Karma

Karma is real. Karma will pay. Just wait with your smile.

Advertisements

Menjadi Terlalu Baik

Pernah nggak sih lo denger orang ngomong, “Jangan terlalu baik nanti lo dimanfaatin!”. atau orang bergunjing seperti, “jadi orang jahat banget, nanti juga kena karma!”. Menjadi baik atau jahat kan sudah menjadi sifat alamiah manusia. Wajar saja pasti ada yang mempermasalahkannya.

Sering sekali gue mendengar kalimat yang pertama. Menurut gue menjadi terlalu baik dan sampai dimanfaatkan oleh orang lain juga tidak ada salahnya kan? Yang penting ikhlas. Cuma gue heran aja setiap ada yang ngomong kayak gitu ke gue. It’s my life gitu. Mau baik atau jahat kek itu keputusan yang gue ambil. Sekalipun itu membuat gue dimanfaatkan. Dan gue sering menemukan orang yang menasihati gue tentang hal itulah yang malah memanfaatkan gue. Weird. Gigit lidah sendiri.

Soal menjadi terlalu baik. Entah kenapa meski pada awalnya gue tidak mengiyakan tapi ujung-ujungnya gue selalu bilang iya. Kayak gue ngerasa bersalah kalau gue nggak menolong dia. Sulit sih kalau udah menyangkut perasaan. Mau gimana-gimana juga suka kepikiran. Kadang yang meminta tolong suka nggak ngerti gue dalam posisi bisa menerima atau nggak. Gue yang ngerasa nggak enak kadang-kadang kalah meski urusan gue lebih penting ketimbang mereka.

Tentang menjadi terlalu baik. Orang-orang datang ketika mereka hanya butuh sesuatu dan anehnya gue tetap mereka dengan senyuman dan kalimat-kalimat baik. Seperti gue hanya memiliki mereka jadi mengabaikannya saja sulit. Gue takut menyakiti perasaan orang lain. Meski kadang tidak sengaja gue lakukan.

Menjadi terlalu baik bukan kesalahan kok. Yang salah itu ya yang nggak tahu diri kalau sudah memanfaatkan orang yang terlalu baik.

 

Ketakutan Paling Besar

Banyak sekali yang seseorang takutkan belakangan ini. Dulu gue punya temen yang takut sama korek api. Gue nggak menerima alasan yang jelas tentang ketakutan itu. It’s weird. Itu kayak lelucon. Tapi mungkin bagi dia itu adalah ketakutannya yang paling besar.

Ketakutan yang sampai saat ini belum bisa gue atasi adalah unhapiness. Gue takut nggak bahagia. Tapi ketakutan paling besar gue adalah takut buat seseorang yang gue sayangi nggak bahagia.

Ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Bisa jadi karena gue terlalu mencoba membuat orang lain bahagia malah membuat gue sendiri jadi nggak bahagia. Bisa juga karena sebaliknya. Kalau kata orang menjadi nggak bahagia itu bukan ketakutan. Tapi memang ketidakmauan bagi semua seorang. Tapi bagi gue itu bukan sekadar ketakutan. Bahkan hal-hal seperti itu bisa menghancurkan dari dalam.

Ketika bersama seseorang gue bisa membuat hal-hal sepele menjadi lucu. Entah itu karena gue yang buat atau mereka yang membulli gue habis-habisan karena saking lucunya. Tapi saat kesendirian itu datang kadang gue merasa nggak bahagia. Gue seperti pelarian yang kapan saja bisa dikunjungi oleh seseorang. Kadang di suatu titik terberat gue ketidakbahagiaan itu seperti menarik gue kuat-kuat. Padahal mungkin untuk yang lain itu cuma masalah tersandung batu di jalan. Tapi ketika gue yang mengalami beda rasanya.

Ketakutan seseorang nggak bisa dianggap cuma sekadar lelucon. Nggak bisa juga dengan mudahnya lo memberi solusi kemudian mengatakan kalau gue bisa melewati hari-hari terberat itu. Bisa jadi malah itu menjadi beban baru untuk yang mengalami. Karena yang sebenarnya orang itu perlukan adalah keberadaan orang lain. Bukan kata-katanya.

