The Story Only I didn’t Know

Aku perdu yang dilalap api, engkau pandu yang ditelan bumi. Kita tak berkisah, kita tak bercerita. Kita hanya sebuah birama dalam gelas.

Aku memejam. Berulang kali kuulang kalimat yang kupercayai sebagai mantra pemintal rindu untukmu.

“Satu…, dua…, tiga….” Setelah selesai menghitung, bunga Dandelion langsung membelai pipiku. Angin sedang memihakku kali ini. Mereka riang menari bersama pucuk-pucuk bunga itu, mengembus dengan mesranya.

Selama itu mulutku tak berhenti bersenandung. Lagu-lagu milik The Beatles seperti I will atau in My Life keluar begitu saja berupa dehaman. Aku benar-benar merasakan mereka sedang mengantarmu kembali. Membawa kenangan juga harapan bersama angin di akhir Agustus.

Detik demi detik berlalu, kurasakan aroma tubuhmu yang menyejukan. Ruas-ruas jemarimu menutupi kelopak mataku. Kau belai halus setiap jengkal wajahku saat aku masih memejam. Tak ada yang terlewat, kening, hidung, pipi, bibir, dan dagu. Jemarimu yang hangat menyentuhnya dengan syahdu. Sudah lama kurindukan ini sejak terakhir kita bertemu. Tidak, sebelum itu bahkan.

“Jaehyun-ah…,”desisku dengan suara gemetar. Mataku berbinar dan masih saja tak memercayai bahwa itu dirimu. Pertama kali aku melihat lagi wajah itu, kutemukan hunjaman dari sorot matamu. Tunggu! Apa di matamu ada tumpahan arak? Kalau tidak, kenapa aku bisa jadi semabuk ini ketika menumbuknya?

Gumpalan air dalam mataku sudah tak tertahankan lagi. Beberapa tetesan air mata jatuh mengenai jemarimu yang buku-buku jarinya sudah memutih. Lalu sesekali kau seka dengan lembutnya. Saat itu kau berkata, “Jangan menangis lagi, air matamu bukanlah kebahagianku.”

Betapa luluhnya aku ketika mendengar suara khasmu. Kala itu air mataku habis diseka olehmu. Kau tak lelah, kau tak marah. Kau hanya tak tega melihatku menangis karena sakitnya merindu. Rindu yang sudah menjalar sampai ke urat nadi dan baru sempat kutumpahkan.

“Jiyeon-ah…,” katamu dengan senyuman manis milikmu. “Ada kalanya, mantra itu tidak akan berfungsi lagi.” lanjutmu lagi. Kini jemarimu meremas jari-jariku dengan lembut. Kurasakan hampir tak ada sehelai udara pun yang mampu menyelinap di antaranya. Bulu kudukku langsung meremang, sehebat itu kah sentuhanmu? Ah, sejak dulu kau memang begitu.

“Jaehyun-ah….” Aku tak merespon pernyataan itu, dan malah melemparnya dengan sebuah gumamman.

“Emm?” Kau hanya berdeham. Tapi aku tetap meyukainya.

Aku mengusap-usap puncak lenganmu. “Saat ini yang paling aku inginkan dalam hidup adalah bersamamu. Apa kau juga sama?”

Kau tak merespon. Jelas membuatku bingung, tetapi genggamanmu yang semakin erat tak menggoyahkanku sama sekali. Aku tetap percaya kau akan selalu di sampingku. Meski kepercayaanku itu tak sepenuhnya dipenuhi kebenaran. Tapi aku tetap memilih untuk percaya.

Mataku menerawang ke arah bunga Dandelion yang sedang beterbangan. Jiwaku seakan ikut terbang bersama mereka. Ketika itu alunan piano seolah berputar-putar di kepalaku. Kata-katamu sudah tak aku hiraukan. Hanya suara piano itu saja.

“Kau yang kemarin, sekarang ataupun nanti tetaplah sama. Dengan atau tanpa mantra pun kau selalu jadi Jaehyun-ku. Kau selalu jadi rinduku.” Kepalaku bergerak-gerak mengikuti irama lagu.

