Blood Red Road: Negeri Berdarah dan Orang-orang Gila Merajalela


6tag_300415-003838[1]

Judul: Blood Red Road

Penulis: Moira Young

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Penyunting: Dhewiberta

Halaman:  449 hlm.

Terbit: Juli 2012

Penerbit: PT. Mizan Pustaka

“Kalau kau menyelamatkan nyawa orang tiga kali, nyawa orang itu jadi milikmu. Kau sudah menyelamatkanku hari ini. Dua kali lagi aku jadi milikmu.” (Hlm. 242)

Hari ini gue mau membahas sebuah novel Fantasi terjemahan karya Moira Young yang berjudul Blood Red Road. Sebenarnya gue nggak begitu tertarik dengan buku Fantasi. Gue lebih seneng nonton film ketimbang baca bukunya. Lebih seru, lebih mendebarkan, dan terasa Feel-nya. Tapi mungkin novel berjumlah 499 halaman karya Moira ini bakal mengubah rasa ketertarikan gue. Sebelumnya gue pernah baca buku jenis fantasi lokal yang direkomendasiin temen. Dari sanalah asal mula ketidaktertarikan gue terhadap buku fantasi. Jadi kesannya mumet, njelimet, dan met-met lainnya. Alur yang acak-acakkan, tempat khayalan yang nggak jelas dan nggak ada penjelasan mendetail, dan masih banyak lainnya. Tapi akhirnya gue merampungkannya. Mungkin itu cuma masalah bukunya yang kurang tepat waktu dibaca gue. Tapi lain kali gue bakal menikmati karya lokal lainnya, kok. I Love Indonesian books.

Red Blood Road sendiri merupakan seri pertama dari Dust Lands Trilogi. Berkisah tentang Saudara kembar Lugh dan Saba, serta adik kecilnya Emmi di sebuah desa bernama Silverlake. Di sana ia tinggal bersama Ayahnya yang merupakan pembaca bintang aneh dan tetangga bernama Procter Jhon, sedangkan Ibunya telah meninggal setelah melahirkan Emmi.

Suatu ketika lima orang berjubah hitam datang menghampirinya. Mereka menculik Lugh untuk sebuah ritual aneh di Freedom Fields. Mereka juga membunuh ayahnya. Bersisa Saba dan Emmi yang tinggal dalam kemarahan.

Saba sendiri mengklaim dirinya adalah bayangan Lugh. Ke mana pun Lugh pergi dia selalu memimpin, sedangkan Saba membuntutinya. Makanya ketika Lugh pergi ia merasa terpukul. Di dunianya hanya Lugh seorang. Bahkan Emmi tidak berarti apa-apa baginya. Saba yang rela melakukan apa pun demi Lugh akhirnya membuat janji pada dirinya sendiri dan Lugh bahwa ia akan menemukannya dan membawanya pulang bagaimanapun caranya.

Ada satu buah kalimat yang menurut gue sangat menggambarkan kerinduan Saba kepada Lugh. Dan ini dalem banget.

“Aku tidak tahu kangen kepada orang lain bisa menyakitkan,” kataku. “Tapi, itu benar. Jauh di dalam. Seperti di tulang-tulangku. Kami belum pernah berpisah hingga sekarang. Tidak pernah. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa dia. Rasanya seperti … aku ini bukan apa-apa.” (Hlm. 287)

Namun perjalanan tidak berjalan mulus. Dia bertemu dengan pasangan Pinch dan dijadikan petarung di sebuah Kerangkeng. Di mana orang-orang menjadi gila karena sebuah tanaman beranama Chaal. Tapi dia rela melakukan apa pun asalkan bisa menemukan Lugh.  Di sana juga ia bertemu dengan Jack dan sebuah perkumpulan Rajawali bebas yang anggotanya seorang wanita. Mereka mengatakan akan membantunya menemukan Lugh.

Dari halaman ke halaman sama sekali nggak membuat gue bosan. Biasanya kalau kebanyakan narasi atau dialognya bertele-tele gue pasti langsung ganti buku. Tapi yang ini, langsung habis dua kali duduk. Inilah yang gue suka dari gaya tulisan Moira. Dia nggak banyak menjelaskan detail cerita. Tapi maksud dari kalimatnya bisa tersampaikan.

Cuma ada satu yang membuat gue nggak sadar. Awalnya gue mengira mereka kembar dengan jenis kelamin yang sama, yaitu laki-laki. Ketika Jack mencium Saba, gue masih bergidig dan bertanya-tanya. Malah berpikiran kalau Jack adalah seorang gay. Lalu saat Saba dijadikan petarung, lawannya kebanyakan seorang wanita. Gue di sana belum ngeh. Kemudian setelah Jack menyebutkan ‘dua orang wanita’ barulah gue paham kalau dia seorang wanita. Saba digambarkan sebagai orang yang kuat dan pemberani makanya pemikiran gue nggak sampai ke sana untuk mengira-ngira. Jadilah salah tanggap. Tapi akhirnya gue mengerti meskipun terlambat.

Tokoh Jack sendiri bikin gemes. Dia itu Lovable. Ia sering mengganggu Saba karena rasa ketertarikannya. tTapi di sanalah daya tariknya, nggak garing dan nggak terlalu berlebihan. Porsi Jack di sini sangat pas. So, gue ngasih 4 bintang untuk buku ini. Recommended buat penikmat fantasi, nih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s