu jadi Jaehyun-ku. Kau selalu jadi rinduku.” Kepalaku bergerak-gerak mengikuti irama lagu.

Saat itu kau memandangiku pilu. “Sedang mendengarkan lagu?” tanyamu hati-hati. Wajahmu menilik ke dalam rautku.

“Iya, ini lagumu yang waktu itu kau perdengarkan. Aku suka, boleh kubungkus dan kubawa pulang?” tuturku sambil tersenyum jahil padamu. Saat itu kamu turut tersenyum melihat tingkahku. Katamu aku menggemaskan, sedangkan bagiku kau mengagumkan.

Lagi dan lagi kau memperlihatkan tatapan sedihmu. Hey, aku sedang bahagia. Aku sedang menikahinya sekarang. Hebat bukan bisa menikah dengan bahagia? Jangan hancurkan pernikahanku dengan tatapan itu. Aku tidak suka!

Kau diam seperti biasa, sedang menikmati sandaran kepalaku di bahumu. Kau pernah bilang, sandaranku selalu membuatmu nyaman. Sesekali aku bergumam tentang lagu darimu. Kubilang berulang kali bahwa aku bahagia bisa bersamamu, dan kau hanya mengangguk. Ah, aku benar-benar bahagia. Bisa bersamamu adalah kebutuhan, bahkan sudah kuubah ke mana  tempatku berpulang. Bukan lagi rumah dengan keluarga, tetapi dirimu dengan segenap perasaan candu itu.

“Jiyeon-ah…,” desahmu untuk yang kedua kalinya.

“Jaehyun-ah, aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu. Aku sedang menikmati angin, nih,” kataku setengah merajuk. Tubuhku bergerak-gerak waktu bersandar kepadanya.

Tubuhmu yang sedang rileks langsung ditegapkan, kepalaku kau singkirkan. Angin sore itu menyibak piringan hitam yang tengah berputar di dalamnya.

“Maaf…,” ucapmu, yang berhasil membuat tanda tanya besar di benakku. “Ada yang perlu kau tahu. Aku tak bisa bersama denganmu lagi,” ujarmu lagi dengan wajah meyakinkan.

Air mukaku berubah keruh seketika. Banyak pertanyaan yang berjubel di bibirku sampai akhirnya hanya mengeluarkan gumaman yang tidak jelas. Aku membelai wajahmu yang kini mulai mendingin. Sakit kurasa setelah menyambar sel-sel kulitmu. Aku seolah disadarkan sesuatu.

“Kini tidak akan ada lagi mantra yang mampu menghadirkanku. Aku ya aku, kau ya dirimu. Dari awal aku hanya bersumber dari isi kepalamu.” Kau menatapku dengan tajam. Sejenak aku gagal mengerti dengan tatapan itu. Air dari pematangku berlomba-lomba untuk jatuh lagi. Tidak cukupkah gerimis memenuhi wajahku?

Lalu tangisku memenuhi seluruh wajah. Samar kulihat wajah itu tengah mendekat, tanganmu mengambil sesuatu dari telingaku. Sebuah headset yang entah sejak kapan sudah terjejal di sana.

“Itu bukan lagu dariku. Itu lagu milikmu,” tuturmu sangat pelan. Bahkan setengah berbisik. Saat itu pertahananku langsung runtuh di hadapanmu. Tubuhku gigil diterpa angin yang semakin kencang. Kausku yang tipis tak mampu menahannya. Kulitku rapuh setelah terkenanya.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu cerita ini?” Aku terisak di balik jemari tanganku, sedangkan tanganmu masih tak bosan membelai rambutku yang terjurai sampai ke puncak dada. Aku tersedu.

“Kembali ke kehidupanmu! Jangan menangis lagi, karena itu bukanlah kebahagiaanku,” terangmu lagi. Sudah kuhafal kalimat terakhirmu, terngiang teramat jelas di telinga ini bersama dentingan piano itu.

“Aku mohon tetaplah di sampingku. Sungguh ini bukan perpisahan yang indah.” Aku terus memohon dengan berderai air mata. Nyatanya kau tak mendengarkan, lantas pergi dibawa angin bersama bunga-bunga Dandelion. Ketika itu lagumu serta cerita-cerita tentang kita berputar di bola mataku bersamaan ketika aku menangis sambil terpejam.

Sakit! Perih! Nyeri!

Kemudian, yang kusadari setelah kepergianmu adalah saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu.

Aku bukan perdu, dan engkau bukan pandu lagi. Kita memang tak berkisah juga tak bercerita, kita hanyalah birama dalam gelas kosong. Engkau hanya mantra yang kubuat sendiri, kau hanya sebuah cerita yang tak kuketahui awalnya. Paduan indah yang kuwujudkan dan diam-diam kuhirup aromanya. Senyawa dalam kepalaku yang sering kali inginku kurengkuh wajahnya.

Kau mati, aku runtuh.

Nyatanya kau ada hanya ketika aku mati rasa.

Tulisan ini ditulis berdasarkan isi lagu The story I didn’t know oleh IU, namun ditulis dengan versi yang berbeda.