Saat itu kau memandangiku pilu. “Sedang mendengarkan lagu?” tanyamu hati-hati. Wajahmu menilik ke dalam rautku.

“Iya, ini lagumu yang waktu itu kau perdengarkan. Aku suka, boleh kubungkus dan kubawa pulang?” tuturku sambil tersenyum jahil padamu. Saat itu kamu turut tersenyum melihat tingkahku. Katamu aku menggemaskan, sedangkan bagiku kau mengagumkan.

Lagi dan lagi kau memperlihatkan tatapan sedihmu. Hey, aku sedang bahagia. Aku sedang menikahinya sekarang. Hebat bukan bisa menikah dengan bahagia? Jangan hancurkan pernikahanku dengan tatapan itu. Aku tidak suka!

Kau diam seperti biasa, sedang menikmati sandaran kepalaku di bahumu. Kau pernah bilang, sandaranku selalu membuatmu nyaman. Sesekali aku bergumam tentang lagu darimu. Kubilang berulang kali bahwa aku bahagia bisa bersamamu, dan kau hanya mengangguk. Ah, aku benar-benar bahagia. Bisa bersamamu adalah kebutuhan, bahkan sudah kuubah ke mana  tempatku berpulang. Bukan lagi rumah dengan keluarga, tetapi dirimu dengan segenap perasaan candu itu.

“Jiyeon-ah…,” desahmu untuk yang kedua kalinya.

“Jaehyun-ah, aku sedang tidak ingin mendengar celotehanmu. Aku sedang menikmati angin, nih,” kataku setengah merajuk. Tubuhku bergerak-gerak waktu bersandar kepadanya.

Tubuhmu yang sedang rileks langsung ditegapkan, kepalaku kau singkirkan. Angin sore itu menyibak piringan hitam yang tengah berputar di dalamnya.

“Maaf…,” ucapmu, yang berhasil membuat tanda tanya besar di benakku. “Ada yang perlu kau tahu. Aku tak bisa bersama denganmu lagi,” ujarmu lagi dengan wajah meyakinkan.

Air mukaku berubah keruh seketika. Banyak pertanyaan yang berjubel di bibirku sampai akhirnya hanya mengeluarkan gumaman yang tidak jelas. Aku membelai wajahmu yang kini mulai mendingin. Sakit kurasa setelah menyambar sel-sel kulitmu. Aku seolah disadarkan sesuatu.

“Kini tidak akan ada lagi mantra yang mampu menghadirkanku. Aku ya aku, kau ya dirimu. Dari awal aku hanya bersumber dari isi kepalamu.” Kau menatapku dengan tajam. Sejenak aku gagal mengerti dengan tatapan itu. Air dari pematangku berlomba-lomba untuk jatuh lagi. Tidak cukupkah gerimis memenuhi wajahku?

Lalu tangisku memenuhi seluruh wajah. Samar kulihat wajah itu tengah mendekat, tanganmu mengambil sesuatu dari telingaku. Sebuah headset yang entah sejak kapan sudah terjejal di sana.

“Itu bukan lagu dariku. Itu lagu milikmu,” tuturmu sangat pelan. Bahkan setengah berbisik. Saat itu pertahananku langsung runtuh di hadapanmu. Tubuhku gigil diterpa angin yang semakin kencang. Kausku yang tipis tak mampu menahannya. Kulitku rapuh setelah terkenanya.

“Jadi hanya aku yang tidak tahu cerita ini?” Aku terisak di balik jemari tanganku, sedangkan tanganmu masih tak bosan membelai rambutku yang terjurai sampai ke puncak dada. Aku tersedu.

“Kembali ke kehidupanmu! Jangan menangis lagi, karena itu bukanlah kebahagiaanku,” terangmu lagi. Sudah kuhafal kalimat terakhirmu, terngiang teramat jelas di telinga ini bersama dentingan piano itu.

“Aku mohon tetaplah di sampingku. Sungguh ini bukan perpisahan yang indah.” Aku terus memohon dengan berderai air mata. Nyatanya kau tak mendengarkan, lantas pergi dibawa angin bersama bunga-bunga Dandelion. Ketika itu lagumu serta cerita-cerita tentang kita berputar di bola mataku bersamaan ketika aku menangis sambil terpejam.

