Sekali Lagi Ada Bunga di Senyummu


Cinta pertama. Dua buah kata itu yang terlintas ketika aku menemukan wajahmu di setiap buku harian yang isinya kebanyakan tentangmu. Semua teman-teman, keluarga, sampai kucing darimu juga tahu bahwa dulu kita pernah menjalin kasih. Dahulu.

Cinta pertama. Ketika aku mendengar kata itu pikiranku selalu bekerja lebih cepat dari biasanya. Suatu ketika di ruang duduk ketika aku sedang membuka lembaran foto alumni SMA, aku diingatkan sesuatu. Setiap kali mencintaimu selalu ada pemikiran yang sejatinya kamu setujui. Mencintai itu seperti sedang ditelanjangi di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat. Cinta itu tanpa alasan bukan? Mencintai ya mencintai saja.

“Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan cinta.” Kadang kamu sering menyela dengan kalimat itu. Dan aku hanya bisa senyum-senyum sambil menatapmu lamat-lamat.

“Terus?”

Aku berusaha mengulik sesuatu dari pemikiranmu. Barangkali aku bisa mencari celah untuk mengetahui kedalaman perasaan itu.

“Tapi bisa saja definisi kamu sedikit menggambarkannya.” Kamu ikutan tersenyum alih-alih malah membuatku tambah gemas. Kamu hanya membolak-balikkan kalimatku. “Tapi, perihal cinta pertama apa kamu tahu?” Kamu membuat pandanganku naik ke langit-langit. “Cinta pertama itu…” Kamu nampak sedang berpikir, lalu meneruskannya, “Seperti ditelanjangi  di muka umum tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang telah kita perbuat untuk pertama kalinya,” katamu yang disudahi dengan tawa sambil menjawil daguku.

“Itu sih kalimat aku.” Aku bersandar di sofa sambil memandang langit-langit lagi. Saat itu aku sadar gerak-gerikku tidak lepas dari pandanganmu.

“Cinta pertama adalah kamu. Manis. Cantik. Hangat. Lucu. Berisik. Cinta pertama itu kamu, sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan.” Penjelasanmu berhasil membuat tubuhku tegak lagi.

Sebelum menjawab pernyataannmu aku menyesap kopi yang sedari tadi aku biarkan sampai mendingin. Setelah aku menaruh cangkir Mama datang dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar. Aku mengangguk dan memandang kamu lagi.

“Kenapa?” Kamu tersenyum sambil melihat aku yang turut tersenyum.

“Kamu tahu? Cinta pertamaku itu tidak terdefinisi. Yang aku tahu, aku selalu kepayahan menahan sesuatu yang menggelegak di sini.” Aku menepuk dadaku.

Biasanya kamu selalu penasaran kalau aku tidak memberi tahu apa maksud dari sesuatu hal atau jadi marah ketika aku ingin tahu foto kanak-kanak yang ada di dompetmu. Tapi kali ini kamu hanya tersenyum dan tersenyum.

Lalu definisi itu berakhir ketika semuanya terasa salah. Ada satu dan lain hal yang membuatku tak bisa merasakan apa-apa. Biasanya apa pun yang terjadi di antara kita dan pertengkaran yang hanya berdurasi tiga menit, senyumanmu mampu menjadi hiburan tersindiri saat-saat itu. Ada yang bilang cinta pertama tidak akan berhasil. Sekarang aku memercayainya. Definisi-definisimu yang waktu itu juga hanya perasaan sesaat saja.

Aku mengembuskan napas panjang ketika sudah kembali dari delapan tahun silam. Mataku menilik jam yang sedang menunjukkan pukul tujuh kurang. Seharusnya lima belas menit lagi acara reuni SMA ini akan segera di mulai.

“El, Ellen!” Temanku Tia menjawil lenganku sambil menunjuk sesuatu dengan dagunya. Aku mengekorinya dengan cepat dan akurat. Tatapanku jatuh ke sebuah meja bundar dengan gelas warna-warni di atasnya yang di depannya ada seorang laki-laki yang dulu sering aku katakan kepadanya bahwa aku mencintainya.

Jarak kita teramat jauh tapi aku bisa melihat dengan jelas pipimu agak gempal dan tubuhmu semakin jangkung. Aku menahan saliva yang tidak masuk ataupun keluar dari tenggorokan.

“Andi!” Tia menjerit sampai teman-teman yang lain memandang ke arah kami. Aku hanya bisa mengusap-usap tengkuk sambil bersembunyi di tubuh rampingnya. Kamu yang telah menerima sebuah lambaian langsung berjalan ke arah kami sambil membawa dua gelas minuman.

“Apa kabar?” Ia bukan sedang berbicara kepada Tia. Dia sudah menghilang di menit ketika kamu melangkahkan kaki. Anak itu memang sengaja melakukannya. Dia senang mengerjaiku dengan hal-hal semacam ini.