Two Years

Malam, udah sekitar dua atau tiga tahun gue nggak mampir ke blog. Bingung mau bahas apa. Kemarin instagram ramai sama kematian seseorang. Gue turut berduka untuk siapa pun yang sedang terkena musibah. Gue pengin membahas hal ini. Hal-hal yang membuat seseorang berpikir tidak rasional dan gegabah. Gue pikir seseorang pasti akan mencapai pada suatu titik kehancuran. Ada yang memilih merekatkan kembali meski tak sempurna. Ada pula yang membiarkannya semakin terluka.

Kebanyakan dari mereka nggak sadar betapa besar anugerah yang mereka miliki.  Betapa istimewanya mereka di mata orang lain. Betapa dibutuhkannya mereka oleh seseorang. Kadang emosi selalu lebih menggurui daripada logika. Jujur aja gue pernah dalam posisi ini. Siapa yang tidak pernah merasa terlalu kecil? Terlalu dianggap remeh? Atau bodoh? Gue yakin beberapa dari kalian pernah.

Betapa lo pengin bangkit, pengin menunjukkan segalanya tapi kekuatan lo nggak ada. Lo cuma kelihatan bodoh dan terpojok sama keadaan. Gue pernah mengalami masa-masa itu. Semakin gue ingin merekatkan kepingan-kepingan itu semakin hancur pula mereka. Menjadi lebih kecil dan sulit dijangkau. Bagian terberatnya adalah ketika seseorang yang lo anggap bisa memperkokoh pertahanan kaki atau sekadar menegakkan pundak bersikap seolah mereka udah nggak butuh lo lagi. Datang ketika mereka kesepian. Pergi ketika mereka sudah terobati oleh yang sedang hancur-hancurnya. Dan bahkan ada yang memangkas harapan-harapan yang gue yakin mereka nggak bermaksud menghancurkan.

Dunia ini memang lucu. Hati manusia bahkan lebih lucu. Ia bergerak sesuka hati tanpa tahu yang menopang hidupnya mampu berdiri atau tidak. Kalau dipikir-pikir kerumitan dan rasa sakit itu datang hanya dalam jangka waktu yang pendek. Tapi ketika diingatkan dengan itu lagi. Dada seperti berkubang oleh lara. Seperti sudah kecanduan. Padahal itu rasa sakit bukan arak.

Entahlah, saat ini yang terlintas dalam benak gue cuma memperbaiki segalanya. Terutama hati yang selalu tidak tertata dengan rapi. Agar mereka lebih kuat. Agar mereka lebih mampu menahan sepele ini. Mungkin gue kudu banyak doa kemudian melihat ke sekeliling.

Good night, Readers.

 

Blood Red Road: Negeri Berdarah dan Orang-orang Gila Merajalela

6tag_300415-003838[1]

Judul: Blood Red Road

Penulis: Moira Young

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Penyunting: Dhewiberta

Halaman:  449 hlm.

Terbit: Juli 2012

Penerbit: PT. Mizan Pustaka

“Kalau kau menyelamatkan nyawa orang tiga kali, nyawa orang itu jadi milikmu. Kau sudah menyelamatkanku hari ini. Dua kali lagi aku jadi milikmu.” (Hlm. 242)

Hari ini gue mau membahas sebuah novel Fantasi terjemahan karya Moira Young yang berjudul Blood Red Road. Sebenarnya gue nggak begitu tertarik dengan buku Fantasi. Gue lebih seneng nonton film ketimbang baca bukunya. Lebih seru, lebih mendebarkan, dan terasa Feel-nya. Tapi mungkin novel berjumlah 499 halaman karya Moira ini bakal mengubah rasa ketertarikan gue. Sebelumnya gue pernah baca buku jenis fantasi lokal yang direkomendasiin temen. Dari sanalah asal mula ketidaktertarikan gue terhadap buku fantasi. Jadi kesannya mumet, njelimet, dan met-met lainnya. Alur yang acak-acakkan, tempat khayalan yang nggak jelas dan nggak ada penjelasan mendetail, dan masih banyak lainnya. Tapi akhirnya gue merampungkannya. Mungkin itu cuma masalah bukunya yang kurang tepat waktu dibaca gue. Tapi lain kali gue bakal menikmati karya lokal lainnya, kok. I Love Indonesian books.