Sakit! Perih! Nyeri!

Kemudian, yang kusadari setelah kepergianmu adalah saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu.

Aku bukan perdu, dan engkau bukan pandu lagi. Kita memang tak berkisah juga tak bercerita, kita hanyalah birama dalam gelas kosong. Engkau hanya mantra yang kubuat sendiri, kau hanya sebuah cerita yang tak kuketahui awalnya. Paduan indah yang kuwujudkan dan diam-diam kuhirup aromanya. Senyawa dalam kepalaku yang sering kali inginku kurengkuh wajahnya.

Kau mati, aku runtuh.

Nyatanya kau ada hanya ketika aku mati rasa.

Tulisan ini ditulis berdasarkan isi lagu The story I didn’t know oleh IU, namun ditulis dengan versi yang berbeda.

Pertemuan di Tahun Baru

Suatu hari di malam akhir Desember, seorang laki-laki sudah siap dengan satu buket tulip kuning digenggamannya.

“Olivia!” jelas terdengar suaranya yang tenor.

Sang pemilik nama menoleh. “Hey, Pram,” ucapnya dengan kepulan asap dari bibirnya. “Sudah lama aku menunggumu di sini,” lanjut gadis bermantel tebal itu.

Sambil terengah-engah Pram berusaha berucap. “Sudah kuputuskan, akan kugantungkan harapanku untuk memilikimu.” Ia menjawil hati Olivia dengan satu buket bunga dari genggamannya.

Gadis itu melihat sebuah harapan di mata Pram. “Jika ingin melihatku berdusta, maka aku akan menerimamu,” ujar Olivia dengan meninggalkan kecewa di dada Pram.

Sekali lagi dilihatnya mata itu, sudah tidak ada lagi harapan. Tinggal bersisa luka yang ingin ia gapai, lalu ia hempaskan.

Tubuh Pram beku. Bibirnya mencari-cari kalimatnya yang tiba-tiba hilang. “Kalau boleh kukasih saran, berdustalah untuk sekali saja. Setidaknya agar hati ini tak terasa nyeri.” Pram gemetar.

“Sayangnya, kau adalah sepupuku Pram. Mana bisa aku berdusta soal cinta. Maaf aku harus singgah dari hatimu. Sudah ada yang lain di hati ini,” tutur Olivia dengan mantap.

“Siapa?” Pram terluka, tapi tetap saja ia ingin tahu seluk beluk kehancurannya.

“George,” kata Olivia. Sejurus kemudian ia mulai melangkah, jauh meninggalkan jejaknya.

Di dalam kepala Pram ada semacam kembang api yang saat itu sedang menghiasi malam tahun baru. Tahun baru dengan luka yang baru. Lengkap.

Setelah kepergian Olivia, ia melewatkan malam dengan langkah yang tak punya tujuan. Pikirannya tak keruan, sesekali terlintas paras Olivia yang rupawan. Sebelum akhirnya tubuh yang tergopoh-gopoh itu ditabrak seseorang. Yang menabrak malah jatuh duluan, tubuhnya membentur ke deretan aspal di bawahnya.

“Maaf, sini kubantu.” Akhir dari sekian lamanya bibir itu pun menemukan kalimatnya. Tangannya mengulur ke arah sang gadis yang jatuh terduduk.

“Iya, maaf tadi aku yang tidak lihat,” kilahnya dengan bibir mengilap . Pram langsung meleleh.

“Boleh kau bayar maafmu dengan waktumu? Aku sedang ingin mengobrol. ” Pram mengerling. Dimatanya timbul secercah harapan baru.

Gadis dengan bandana merah itu mengangguk. Sama sekali di wajahnya tidak ada raut kegembiraan.

Pada sebuah kursi di depan air mancur, mereka terduduk. Beberapa menit tak ada yang melesakkan suara. Kecanggungan menghinggapi keduanya.

“Kau sedang sendiri?” tanya Pram, membuka percakapan.

