Lovember


Bukan maksudku mau membagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Cinta tercenung saat membaca deretan kalimat itu setelah dua belas tahun lamanya bersarang di lemari. Kumpulan-kumpulan kalimat lainnya yang sudah ia salin waktu itu masih sering ia tengok sampai ujung kertasnya lecek dan hampir sobek. Terutama kalimat yang diucapkan oleh Chairil sewaktu jalan di pantai.

Jika membaca lagi buku itu ia seakan kembali ke masa-masa itu. Ketika ia masih bersama Rangga dan saling berbagi kisah dengannya. Lalu sesuatu seperti nada pesan masuk membuatnya kembali ke masa sekarang.

Alya:

Ta, kayaknya besok gue nggak bisa nganter nyari buku deh. Gue ada urusan penting. Tapi besok gue tetep dateng ke acara kita, kok.

 

Me:

Hmm, nggak apa-apa. Gue besok sendiri aja. Yang penting kalian sama yang lain dateng ya!

 

Cinta mematikan ponselnya. Matanya menerawang jauh ke depan pada hujan pertama yang turun di bulan November. Tangan kanannya dipakai untuk menopang dagu, sedangkan yang lainnya memainkan sebuah pensil.

Sudah berapa kali purnama kamu tidak pulang, Rangga?

Ponsel itu bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk yang berhari-hari selalu ia hindari. Andre, rekan sekantornya.

Dering-dering berikutnya membuatnya putus asa. Ia sudah hafal jika di jam-jam segini orang itu menghubunginya, bukan masalah kantor lagi yang akan ia bicarakan. Berulang kali Cinta menolak laki-laki itu, tetapi dia tidak pernah putus asa dan malah tambah tergila-gila dengan Cinta.

Cinta mengembuskan napas panjang setelah panggilan itu berhenti. Tangannya buru-buru mencari nomor Max dan menghubunginya.

“Hallo? Max, bisa tolong kirimkan dokumen dari Bu Hana ke saya sekarang?” Cinta langsung berkoar setelah hubungan telepon itu tersambung.

“Maaf, dengan siapa?”

“Lho, ini bukannya nomor Max? Kamu siapa?” Cinta menyelipkan rambutnya ke telinga sambil mengerutkan dahi.

“Saya baru saja menemukan ponsel ini di jalan. Sepertinya jatuh. Kalau kamu temannya bisa tolong berikan ponsel ini lagi ke dia?”

Cinta mnggigit bibir bawahnya sambil melirik buku karya Sjumandjaya di mejanya. Matanya pindah ke luar dan menumbuk kumpulan hujan yang menipis, tetapi masih membawa hawa dingin. Kapiler darahnya saat ini benar-benar terasa beku.

“Baiklah.”

Setelah mengetahui keberadaan si pemilik suara berat teman mengobrolnya tadi Cinta langsung bergegas dan mencari orang itu di depan toko buku. Ia berpikir, kenapa tidak sekalian mencari buku saja ya? Cinta melipat payung, lalu masuk dan mecari beberapa kumpulan cerpen. Saat itu ponselnya berbunyi lagi.

“Maaf, tadi saya ke supermarket sebentar. Kamu sudah sampai?”

“Saya sedang di dalam. Sebentar lagi saya keluar.”

Cinta mengambil beberapa buku lalu pergi ke kasir tanpa mengantre. Lalu tangannya mendorong pintu sambil melangkah. Namun, ia tidak benar-benar keluar dengan mantap. Kakinya terhenti di tengah-tengah pintu itu karena keberadaan seorang laki-laki berpipi gempal sedang menahan tubuhnya untuk melangkah lagi.

“Apa kabar, Cinta?” Hari itu hujan turun lagi dengan lebatnya. Meski ada banyak perubahan laki-laki di hadapannya masih saja sangat ia hafal parasnya.

Cinta diam sejenak. “Saya pikir kamu tidak akan pulang. Saya pikir kamu lari.“ Ia mengela napas panjang, lalu melanjutkan, “Harusnya dulu saya tanya, kamu akan pulang  di purnama yang ke berapa?!”

Rangga tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah ponsel. Bibirnya menggumamkan sesuatu.

“Haruskah kulari ke hutan lalu belok ke pantai kalau di depan saya ada cinta?”

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam #KisahNovember @Kampusfiksi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s