Ketakutan Paling Besar

Banyak sekali yang seseorang takutkan belakangan ini. Dulu gue punya temen yang takut sama korek api. Gue nggak menerima alasan yang jelas tentang ketakutan itu. It’s weird. Itu kayak lelucon. Tapi mungkin bagi dia itu adalah ketakutannya yang paling besar.

Ketakutan yang sampai saat ini belum bisa gue atasi adalah unhapiness. Gue takut nggak bahagia. Tapi ketakutan paling besar gue adalah takut buat seseorang yang gue sayangi nggak bahagia.

Ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Bisa jadi karena gue terlalu mencoba membuat orang lain bahagia malah membuat gue sendiri jadi nggak bahagia. Bisa juga karena sebaliknya. Kalau kata orang menjadi nggak bahagia itu bukan ketakutan. Tapi memang ketidakmauan bagi semua seorang. Tapi bagi gue itu bukan sekadar ketakutan. Bahkan hal-hal seperti itu bisa menghancurkan dari dalam.

Ketika bersama seseorang gue bisa membuat hal-hal sepele menjadi lucu. Entah itu karena gue yang buat atau mereka yang membulli gue habis-habisan karena saking lucunya. Tapi saat kesendirian itu datang kadang gue merasa nggak bahagia. Gue seperti pelarian yang kapan saja bisa dikunjungi oleh seseorang. Kadang di suatu titik terberat gue ketidakbahagiaan itu seperti menarik gue kuat-kuat. Padahal mungkin untuk yang lain itu cuma masalah tersandung batu di jalan. Tapi ketika gue yang mengalami beda rasanya.

Ketakutan seseorang nggak bisa dianggap cuma sekadar lelucon. Nggak bisa juga dengan mudahnya lo memberi solusi kemudian mengatakan kalau gue bisa melewati hari-hari terberat itu. Bisa jadi malah itu menjadi beban baru untuk yang mengalami. Karena yang sebenarnya orang itu perlukan adalah keberadaan orang lain. Bukan kata-katanya.

Advertisements

Two Years

Malam, udah sekitar dua atau tiga tahun gue nggak mampir ke blog. Bingung mau bahas apa. Kemarin instagram ramai sama kematian seseorang. Gue turut berduka untuk siapa pun yang sedang terkena musibah. Gue pengin membahas hal ini. Hal-hal yang membuat seseorang berpikir tidak rasional dan gegabah. Gue pikir seseorang pasti akan mencapai pada suatu titik kehancuran. Ada yang memilih merekatkan kembali meski tak sempurna. Ada pula yang membiarkannya semakin terluka.

Kebanyakan dari mereka nggak sadar betapa besar anugerah yang mereka miliki.  Betapa istimewanya mereka di mata orang lain. Betapa dibutuhkannya mereka oleh seseorang. Kadang emosi selalu lebih menggurui daripada logika. Jujur aja gue pernah dalam posisi ini. Siapa yang tidak pernah merasa terlalu kecil? Terlalu dianggap remeh? Atau bodoh? Gue yakin beberapa dari kalian pernah.

Betapa lo pengin bangkit, pengin menunjukkan segalanya tapi kekuatan lo nggak ada. Lo cuma kelihatan bodoh dan terpojok sama keadaan. Gue pernah mengalami masa-masa itu. Semakin gue ingin merekatkan kepingan-kepingan itu semakin hancur pula mereka. Menjadi lebih kecil dan sulit dijangkau. Bagian terberatnya adalah ketika seseorang yang lo anggap bisa memperkokoh pertahanan kaki atau sekadar menegakkan pundak bersikap seolah mereka udah nggak butuh lo lagi. Datang ketika mereka kesepian. Pergi ketika mereka sudah terobati oleh yang sedang hancur-hancurnya. Dan bahkan ada yang memangkas harapan-harapan yang gue yakin mereka nggak bermaksud menghancurkan.

Dunia ini memang lucu. Hati manusia bahkan lebih lucu. Ia bergerak sesuka hati tanpa tahu yang menopang hidupnya mampu berdiri atau tidak. Kalau dipikir-pikir kerumitan dan rasa sakit itu datang hanya dalam jangka waktu yang pendek. Tapi ketika diingatkan dengan itu lagi. Dada seperti berkubang oleh lara. Seperti sudah kecanduan. Padahal itu rasa sakit bukan arak.

Entahlah, saat ini yang terlintas dalam benak gue cuma memperbaiki segalanya. Terutama hati yang selalu tidak tertata dengan rapi. Agar mereka lebih kuat. Agar mereka lebih mampu menahan sepele ini. Mungkin gue kudu banyak doa kemudian melihat ke sekeliling.

Good night, Readers.

 

Nasihat ter-hakpret!

Alkisah…. (Halah)

Gue bukan mau berpidato atau  numpang curhat. Gue cuma mau sharing beberapa paragraf yang entah berguna atau nggak. Lo juga nggak perlu khawatir. Gue bukan sales yang mau nawarin produk yang ada ekstraknya atau mau cerita kisah sedih di hari minggu yang mendayu-dayu dan penuh haru-biru. Tenang aja!

Ada beberapa hal yang nggak pernah lepas dari sifat manusia dari dulu sampai sekarang. Beberapa diantaranya bakal gue bahas di sini. Mari simak!