Gadis itu mengangguk dengan satu botol minuman berakohol di genggamannya. “Sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Aku sedang bersama kecewa,” ungkapnya.

Pram hanya mengangguk lalu meneruskan ucapannya. “Aku juga.”

Gadis dengan bandana merah itu menaruh botol minumannya diantara mereka. “Kenapa?”

“Lima belas menit yang lalu aku baru saja patah hati.” Pram menekuk kepalanya.

“Lucu ya, sedangkan aku baru saja mematahkan hati seseorang,” ujar gadis itu setelah menerima jawaban dari Pram.

Diantara keduanya tidak ada kalimat yang terdengar lagi. Mereka tengah asyik menikmati percikan kembang api yang menghampar di langit Januari .

“Kalau saja dia menerimaku, pasti dia sedang bersandar di bahuku sekarang,” kata Pram dengan mata yang tak pernah lepas dari langit.

Gadis di sebelahnya langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Pram setelah mendengar harapan yang sudah runtuh darinya. Mata Pram langsung membelalak ketika menerima gerakan tiba-tiba dari gadis di sampingnya.

Ia bingung, akan mengatakan apa lagi ketika merasakan hangat di tubuhnya, ketika sel-sel kulit mereka hendak bersentuhan jika saja tidak terhalang oleh sebuah mantel.

“Takdir selalu membawamu ke jalan yang benar,” kata gadis itu setelah beberapa saat. “Kalau saja aku menerima cintanya mungkin kami sudah menjadi bahan gunjingan orang,” lanjut sang gadis.

“Memang kenapa?” Dahi Pram saling bertaut.

Butuh waktu lama untuk gadis itu angkat bicara lagi. Dan setelah kembang api ricuh di langit, ia kembali bersuara. “Kami sama-sama wanita,” tegasnya.

Pram melonjak, gerakan itu pun disadari si gadis. Sampai akhirnya ia terbangun dari sandarannya.

“Cinta ini terlalu dingin seperti salju. Tapi selalu ada kebahagiaan ketika kita sudah mencapai puncaknya. Seperti kembang api diantara salju itu,” terangnya lagi dengan panjang lebar. Pram hanya termangu mendengarnya.

Sejurus kemudian senyumnya merekah. Kalimatnya sudah buntu perkara cinta dan cerita beberapa menit sebelumnya. “Kau benar. Omong-omong, panggil saja aku Pram!”

Gadis disampingnya cekikikan, hujan di wajahnya mulai mereda.

“Aku George, Georgina!”

 

Purwakarta, 23 Juli 2014

 

 

 

Sebuah Luka yang Manis

Dalam kesedihan aku tengah terlelap bersama gigil. Mimpiku membawa pesan pada seorang pemuda. “Maaf, Bung, sampaikan pada luka bahwa aku tidak membutuhkannya lagi.”

Kata seseorang kepadaku. “Maaf, Nona, katanya luka masih ingin tinggal di dadamu.”

Sejenak aku terdiam, lalu menepuk dadaku berulang kali. “Berikan aku alasan kenapa luka tak mau singgah, dan kenapa luka memberi rasa sakit?”

Pemuda itu mengerjap. “Mungkin kamu sendiri yang mengundang luka, atau kamu yang mempertahankannya tanpa sadar. Jangan salahkan luka, Nona. Kadang-kadang kamu butuh luka untuk merasakan syukur. Jangan rasakan tapi syukuri!”

Mataku liar, tak terima dengan pernyataan pemuda di hadapanku. “Memangnya kamu siapa, bicara seolah tahu segalanya? Luka itu sakit, perih, nyeri. Kalau terus menerus dihinggapi kamu bisa mati. Mati hati,” kataku tak kalah menggebu.

“Aku adalah seseorang di balik luka,” tuturnya mantap.

Aku mengernyih. “Siapa? Lara?”

Pemuda itu tersenyum. “Bukan, Nona. Aku hanya seulas senyum yang setia menanti luka pergi.”

Aku mulai berkilah. Sama sekali pernyataannya belum bisa kuterima. “Bodoh! Kesetiaan dan kesiaan itu tak ada bedanya. Mereka saling berdampingan di atas cinta.”