Red Blood Road sendiri merupakan seri pertama dari Dust Lands Trilogi. Berkisah tentang Saudara kembar Lugh dan Saba, serta adik kecilnya Emmi di sebuah desa bernama Silverlake. Di sana ia tinggal bersama Ayahnya yang merupakan pembaca bintang aneh dan tetangga bernama Procter Jhon, sedangkan Ibunya telah meninggal setelah melahirkan Emmi.

Suatu ketika lima orang berjubah hitam datang menghampirinya. Mereka menculik Lugh untuk sebuah ritual aneh di Freedom Fields. Mereka juga membunuh ayahnya. Bersisa Saba dan Emmi yang tinggal dalam kemarahan.

Saba sendiri mengklaim dirinya adalah bayangan Lugh. Ke mana pun Lugh pergi dia selalu memimpin, sedangkan Saba membuntutinya. Makanya ketika Lugh pergi ia merasa terpukul. Di dunianya hanya Lugh seorang. Bahkan Emmi tidak berarti apa-apa baginya. Saba yang rela melakukan apa pun demi Lugh akhirnya membuat janji pada dirinya sendiri dan Lugh bahwa ia akan menemukannya dan membawanya pulang bagaimanapun caranya.

Ada satu buah kalimat yang menurut gue sangat menggambarkan kerinduan Saba kepada Lugh. Dan ini dalem banget.

“Aku tidak tahu kangen kepada orang lain bisa menyakitkan,” kataku. “Tapi, itu benar. Jauh di dalam. Seperti di tulang-tulangku. Kami belum pernah berpisah hingga sekarang. Tidak pernah. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa dia. Rasanya seperti … aku ini bukan apa-apa.” (Hlm. 287)

Namun perjalanan tidak berjalan mulus. Dia bertemu dengan pasangan Pinch dan dijadikan petarung di sebuah Kerangkeng. Di mana orang-orang menjadi gila karena sebuah tanaman beranama Chaal. Tapi dia rela melakukan apa pun asalkan bisa menemukan Lugh.  Di sana juga ia bertemu dengan Jack dan sebuah perkumpulan Rajawali bebas yang anggotanya seorang wanita. Mereka mengatakan akan membantunya menemukan Lugh.

Dari halaman ke halaman sama sekali nggak membuat gue bosan. Biasanya kalau kebanyakan narasi atau dialognya bertele-tele gue pasti langsung ganti buku. Tapi yang ini, langsung habis dua kali duduk. Inilah yang gue suka dari gaya tulisan Moira. Dia nggak banyak menjelaskan detail cerita. Tapi maksud dari kalimatnya bisa tersampaikan.

Cuma ada satu yang membuat gue nggak sadar. Awalnya gue mengira mereka kembar dengan jenis kelamin yang sama, yaitu laki-laki. Ketika Jack mencium Saba, gue masih bergidig dan bertanya-tanya. Malah berpikiran kalau Jack adalah seorang gay. Lalu saat Saba dijadikan petarung, lawannya kebanyakan seorang wanita. Gue di sana belum ngeh. Kemudian setelah Jack menyebutkan ‘dua orang wanita’ barulah gue paham kalau dia seorang wanita. Saba digambarkan sebagai orang yang kuat dan pemberani makanya pemikiran gue nggak sampai ke sana untuk mengira-ngira. Jadilah salah tanggap. Tapi akhirnya gue mengerti meskipun terlambat.

Tokoh Jack sendiri bikin gemes. Dia itu Lovable. Ia sering mengganggu Saba karena rasa ketertarikannya. tTapi di sanalah daya tariknya, nggak garing dan nggak terlalu berlebihan. Porsi Jack di sini sangat pas. So, gue ngasih 4 bintang untuk buku ini. Recommended buat penikmat fantasi, nih!

Malaikat Terindah

11034185_802337619820672_3806842506573325880_n

[ Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’ ]

Di dalam gigil tubuh Ibu aku tergugu. Beberapa menit yang lalu beling tertancap di jantungnya dan membuat mulutku terkunci. Satu dan lain hal yang membuatku memilih untuk terisak daripada pergi memangil tetangga untuk menyelesaikan darah yang sudah menggenang di lantai. Aku hanya sedang ingin menikmati pelukan terakhir dari ibu yang hangat, meski nyatanya sekarang tinggal bersisa kegigilan.

