Elsa’s Secret


imagesedd

[ Diikutkan Dalam Lomba Menulis ‘Love With a Witch by Hyun Go Wun’ ]

Brandon sama seperti remaja kebanyakan. Pergi ke sekolah, bermain bola, menjahili anak perempuan, dan melakukan banyak hal dengan seenak jidatnya. Satu hal yang membedakannya dengan yang lain. Tubuhnya bisa mengeluarkan api berwarna biru. Ssst…, ini aku saja yang tahu. Sebelum ketika ia menyeret imajinasiku ke dalam dunianya, sebelum akhirnya aku dibuat jatuh-bangun dengan pesonanya. Sebelum keduanya terjadi aku sudah tahu.

“Elsa!” Dalam dekapan sebuah mantel Brandon melambai ke arahku sambil tersenyum lebar. Ada seragam sekolah yang kulihat di sana selepas ia berjalan.

Dengan jarak sebuah jalan dan lampu merah aku bisa menangkap ia sedang bermain-main dengan sihirnya. Ia mendekat dan semakin terlihatlah kobaran api itu dengan tubuh yang tak sedikit pun kuyup. Aku berdecak jika merasakan lagi kepalaku yang basah oleh hujan yang sedang mendera meski sudah diteduhi payung.

Aku mengamati sekeliling. Rasanya lega tidak ada yang mengetahui rahasia besarnya ini.

“Kamu jaga baik-baikan kekasihku ini?”

Aku mengulum lagi senyuman yang sudah mengembang, kemudian membuang muka ke tanah. Aku ini bukan anak kecil yang sedang butuh penjagaan seseorang. Apalagi dari perawan tua yang sedang bersamaku ini. Aku melirik wajahnya yang sedang bersinar. Di sana kudapatkan sebuah senyuman dengan arti khusus kepada Brandon.

“Kamu tidak usah khawatir, dia tidak merepotkan, kok,” kata perawan tua sambil melirikku.

Setelah percakapan pendek itu, Brandon membawaku pulang. Seragam sekolahnya masih saja kering padahal hujan sedang gencar-gencarnya memburu bumi. Satu hal lagi yang membuat Brandon tampak menakjubkan. Ia membuat wanita itu tidak sadar dengan tubuhnya yang tidak kebasahan. Selalu saja wajahnya yang menjadi pusat perhatian.

Dalam perjalan itu, aku mendengarnya bersenandung. Dia boleh tampan, tapi suaranya tidak bisa untuk di dengar dengan nada meliuk-liuk tanpa harmonisasi yang pas. Ketika itu ia langsung bercerita, sepertinya ia tahu perasaanku dengan baik kalau soal ini.

Katanya begini, “Elsa, aku sedang jatuh cinta.”

Di sekililing sedang hujan, tapi kenapa kurasakan petir sedang berlomba-lomba menyambar dadaku? It’s hurt, dude!

Brandon melanjutkan sambil mencapai puncak kepalaku. Mengusap-usapnya dan membuatku bergetar setengah mati. Aku harap setiap hari tangannya selalu seperti itu. “Ada seorang wanita yang mati-matian ingin kuambil hatinya tapi tidak pernah bisa,” tambahnya sambil berhenti di depan halte.

Kuamati baik-baik wajahnya. Kelenjar air mataku luruh begitu saja bercampur genangan air di pinggir jalan sejak ia mengucapkan kalimatnya. Brandon yang  mengatakan aku adalah kekasihnya sudah tidak bisa aku percayai lagi kata-katanya.

“Elsa, aku minta maaf.” Brandon mengamatiku. Mungkin ia sekarang sudah tahu kalau mataku sudah basah. Entahlah, dia selalu bodoh jika disuruh membaca bola mataku. Padahal kalimat “Aku cinta kamu” sering kuteriaki sampai aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Susah kalau sudah berurusan dengan penyihir bodoh yang hanya pintar bermain api.

Kemudian Brandon duduk di atas deretan kursi yang masih kosong. Sambil menungu bus ia membisikkan sesuatu. “Kadang-kadang hati seseorang itu bisa terbagi dengan sendirinya, lho. Kecuali kamu pintar menjaganya. Sayangnya aku bodoh, sih. Bisa-bisanya aku mencintai…,”

Stop!” Mungkin itu arti teriakanku kepadanya, sehingga membuat Brandon kelimpungan melihatku yang meledak-ledak.

“Oh, Elsa, please,” bujuk Brandon sambil menangkap kembali puncak kepalaku.

Jujur saja, aku sudah tidak tahan. Pemikiran aku tidak bisa terbebas dari dunianya saja masih melekat dengan baik di dalam kepala. Sekarang ia mengagetkanku dengan kalimat itu. Aku bisa saja mati mendadak di tempat ini.