“Kamu yang sebenarnya dibodohi luka. Cinta bukan segalanya, Nona. Jika kamu seorang pencinta, itu berarti kamu juga pembuat luka. Tidak ada yang hanya menjalani salah satunya.”

“Sampah! Kamu cuma bicara omong kosong!” lentingku dengan gigi yang gemeletuk.

“Omong kosong itu jika tak terbukti kebenarannya. Coba tengok hatimu, dari mana luka itu berasal?” tandasnya. Matanya menumbuk manik mataku dengan tajam.

Aku gelagapan. Pematang sungaiku beriak-riak, sisa hujan di wajahku terlihat jelas oleh pandangannya. “Aku…,” ucapku lirih.

Pemuda itu kembali berceloteh. “Jangan menengok kenangan pahit yang jauh di ranah luka kalau hatimu yang sedekat itu pun tak berani kau lihat! Sudah kukatakan kan? Masih ada aku yang setia menunggu luka pergi. Jangan khawatir!”

Skak!

Jemariku mulai berkeringat. Baru saja aku tertampar oleh kebenarannya yang begitu hunjam.

“Berarti kamu sedang menanti lukaku pergi?” kataku akhirnya dengan bibir gemetar.

“Lebih tepatnya aku sedang menanti digamit oleh bibirmu.” Seketika mataku menghambur, memenuhi wajahnya.

Tak bosan kupandangi senyum yang mulai merekah di sudut bibirnya yang sesekali kujeda dengan kedipan mata. Senyum itu menular pada bibirku yang sedari tadi terasa kelu, dihantam luka.

Sang pemuda angkat bicara lagi. “Bagaimana, manis bukan? Tersenyumlah selagi kamu mampu!”

Aku bergeming. Satu kata terakhir kulesakkan sebelum akhirnya kita saling merengkuh. “Bung, senyummu jatuh terus tuh. Awas nanti aku suka lho!”

 

Purwakarta, 22 Juli 2014

Gadis Secerah Mentari

Selagi mata kuning ditenggelamkan langit, aku masih sibuk dengan ponsel yang terhubung dengan kekasihku, Mia. Telingaku masih mendengarkan setiap omong kosongnya yang ingin minta putus, namun mataku liar pada sosok gadis tepat di depan mejaku.

Rambutnya yang terjurai sampai ke puncak dada, mengilat karena pantulan wajahnya yang secerah mentari. Aneh, wajahnya masih cerah, padahal tatapannya membayang sorot yang terluka pada segelas air di hadapannya.

“Udah bukaaa!” Bibir yang sedari tadi terkatup langsung terbuka lebar, matanya menyala-nyala ketika mengumandangkan itu.

Saat itu juga aku segera mengakhiri hubungan ponsel dan mematikannya. Mataku masih menumbuk wajahnya, sesekali kujeda dengan beberapa teguk es teh manis yang sejak tadi siang ingin kuuyup. Benar saja, ketika sampai ke kerongkongan, fokusku pada gadis secerah mentari itu menipis.

“Aw!” Aku terlonjak mendengar suara benturan yang dibarengi dengan lentingan tak kalah kencang dengan yang tadi.

Gadis secerah mentari itu, mengusap-usap kepalanya sambil merengut. Tangan lainnya, sibuk menggenggam sendok yang baru saja ia ambil dari lantai. Di hadapannya hanya ada semangkuk mie kari dan telur rebus serta beberapa bungkus kerupuk kulit. Kuahnya merah menggoda dengan potongan-potongan sayur kecil. Asapnya mengepul di wajahnya, aromanya terbang ke lubang hidungku. Tak bisa kubedakan antara aroma mie dan wajahnya, keduanya teramu begitu saja oleh udara.

“Sial!” pekiknya lagi sambil menghantam meja. Tubuhnya melorot, sampai kepalanya mencapai sandaran kursi. Diusap-usap perutnya yang terbalut kaus warna hitam bermotif sambil mengembuskan napas panjang.