Satu jam sebelumnya aku pulang dari bimbingan belajar. Perutku keroncongan, mataku lelah, dan otakku memaksa untuk berhenti bekerja. Beberapa saat lagi akan ujian dan itu membuat semua otot-ototku menegang.

Sepulang dari sana aku langsung mencari ibu di dapur. Seperti biasa ada satu menu kesukaanku yang secara bergantian sering Ibu masak dan kusantap dengan lahap. Tempe dan sambal goreng serta nasi hangat. Semua itu dan raut muka ibu kalau tersenyum cukup membuat perasaan lelahku hilang.

Aku keluar dengan sepiring nasi dan mendapati ibu melambai kepada seorang pria. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia lebih rapi, tampan dengan rambut halus di sekitar dagunya, serta sepatu mengilat yang menghentak di beranda.

“Wi, kamu kapan pulang?” Ibu melotot dan gelagapan sambil mencari tempat duduk.

Aku menahan genggaman ke dalam piring. Mencoba menuangkan kekesalan di sana semampunya. “Bukannya kemarin yang terakhir bu?” Suaraku serak tidak seperti biasanya.

“Nggak, ini yang terakhir. Kali ini dia mau menikahi ibu.” Kalimat Ibu berakhir di sana.

Tak terasa piring yang sedang dalam genggaman itu sudah berantakan di lantai. Nasinya berceceran dan sudah dingin. Sungguh, disayangkan padahal sewaktu sampai di rumah aku lapar berat. Sekarang sepertinya kenyang oleh saliva ketika Ibu mengatakan kebohongannya lagi.

Sungguh, seharusnya dia adalah seorang malaikat yang sering teman-temanku bilang kepada Ibunya. Harusnya dia menjadi malaikat terindah bagi seorang Dewi. Aku juga ingin berangggapan begitu. Tapi rasanya berat sekali.

Tahu-tahu yang membekas dalam pikiranku hanya kalimat ‘Harusnya dulu Ibu tidak melahirkanku agar aku tidak pernah merasa sesakit ini melihat kelakuannya.” Selalu kuulang setiap aku terjepit dalam keadaan ini. Tapi hatiku masih saja rapuh dan ingin memelukknya.

Akhirnya keinginan itu pun kesampaian saat kekesalan yang kupindahkan ke dalam piring berisi nasi hangat berujung ke dada Ibu. Dia suka bermain laki-laki, dia egois, dia suka marah-marah sampai membuat pipiku kena tampar, dan dia sungguh menjengkelkan. Tapi dia selalu ada di sisiku saat aku bilang aku membencinya. Sekarang aku tahu kenapa dia tidak membuangku sewaktu kecil. Aku begitu berharga bagi Ibu. Aku teramat istimewa sehingga ia tidak ingin aku kesepian karena tidak hidup bersama. Dan sekarang aku yang membuat diriku sendiri melakukan keputusan yang tidak pernah diambil ibu kala itu.

Kepada Ibu yang tangannya pernah memelukku. Aku bersyukur kau telah melahirkanku.

Elsa’s Secret

imagesedd

[ Diikutkan Dalam Lomba Menulis ‘Love With a Witch by Hyun Go Wun’ ]

Brandon sama seperti remaja kebanyakan. Pergi ke sekolah, bermain bola, menjahili anak perempuan, dan melakukan banyak hal dengan seenak jidatnya. Satu hal yang membedakannya dengan yang lain. Tubuhnya bisa mengeluarkan api berwarna biru. Ssst…, ini aku saja yang tahu. Sebelum ketika ia menyeret imajinasiku ke dalam dunianya, sebelum akhirnya aku dibuat jatuh-bangun dengan pesonanya. Sebelum keduanya terjadi aku sudah tahu.

“Elsa!” Dalam dekapan sebuah mantel Brandon melambai ke arahku sambil tersenyum lebar. Ada seragam sekolah yang kulihat di sana selepas ia berjalan.

Dengan jarak sebuah jalan dan lampu merah aku bisa menangkap ia sedang bermain-main dengan sihirnya. Ia mendekat dan semakin terlihatlah kobaran api itu dengan tubuh yang tak sedikit pun kuyup. Aku berdecak jika merasakan lagi kepalaku yang basah oleh hujan yang sedang mendera meski sudah diteduhi payung.

Aku mengamati sekeliling. Rasanya lega tidak ada yang mengetahui rahasia besarnya ini.