Tapi adakah yang bisa kulakuan selain bilang, “Jangan pergi ke lain hati!” atau sekadar, “Brandon, mampukah kamu melihat isi hatiku?”

“Resa,” lanjut Brandon setelah aku berhenti meracau.

Setelah nama itu ia ucap, aku hanya bisa melanjutkan pertanyaan. Adakah yang bisa kulakukan jika aku sendiri tidak bisa menandingi perawan tua itu? Sekadar menjambak rambutnya mungkin, atau membuat onar di rumahnya saat aku menginap di sana. Atau bisa saja langsung melabraknya dan bilang “Brandon adalah milikku.”

Sesuatu yang klise dilakukaan saat orang lain merebut kekasihnya. Tapi adakah yang bisa kulakukan selain menyadari diri sendiri dengan letak perbedaan yang terjadi di antara kami? Yang perlu kusampaikan kepadanya suatu hari nanti adalah, “Berbahagialah bersama wanita yang kamu cintai!” Tidak untuk sekarang karena aku sedang patah hati oleh api birumu yang sering menghangatkan tubuhku.

Ada hal yang belum kusampaikan. Kalau orang bilang tidak ada alasan saat mencintai. Itu salah. Karena nyatanya, alasanku mencintai Brandon adalah karena dia adalah dirinya. Seorang Brandon yang mampu membuat aku jatuh cinta dengan kebodohannya, api birunya, serta rasa aman yang kudapat kalau dia sudah memelukku erat.

Beberapa menit setelah itu Brandon berkata kepadaku, “Lihat nih, aku sudah belikan kamu makanan. Jadi lain kali kamu tidak akan tersedak tulang ikan lagi.”

Meowww!

FB_20150304_21_24_19_Saved_Picture[1]

Advertisements

11 thoughts on “Elsa’s Secret

  1. Halo Julia! 😀

    Tulisanmu cukup menyenangkan. Kamu mencoba menggambarkan tokoh utama yang fun, pintar, dan usil, tipe anak laki-laki yang aku suka. Hehe.

    Aku menyimak kalau kamu menuliskan cerita ini dengan gaya terjemahan. Kadang-kadang, kita harus berhati-hati dengan gaya ini, karena pertama gaya bahasa ini masih relatif lebih sulit dicerna di antara pembaca Indonesia, kedua kadang-kadang kita sering terjebak pada pemakaian kata hubung yang tidak sesuai.

    Contoh:

    “Aku berdecak jika merasakan lagi kepalaku yang basah oleh hujan yang sedang mendera meski sudah diteduhi payung.”

    Kata hubung “jika” biasanya digunakan untuk menyatakan hubungan persyaratan. Nah, kalau kita tulis ulang jadi begini statementnya: Jika aku merasa kepalaku basah, maka aku berdecak.

    Terdengar aneh tidak? 😀 Hehe.. Mungkin kata hubung “karena/ketika” lebih cocok pada kalimat ini.

    Terlalu banyak ide juga yang disampaikan terlalu pendek dalam kalimat ini, dengan kata hubung yang kurang tepat, sehingga pembaca jadi bingung membayangkannya. Kalimat ini perlu direpresentasikan dengan cara yang berbeda, yang lebih mudah dibayangkan pembaca, misalnya:

    “Aku berdecak karena merasakan kepalaku yang basah oleh AIR hujan, PADAHAL dari tadi sudah aku tutupi dengan payung.”

    atau,

    “Aku berdecak ketika merasakan kepalaku yang basah. Entah kenapa, air hujan masih sempat-sempatnya menghinggapi rambutku, padahal sudah diteduhi oleh payung.”

    Selanjutnya kita bayangkan logika kata, apakah kata “diteduhi” cocok? Kupikir, kalau memang sudah diteduhi payung, harusnya sudah tidak ada lagi namanya air hujan membasahi rambut. Kalau ternyata tidak masuk akal, kita sebaiknya memilih kosakata lain yang lebih cocok. Dalam contoh sebelumnya, aku menggunakan kata “ditutupi.” Kamu bisa pakai kosakata lain yang menurut kamu lebih sesuai.

    Nah, kira-kira begitu cara menganalisanya. 😀

    Untuk draft awal, tulisanmu sudah cukup bagus. Tinggal berlatih merevisi dan memperkaya kosa katamu dengan pembendaharaan kata yang makin imajinatif. 🙂

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis! 😀

    • Terima kasih, Kak. Seneng banget komentarnya rinci, jadi aku gampang ngerti maksudnya.
      Tentunya aku akan terus belajar, Kak. Sekali lagi terima kasih ya. Jangan bosen mampir ke blog-ku. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s