Air putihnya tinggal seperempat, mie karinya tumpah sebelum ia benar-benar menghabiskannya. Lama, aku pandangi wajah itu sampai akhirnya kuputuskan bangkit dan memindahkan semua isi mejaku ke atas mejanya.

Sebelum angkat bicara kusempatkan berdeham agar matanya tak terkatup lagi. “Kita bisa makan bareng?” Mataku mencari-cari jawaban.

Setelah pertanyaanku berakhir dan mie yang tumpah itu dibersihkan, gadis itu segera menyantap makananku dengan lahap. Dimulai dari sate kambing yang kupesan sepuluh tusuk dan diakhiri dengan es teh manisku yang waktu itu baru keteguk sedikit. Sama sekali aku tak melahap apapun sejak maghrib tadi. Perutku sudah kenyang oleh kupu-kupu yang baru saja tumbuh dan berkembang di sana.

“Makasih,” katanya pendek. Sungguh aku meleleh setelah mendengar suara gadis itu, lebih merdu ketimbang saat ia berteriak.

Aku memberi jeda beberapa menit untuk mencairkan suasana. “Kulihat dari tadi kamu kayak lagi kesal?” tanyaku dengan telapakan yang sudah basah.

“Aku  baru kecopetan tadi. Maaf nanti biar kuganti deh, makananmu,” ungkapnya. Bibirnya gemetar saat menyelesaikan kalimatnya.

Aku hanya terdiam. Bingung dengan kata yang akan kulesakkan lagi.

“Kenapa kamu nggak buka? Kamu nggak puasa?” tanyanya lagi dengan sekelumit pertanyaan yang membuatku melonjak.

“Eh, aku puasa, kok. Udah tadi, sebelum aku ke meja kamu,” kataku buru-buru.

Iya, sudah dengan satu paket menu dari wajahmu. Batinku.

Aku termenung sebentar, menikmati setiap jengkal wajahnya yang tak ingin kuakhiri.

“Boleh kutukar makananku sama nomer Hp-mu?” Aku sesak menahan dadaku yang semakin menggelegak. Bayangan Mia sering kali lenyap ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini.

Gadis itu malah termangu, mungkin kaget dengan ucapanku yang tiba-tiba menyambarnya dengan sebuah permintaan.

Saat itu aku disadarkan oleh sesuatu.

“Oh ya, aku Dika. Nama kamu siapa?” tanganku menjulur di atas piring-piring yang sudah hampir kosong.

Gadis secerah mentari itu membalas uluranku dengan remah kerupuk yang masih menempel di sekitar bibirnya. “Namaku, Mentari!”

The End

 

Purwakarta, 16 Juli 2014

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan menulis  #DeskripsiBakso di @kampusfiski

Jumlah kata: 518 kata

Jumlah kata” lalu, lantas, kemudian, terus”: Tidak ada

Makan Angin

Petang baru saja menyapa ketika seorang gadis sudah lama terduduk di trotoar. Sepuluh keping uang lima ratusan telentang di telapak tangan kusamnya, hasil yang ia dapat seharian penuh setelah menjual suara cemprengnya  di depan lampu merah. Hidungnya liar, menghirup aroma jagung bakar, nasi goreng, dan juga sate. Kepulan asapnya mengocok perutnya tanpa ampun.

“Mbak!” tutur gadis yang sedang digandengnya, ia seolah mengisyaratkan sesuatu. Tangannya tak kalah kusam dari sang Kakak.

Tangan yang sama besarnya itu saling menggenggam melewati lalu-lalang pasar di sekitarnya. Beberapa menit kemudian mereka sampai ke tempat peristirahatannya yang sudah ia singgahi sejak lama. Beberapa lembar kardus yang disebar di depan toko yang sudah tutup.

“Mbak, cepet pulang ya!” kata adiknya sambil menjawil kaus Kakaknya yang sudah sobek.

Sang Kakak menyahut, “Iya,” lalu di selingi dengan anggukan.

Kakinya merangsak lagi sampai ke lalu-lalang tadi. Tak ada yang berbeda, kepulan asap dari masing-masing penjual makanan menjejal hidungnya kembali sampai ia kepayahan membedakannya dengan oksigen. Kepingan uang tadi masih ia genggam, begitu erat di telapakannya yang mulai berkeringat.