“Kamu jaga baik-baikan kekasihku ini?”

Aku mengulum lagi senyuman yang sudah mengembang, kemudian membuang muka ke tanah. Aku ini bukan anak kecil yang sedang butuh penjagaan seseorang. Apalagi dari perawan tua yang sedang bersamaku ini. Aku melirik wajahnya yang sedang bersinar. Di sana kudapatkan sebuah senyuman dengan arti khusus kepada Brandon.

“Kamu tidak usah khawatir, dia tidak merepotkan, kok,” kata perawan tua sambil melirikku.

Setelah percakapan pendek itu, Brandon membawaku pulang. Seragam sekolahnya masih saja kering padahal hujan sedang gencar-gencarnya memburu bumi. Satu hal lagi yang membuat Brandon tampak menakjubkan. Ia membuat wanita itu tidak sadar dengan tubuhnya yang tidak kebasahan. Selalu saja wajahnya yang menjadi pusat perhatian.

Dalam perjalan itu, aku mendengarnya bersenandung. Dia boleh tampan, tapi suaranya tidak bisa untuk di dengar dengan nada meliuk-liuk tanpa harmonisasi yang pas. Ketika itu ia langsung bercerita, sepertinya ia tahu perasaanku dengan baik kalau soal ini.

Katanya begini, “Elsa, aku sedang jatuh cinta.”

Di sekililing sedang hujan, tapi kenapa kurasakan petir sedang berlomba-lomba menyambar dadaku? It’s hurt, dude!

Brandon melanjutkan sambil mencapai puncak kepalaku. Mengusap-usapnya dan membuatku bergetar setengah mati. Aku harap setiap hari tangannya selalu seperti itu. “Ada seorang wanita yang mati-matian ingin kuambil hatinya tapi tidak pernah bisa,” tambahnya sambil berhenti di depan halte.

Kuamati baik-baik wajahnya. Kelenjar air mataku luruh begitu saja bercampur genangan air di pinggir jalan sejak ia mengucapkan kalimatnya. Brandon yang  mengatakan aku adalah kekasihnya sudah tidak bisa aku percayai lagi kata-katanya.

“Elsa, aku minta maaf.” Brandon mengamatiku. Mungkin ia sekarang sudah tahu kalau mataku sudah basah. Entahlah, dia selalu bodoh jika disuruh membaca bola mataku. Padahal kalimat “Aku cinta kamu” sering kuteriaki sampai aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Susah kalau sudah berurusan dengan penyihir bodoh yang hanya pintar bermain api.

Kemudian Brandon duduk di atas deretan kursi yang masih kosong. Sambil menungu bus ia membisikkan sesuatu. “Kadang-kadang hati seseorang itu bisa terbagi dengan sendirinya, lho. Kecuali kamu pintar menjaganya. Sayangnya aku bodoh, sih. Bisa-bisanya aku mencintai…,”

Stop!” Mungkin itu arti teriakanku kepadanya, sehingga membuat Brandon kelimpungan melihatku yang meledak-ledak.

“Oh, Elsa, please,” bujuk Brandon sambil menangkap kembali puncak kepalaku.

Jujur saja, aku sudah tidak tahan. Pemikiran aku tidak bisa terbebas dari dunianya saja masih melekat dengan baik di dalam kepala. Sekarang ia mengagetkanku dengan kalimat itu. Aku bisa saja mati mendadak di tempat ini.

Tapi adakah yang bisa kulakuan selain bilang, “Jangan pergi ke lain hati!” atau sekadar, “Brandon, mampukah kamu melihat isi hatiku?”

“Resa,” lanjut Brandon setelah aku berhenti meracau.

Setelah nama itu ia ucap, aku hanya bisa melanjutkan pertanyaan. Adakah yang bisa kulakukan jika aku sendiri tidak bisa menandingi perawan tua itu? Sekadar menjambak rambutnya mungkin, atau membuat onar di rumahnya saat aku menginap di sana. Atau bisa saja langsung melabraknya dan bilang “Brandon adalah milikku.”

Sesuatu yang klise dilakukaan saat orang lain merebut kekasihnya. Tapi adakah yang bisa kulakukan selain menyadari diri sendiri dengan letak perbedaan yang terjadi di antara kami? Yang perlu kusampaikan kepadanya suatu hari nanti adalah, “Berbahagialah bersama wanita yang kamu cintai!” Tidak untuk sekarang karena aku sedang patah hati oleh api birumu yang sering menghangatkan tubuhku.

