The Boy in The Sun (2)


Di bawah meja berpayung dan burger yang baru digigit sedikit, Cath menaruh pandangan kaget. Belum lama ini laki-laki yang senyumnya bagai mentari sedang mengganggunya dengan sikap dan sorot mata yang sudah mulai ia hafal. Levi, laki-laki itu adalah orang pertama yang menarik hatinya selain Simon Snow. Cath dibuatnya tercenung dengan kalimat, ‘Aku pacarnya’ kepada seorang gadis yang barusan berjalan dengan muka masam ke arah mereka, dan sekarang sudah menjatuhkan bokongnya dengan kasar.

“Lev, kau mau membuatku membencimu?” Seorang gadis bernama Reagan melipat tangannya di atas meja sambil melotot kepada Levi. Dan respon laki-laki itu hanya tersenyum. Senyum yang sama yang diberikannya kepada Cath beberapa waktu lalu. Setelah itu mata Reagan mendelik, “Jadi kau yang bernama Cath?”

Cath mengangguk tanpa mengulurkan tangannya. Begitu pun yang dilakukan Reagan, ia hanya menyebutkan namanya lalu fokus kembali kepada Levi. Demi Tuhan! Cath ingin pergi dari tempat itu segera.

“Kau harus berhati-hati. Gadisku ini berbahaya, Cath. Suatu hari nanti kau akan merasa tidak nyaman dengan mukanya ini.” Levi terkekeh sambil melirik Reagan.

Gadis yang disinggung Levi langsung memukuli dan menghunjaminya dengan tatapan tajam. Cath hanya bisa menunduk dan mempererat genggaman burger di tangannya. Sebenarnya sejak pagi sampai kedatangannya ke Pound Hall ia belum menyentuh sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sekarang setelah ia benar-benar ingin memakan sesuatu, dua orang di depannya malah merusak hal tersebut dengan tawa yang terdengar hambar di telinga Cath.

Ah, sekarang aku ingin menulis!

Cath biasa mendesah seperti itu jika sedang merasa bosan. Sebenarnya, kapan pun  ketika ia merasa seperti itu hanya menulislah yang membuatnya tersenyum lagi. Simon Snow, yang selalu ada di pikirannya mampu menutupi semua perasaannya biarpun hanya sementara.

“Cath, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat, lho.” Lamat-lamat Levi menatap Cath sambil menekan pundaknya.

Sentuhan tiba-tiba itu mampu membuat Cath bergetar dan pipinya memerah.  Di saat seperti ini ia selalu tidak mau sekelompok kupu-kupu berkumpul di mana-mana. Perut, pipi, pencernaan, di mana pun itu ia tidak mau. Karena baginya kupu-kupu dalam purutnya hanya akan menggelitiknya saja lalu lama-lama akan membuatnya ketergantungan.

“Hey!” Reagan mendelik lagi.

“Aku harus mengantarnya kembali ke Pound Hall. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Ingat ya, kau harus menjaga teman sekamarmu ini!” Levi bangkit sambil mengusap puncak kepala Reagan.

Cath ikut-ikutan bangkit dan menggeleng cepat. “Tidak usah, lagian aku memang ingin kembali ke Pound Hall. Barang-barangku kan belum dibereskan.” Ia tersenyum kaku sambil meninggalkan kedua orang itu.

Napasnya naik turun saat meninggalkan Pear’s. Cath adalah tipe orang yang selalu menyendiri dan sibuk dengan Simon Snow seharian penuh. Bahkan karena hal tersebut tidak ada laki-laki yang benar-benar dekat dengannya karena Cath selalu menjaga jarak. Tapi setelah laki-laki itu memandangnya sambil tersenyum, hal yang selalu ia takutkan seperti kupu-kupu dalam perut, sekarang benar-benar terjadi kepadanya. Cath menyukai laki-laki yang bisa menyengatnya sampai ke ubun-ubun seperti yang dilakukan Levi. Ia menyukainya.

“Cath!” Suara Levi melengking. Bahkan Cath tahu suara itu walaupun ia tidak berbalik atau berhenti untuk menyakinkan.

Jangan berbalik! Kalau berbalik kau akan kalah dan kalau itu terjadi kau tidak bisa berhenti lagi walaupun hanya selangkah. Tidak bisa berhenti menyukai Levi, pacar Reagan.

“Cath!” pekik Levi sekali lagi.

Cath mengembuskan napas panjang sambil memantapkan langkahnya. Cinta pada pandangan pertama memang merepotkan. Sekarang aku benar-benar terpengaruh oleh senyumannya, segera dengan suaranya bahkan.

Levi duduk lagi sambil menilik wajah Reagan. “Dia kenapa ya?”

“Sebenarnya kau ingin apa? Aku sedang sibuk dan kau menyuruhku ke sini hanya untuk menemuinya?! Aku bahkan akan menemuinya setiap hari.” Reagan selalu tidak bisa berhenti menunjukkan muka masamnya.

“Sepertinya dia percaya.” Levi mengusap-usap dagunya.

“Percaya apa?”

“Kalau kau pacarku.”

Fanfiction ini diikut sertakan dalam #KuisFangirl yang diadakan oleh @NovelAddict_ bersama penerbit spring dan Haru

1901666_1556943891206904_5711349481877333177_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s