Satu persatu ia amati bagaimana para penjual meracik dagangannya, satu persatu pula ia hirup aromanya.

“Mau beli berapa bungkus, Dek?” tanya seorang laki-laki paruh baya setelah ia sampai di depan gerobaknya. Aroma nasi di bakar langsung menyembul dari wajan.

“Satu berapa, Pak?”

“Sepuluh ribu, pake sambel atau nggak?” Si Bapak mengambil suara lagi.

Diliriknya kepingan uang digenggamannya, hanya sebesar lima ribu rupiah. Cepat ia menggeleng. “Maaf Pak, nggak jadi,” ucap gadis itu sambil meninggalkan gerobak penjual nasi goreng.

Kembali ia menyusuri jalan demi mendapatkan sesuap nasi untuk dirinya dan juga adiknya. Desau angin malam itu memantik sela-sela rambutnya yang lusuh.

Sesekali ia menelan salivanya sendiri. Sudah lama ia merasa lambungnya kembung, sejak adzan maghrib satu jam yang lalu.
Matanya menghambur, lalu jatuh dan menumbuk ke lesehan dekat tukang penjual bakso. Perutnya bergejolak lagi ketika aroma daging sapi mengoyak lambungnya.

“Bu, nasi sama tempe berapa?” tanya gadis itu dengan perhatian masih kepada daging sapi yang selesai digoreng dan sekarang dicampur dengan bumbu cabai yang sudah dihaluskan.

Ibu-ibu yang diajak bicara sedang memasukkan beberapa cukil nasi ke dalam daun pisang lalu menaruh dua buah tempe di atasnya. “Enam ribu, Dek,” katanya tersenyum manis sambil memberikan nasi yang sudah dibungkus kantung plastik.

Air muka gadis itu berubah keruh. Harga nasi itu tidak sesuai dengan recehan yang akan ia tukarkan.

“Maaf, Bu saya cuma punya lima…,” kata gadis itu terbata. Kantung itu ditarik lagi, ucapannya dipotong oleh ibu-ibu penjual nasi yang tadi tersenyum manis, sekarang berubah masam.

“Ah, pergi sana! Kalo nggak punya uang jangan beli nasi di sini.’ Kali ini suara ibu-ibu bertubuh tambun itu melenting. Tangannya menunjuk-nunjuk ke depan muka si gadis.

Dari jauh, di belakang penjual tukang bakso, seorang anak laki-laki tengah menatapnya penuh iba. Kepalanya tertutup peci, tubuhnya berbalut mantel yang tidak terlalu tebal, namun sama kumalnya dengan pakaian yang sedang dipakai sang gadis.

Gadis itu terisak, perutnya sudah tidak bisa menahan rasa lapar yang semakin lama menjadi perih. “Besok saya bayar sisanya, Bu! Saya janji!” pinta gadis itu sambil berlutut. Namun sesekali matanya berkeliaran ke sosok anak laki-laki yang masih memerhatikannya.

“Anak zaman sekarang bisanya cuma janji-janji, besoknya udah nggak bisa dipertanggungjawabkan lagi ucapannya. Saya nggak akan ketipu lagi ya, bagi saya lima ratus perak pun juga berarti!” terang ibu itu dengan suara yang membara. Beberapa pedagang meliriknya dengan tatapan tak suka, tapi tak melakukan apapun. Hanya menyaksikan adegan peradegan gadis itu dibentak-bentak.

Sudah tidak ada lagi balasan dari mulut gadis itu, lidahnya rasanya kelu untuk memohon-mohon lagi. Akhirnya ia mulai beringsut, menghampiri anak laki-laki yang sampai sekarang masih mengawasinya.

Ia perhatikan baik-baik, dari kaki sampai ke kepala, tidak ada yang menarik. Semuanya terlihat lusuh sama seperti dirinya. Tubuhnya kurus kering dengan bibir pucat pasi.

“Kenapa kamu ngeliatin terus?”