Pertama. Sejak dulu sampai sekarang kebanyakan orang selalu mengalami masalah sama gengsi. Ngapain sih pake gengsi-gengsian?  Gengsi berlebihan tidak akan mengurangi lemak di perut Anda. Ingat! Lho?

Gue sendiri nggak memungkiri meski kadang-kadang gengsi kalau ditawarin martabak telor sama tukang dagangnya atau saat bepergian lupa nggak bawa duit. Yah, namanya juga manusia pasti punya rasa gengsi lah. Namun, kalau dalam keadaan mendesak gue sama sekali tidak memikirkan gengsi itu lagi. Contohnya, kalau lagi berantem sama adek gue, sebut saja dia Bintang, lalu gue perlu penghapus dan harus pinjem sama dia. Karena gue sudah lewat masa kelulusan mau bagaimana lagi, kan? Mau beli juga males kalau cuma penghapus doang. Mending pinjem penghapus gopean dia, kan?  Terpaksa gue menghilangkan rasa gengsi itu dengan tampang tak tahu malu. Tanpa segan gue masuk ke kamarnya dan meraih tas pundaknya sambil merogoh tempat pensilnya dan bilang , “Gue pinjem penghapus!” Bintang  tentu saja tidak menyetujui. Namun karena ketangkasan gue, sebelum dia mengamuk gue sudah lari dan mengurung diri di kamar sambil cekikikkan.

Kedua. Ragu-ragu. Ragu-ragu bisa berakibat fatal bagi kemaslahatan hidup manusia. (Halah! Gue mulai sok tahu lagi.) Ragu-ragu karena tidak percaya diri juga sering dialami remaja yang sudah beranjak dewasa. Biasanya mereka memikirkan dulu prospek ke depannya, sehingga langkah dan keputusan yang mereka sangat memengaruhi masa depan. Hal itulah yangg akan menimbulkan keragu-raguan dalam mengambil keputusan. Gue sendiri sering mengalami keragu-raguan selama ini. Misalnya ragu-ragu untuk terjun dari puncak monas atau potong rambut dengan gaya cepak atau plontos. Mikir beratus-ratus kali pun gue masih nggak yakin, ragu untuk melakukan hal gila itu.

Ok, yang terakhir. Merasa menyesal. Banyak sekali penyesalan di dunia ini. Menyesal telah melepasmu contohnya. Cieee, uhuk! Kadang orang melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati mereka. Mereka hanya mengandalkan pemikiran sehingga menimbulkan sebuah penyesalan yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri. Sebisa mungkin kita harus menghindari penyesalan, guys! Pilihan yang kita ambil seharusnya dipikirkan matang-matang dan direnungkan bersama hati kecil kalian. Setidaknya dengan pengendapan waktu itu bisa meminimalisir banyaknya penyesalan di dunia ini.

Contoh penyesalan lainnya. Ketika ada orang yang jelas sayang sama lo tapi lo malah bersikap dingin dan tidak menganggapnya. Yang perlu lo tahu dia nggak pernah kehilangan emosinya meski dipatahkan berulang kali. Sampai suatu saat lo naruh hati sama dia, dia yang sekarang mungkin sudah melepas lo atau berpaling ke seseorang yang lain. Dan akhirnya lo akan mengalami yang namanya penyesalan itu. “Kenapa ya nggak gue rangkul aja dia dari dulu? Kenapa gue nggak sadar sama perasaan gue? Kenapa? Ah, kenapa ya?” Kenapa coba? Nggak ada jawaban untuk semua pertanyaan itu. Semuanya udah berakhir dan lo harus mengulangnya dari awal lagi. Keputusan memang harus diambil secara matang. Sebenarnya lo cuma ada dua pilihan saat mengahadapi situasi kayak gini. Tapi dianjurkan diambil saat-saat pertama. Tinggal atau pergi? Lo kudu pilih salah satu, nggak bisa pilih keduanya. Tinggal lalu pergi atau pergi lalu kembali. Hakprettt! Mana ada yang mau!?

Anggap aja ini sebuah pemainan tarik tambang. “Sekuat tenaga kamu mencapai tali dan menariknya kencang-kencang, bisa saja lawanmu malah melepaskan tali, lalu pergi.”  Entah dapet bisikan dari mana gue nemu filosofi kayak gitu. Bagian yang terpenting adalah saat lo berbalik dia udah nggak ada di tempatnya lagi. Syukurin! Gue semangat banget deh kalau ngebahas beginian. So, lo harus pintar-pintar mengambil keputusan, nih. OK! Ini cuma nasehat kecil aja, sih. Kalau nggak bermanfaat ya mohon dimaklumi kalau sebaliknya diharap mengirim satu koper uang ke alamat di bawah ini. Gue nggak becanda, kok.

Tapi ada satu hal yang tanpa perlu dipirkan terlebih dahulu. Ini sesunguhnya nggak akan membuat wanita mana pun merasa menyesal. Yaitu melahirkan anaknya. Begitu pun dengan Mama gue, dia pasti nggak akan menyesal. Tunggu-tunggu! Apa iya? Ah, sudahlah, Kembali ke keperayaan masing-masing aja, ya!

Kesimpulannya, tiga hal tersebut saling berkaitan. Gengsi – Ragu-ragu – Penyesalan. Yeah! Ingat gengsi berlebihan tidak akan menghilangkan lemak diperut Anda!

Regard

Purwakarta, 17 September 2014