Malaikat Terindah


11034185_802337619820672_3806842506573325880_n

[ Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’ ]

Di dalam gigil tubuh Ibu aku tergugu. Beberapa menit yang lalu beling tertancap di jantungnya dan membuat mulutku terkunci. Satu dan lain hal yang membuatku memilih untuk terisak daripada pergi memangil tetangga untuk menyelesaikan darah yang sudah menggenang di lantai. Aku hanya sedang ingin menikmati pelukan terakhir dari ibu yang hangat, meski nyatanya sekarang tinggal bersisa kegigilan.

Satu jam sebelumnya aku pulang dari bimbingan belajar. Perutku keroncongan, mataku lelah, dan otakku memaksa untuk berhenti bekerja. Beberapa saat lagi akan ujian dan itu membuat semua otot-ototku menegang.

Sepulang dari sana aku langsung mencari ibu di dapur. Seperti biasa ada satu menu kesukaanku yang secara bergantian sering Ibu masak dan kusantap dengan lahap. Tempe dan sambal goreng serta nasi hangat. Semua itu dan raut muka ibu kalau tersenyum cukup membuat perasaan lelahku hilang.

Aku keluar dengan sepiring nasi dan mendapati ibu melambai kepada seorang pria. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia lebih rapi, tampan dengan rambut halus di sekitar dagunya, serta sepatu mengilat yang menghentak di beranda.

“Wi, kamu kapan pulang?” Ibu melotot dan gelagapan sambil mencari tempat duduk.

Aku menahan genggaman ke dalam piring. Mencoba menuangkan kekesalan di sana semampunya. “Bukannya kemarin yang terakhir bu?” Suaraku serak tidak seperti biasanya.

“Nggak, ini yang terakhir. Kali ini dia mau menikahi ibu.” Kalimat Ibu berakhir di sana.

Tak terasa piring yang sedang dalam genggaman itu sudah berantakan di lantai. Nasinya berceceran dan sudah dingin. Sungguh, disayangkan padahal sewaktu sampai di rumah aku lapar berat. Sekarang sepertinya kenyang oleh saliva ketika Ibu mengatakan kebohongannya lagi.

Sungguh, seharusnya dia adalah seorang malaikat yang sering teman-temanku bilang kepada Ibunya. Harusnya dia menjadi malaikat terindah bagi seorang Dewi. Aku juga ingin berangggapan begitu. Tapi rasanya berat sekali.

Tahu-tahu yang membekas dalam pikiranku hanya kalimat ‘Harusnya dulu Ibu tidak melahirkanku agar aku tidak pernah merasa sesakit ini melihat kelakuannya.” Selalu kuulang setiap aku terjepit dalam keadaan ini. Tapi hatiku masih saja rapuh dan ingin memelukknya.

Akhirnya keinginan itu pun kesampaian saat kekesalan yang kupindahkan ke dalam piring berisi nasi hangat berujung ke dada Ibu. Dia suka bermain laki-laki, dia egois, dia suka marah-marah sampai membuat pipiku kena tampar, dan dia sungguh menjengkelkan. Tapi dia selalu ada di sisiku saat aku bilang aku membencinya. Sekarang aku tahu kenapa dia tidak membuangku sewaktu kecil. Aku begitu berharga bagi Ibu. Aku teramat istimewa sehingga ia tidak ingin aku kesepian karena tidak hidup bersama. Dan sekarang aku yang membuat diriku sendiri melakukan keputusan yang tidak pernah diambil ibu kala itu.

Kepada Ibu yang tangannya pernah memelukku. Aku bersyukur kau telah melahirkanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s