Anak laki-laki itu tak menjawab, hanya menatapnya, lalu menitikkan air mata. Satu, dua tetes, lalu semakin lama semakin berderai tanpa henti. Tangannya menekan-nekan perutnya di balik mantel.

“Kamu kenapa?” Gadis itu kelabakan sendiri.

“Aku lapar…,” kata anak lelaki itu, lalu terisak lagi.

Aku juga! Batin si gadis.

“Udah dua hari ini aku nggak sahur dan berbuka, perutku sakit banget.” Anak lelaki itu mengerang dan terus menekan perutnya.

Melihat rintihan anak lelaki di hadapannya, gadis itu menangis. Dengan mantap bibirnya gemetar berucap, “maaf aku juga lapar,” katanya sambil merangsak pergi, mengembara dan mencari makanan lagi.

“Bakpaonya…, bakpaonya…, masih hangat…, masih hangat,” lenting seorang lelaki dengan wajah yang sudah mengendur. Tubuhnya rendah, sepantar gerobaknya.

Gadis itu langsung berlari, kepingan uangnya masih ia genggam dengan erat, tak memebiarkan satu pun menceus diantara jemarinya.

“Pak, bakpaonya berapa?” tanya gadis itu penuh pengharapan.

“Murah kok, Neng. Cuma dua ribu lima ratusan. Mau beli berapa?”

Senyum si gadis langsung merekah. “Dua aja, Pak.”

Langkah yang tadinya gontai berubah tegas karena kantung plastik yang menggantung di jemari tangannya. Akhirnya, hari itu ia bisa berbuka dengan segumpal karbohidrat, tidak dengan air mineral seperti biasanya. Sejurus kemudian langkahnya tertahan setelah sampai di depan ibu-ibu penjual nasi yang tadi ia lewati. Mata ibu itu mendelik ke arah si gadis, anmaun ia hiraukan.

Ia lihat anak lelaki itu masih terduduk di sana, dengan tangan yang memeluk lutut. Kepalanya ambruk ke sela-sela kakinya. Dengan sedikit nyeri di dadanya ia mengahampiri anak itu lagi.

“Nih,” kata gadis itu setelah mengeluarkan satu buah bakpao dari kantung plastiknya.

Telapak tangan anak lelaki itu gemetar setelah bakpao menyentuhnya.

“Kamu udah makan?” tanyanya dengan bakpao yang sudah memenuhi mulut.

“Udah tadi,” jelas gadis itu sambil tersenyum. Dadanya sudah tidak terasa nyeri lagi seperti tadi. “Makan angin,” lanjutnya. “Daaah.” Gadis itu melambai-lambai dan meninggalkan anak laki-laki itu bersama satu buah bakpao di mulutnya.

Beberapa meter kakinya telah menjauh dari pasar. Kantung plastik itu terombang-ambing oleh lengannya. Beberapa kali ia ingin melahap bakpao itu, namun napas panjangnya segera menghentikannya.

“Dek, nih, Mbak bawa bakpao,” kata gadis itu pada deretan kardus yang tertindih tubuh kecil seseorang. Adiknya terlonjak setelah mendengar suara Kakaknya.

“Mbak udah pulang! Kok bakpaonya satu? Mbak udah makan?” tanya adiknya buru-buru.

“Udah kok, sekarang kamu buka puasa dulu ya!” ujar si gadis sambil membelai rambut Adiknya.

Adiknya menggeleng. “Mbak aja yang makan, aku udah kenyang. Tadi ada yang ngasih aku makan, Mbak!”

Sang Kakak membelalak. “Siapa?”

Adiknya gelagapan. “Nggak tau, tadi ada anak laki-laki pakai mantel bawain aku dua buah bakpao.”

Kakaknya tercengang. Batinnya sedang menangis sekarang.

“Mbak, bener udah makan?” tanya adiknya lagi tanpa mengerti dengan batin Kakaknya yang sedang kebingungan.

Lalu kakaknya mengangguk. “Udah, makan angin!”

 

The end

Purwakarta, 13 Juli 2014

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan menulis #EkspresiPuasa di @kampusfiksi