Aku apa kabar? Mungkin baik mungkin saja tidak. Sebenarnya aku ingin menjawab seperti itu, tetapi yang keluar hanyalah, “Hmm, baik.” Sambil mengangguk kikuk. Lalu ada keinginan untuk menambahkan kalimat seperti, “Apa kamu juga baik?” Tapi malah helaan panjang yang terdengar. Aku memang payah.

Kamu menyodorkan salah satu gelas kepadaku, lalu yang satunya kamu teguk sendiri. Kamu juga sepertinya terlihat canggung, tetapi kamu selalu pandai menyiasatinya.

“Apa ada yang mau kamu katakan?” Wajahku naik dan mendapati matanya yang entah sedang berbicara apa.

“Apa kamu tidak punya?” Aku menurunkan wajahku lagi.

“Aku ada,” ujarmu, lalu meneguk isi gelas itu sampai habis dan menaruhnya di meja. Kala itu aku kesusahan menarik napas dengan dua buah kalimatmu..

Aku mengangguk sambil bergumam, “Apa?”

“Waktu itu, ketika kamu tidak mencegahku untuk pergi, aku sudah memutuskan untuk kembali lagi ke kamu. Tapi setelah tahu kenyataannya, kamu sudah tidak di posisi semula lagi.” Sekarang kamu menggulung kemajamu sampai ke siku. Bolehkah kurasakan hangatnya tangan itu lagi?

Aku terdiam sejenak sambil memainkan kuku yang dicat warna pastel. Entah Sudah yang ke berapa kali aku mengangguk. Saat kalimat itu berakhir aku melakukannya lagi. “Kamu masih ingat tentang definisi cinta pertamamu yang waktu itu?” Sial, Aku malah memancingmu ke masa lalu.

Sebelum kamu menjawab, orang-orang ribut mengerumuni sebuah papan yang isinya foto-foto sewaktu SMA. Ada juga yang iseng memasang foto memalukan sewaktu mereka masih kecil. Saat itu sesuatu terlintas, apa ada fotomu yang dulu tidak boleh kulihat?

Kita berjalan menuju dinding itu sambil melanjutkan kalimat tadi yang sempat terjeda. “Hmm, aku masih ingat. Definisi itu tidak aku ubah sampai sekarang.” Kamu membuat jeda, lalu menumbukku dengan satu buah pernyataan. “Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?”

Waktu itu langkah kita berhenti karena sudah sampai di depan papan yang tak banyak dikerumuni orang lagi. Aku senyum-seyum sendiri saat melihat foto delapan tahun yang lalu yang saat itu gayaku masih terlihat kuno. Lalu mataku liar mengamati setiap foto itu satu persatu. Adakah foto masa kecilmu di sana?

Aku melirik wajahmu yang sedang tersenyum. Sekali lagi ada bunga disenyummu. Kamu bahkan masih terlihat manis saat ada rambut-rambut halus yang sekarang bisa kulihat dengan jelas.

“Ketemu!” Seseorang di sebelahku berteriak sambil menunjuk sebuah foto SMA-nya. Tapi fokusku bukan pada foto itu, melainkan foto yang ada di atasnya. Kamu juga sadar dengan foto itu dan segera menyambarnya, tetapi tanganku sampai duluan sehingga kamu malah mengenggam tanganku.

Aku mohon lepaskan! Dan kamu malah menikmati fantasi itu. Aku gemetar tapi tidak berupaya melepaskannya. Aku kadung nyaman sih. Lalu aku menarik foto itu dan memerhatikannya lamat-lamat. Kamu kecil dan dewasa sama-sama terlihat manis. Di sebuah tempat rekreasi kamu nampak sedang memakan kembang gula yang tangan sebelahnya dipegangi oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan berbaju cokelat. Aku masih hafal itu adalah Papa kamu.

Di belakang kalian ada sebuah bianglala yang sedang berputar. Namun, lebih dekat sebelum bianglala itu ada banyak orang-orang yang sedang mengabadikan momen bersama keluarganya termasuk gadis kecil yang sedang digendong oleh Mamanya. Aku tergelak sekaligus tidak percaya. Bahkan jauh sebelum masa-masa SMA itu aku dan kamu sudah dipertemukan.

Kamu merampas foto itu dan memasukannya ke dalam dompet. “Jadi, apa yang mau kamu katakan waktu itu?”

Aku menatapmu sambil bergeming.

Harusnya pertemuan-pertemuan itu tidak pernah ada. Sekarang, jika ditanya seperti itu aku hanya mampu merunutnya di dalam hati. Walaupun begitu aku masih merasa semuanya terasa salah.

Laki-laki dalam foto itu juga Papaku. Haruskah aku katakan itu? Sebenarnya ada yang perlu kamu tahu, waktu itu aku memang sengaja membiarkan cinta pertamaku pergi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event menyambut terbitnya Novel baru karya @ninnakrisna terbitan @grasindo_id

B1QOzsmCcAAJN8K

Never Let Go oleh Ninna Rosmina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s