Ada hal yang belum kusampaikan. Kalau orang bilang tidak ada alasan saat mencintai. Itu salah. Karena nyatanya, alasanku mencintai Brandon adalah karena dia adalah dirinya. Seorang Brandon yang mampu membuat aku jatuh cinta dengan kebodohannya, api birunya, serta rasa aman yang kudapat kalau dia sudah memelukku erat.

Beberapa menit setelah itu Brandon berkata kepadaku, “Lihat nih, aku sudah belikan kamu makanan. Jadi lain kali kamu tidak akan tersedak tulang ikan lagi.”

Meowww!

FB_20150304_21_24_19_Saved_Picture[1]

Scary of Sady

Diikutkan Dalam Lomba Menulis Cerpen ‘Majo & Sady’

11011294_799121493475618_8276522854963876132_n

Sady dan rumah baru menjadi dua hal yang sangat berarti bagiku. Sejak kehidupan kami dimulai, pemikiranku tentang hidup tenang  dan bersantai di sofa ruang tamu segera lenyap. Sady sudah jauh-jauh hari membuatkan daftar pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan kami berdua. Kemudian akan menjadi rutinitas baru untuk ke depannya.

Hari senin sampai sabtu aku membuat sarapan, sedangkan Sady kebagian hari minggu saja. Belum apa-apa sudah berat sebelah begini. Mulai terlihat deh, Sady yang tidak bisa memasak. Padahal hari minggu juga tetap aku yang memasak. Yang dilakukan Sady, kan cuma membuat dapur berantakan dengan telur mata sapi gosong atau air yang surut karena ditinggal menonton acara Talk Show.

Kemudian jadwal yang sudah ia buat itu tidak keruan. Misalnya hari senin sampai rabu Sady mencuci baju lain harinya aku yang melakukan. Hari sabtu adalah ritual membersihkan kamar mandi yang hasilnya ia hanya bermain air sambil menyipratiku yang sedang menggosok lantai.

Pernah suatu hari waktu hari libur tiba, Sady sudah duduk manis di depan meja makan sambil membaca sebuah majalah dan meneguk secangkir teh hangat.

“Hari ini mau ke mana ya?” Sady bermaksud menyindirku karena minggu kemarin aku berjanji mengajaknya ke pantai. Tapi sayangnya hari ini aku kurang enak badan dan membatalkan janjiku kepada Sady.

Aku berdeham sambil membawa dua mangkuk bubur ke depan Sady.

“Wohooo, ini pasti enak,” kata Sady sambil bertepuk tangan. Sudah lupakah dia dengan jadwal memasaknya yang telah ia buat beberapa minggu yang lalu?

“Kok, ayamnya dipotong kecil-kecil? Aku kan nggak suka.” Sady menatapku dengan tatapan datar.

Setelah menyendok bubur kedua, aku menahan yang ketiga dan memperhatikan Sady yang sudah melipat tangan di depan dada.

“Aku buatkan lagi ya?” kataku menawarkan diri. kalimat itu rasanya lebih aman daripada sebuah alasan ini-itu.

Setelah aku kembali ke dapur kulihat ia tengah cengengesan sambil memakan keripik.

Yah, Sady memang seperti itu. Kadang dia suka meledak-ledak kalau aku tidak mau melakukan hal-hal yang ia minta. Contohnya seperti potong rambut yang ia lakukan kamis lalu. Padahal dia memotong seenak jidatnya sendiri dengan panduan sebuah majalah mode. Aku kan jadi kesal dengan gaya rambut tidak jelas buatan Sady.

Belum lagi kalau Sady sudah kumat dengan kebersihannya. Seharian penuh, punggungku bisa habis digosok olehnya cuma karena kau kecipratan lumpur di jalan. katanya aku banyak kumannya. Apalagi kalau menyangkut keuangan. Aku minta dibelikan sekumpulan ikan kecil saja dia langsung menjentikkan jari dan menyemburkan mottonya, hemat pangkal kaya.

Tapi Sady tetaplah Sady. Semenjengkelkan apa pun sifatnya, secapek apa pun aku melakukan daftar yang sudah ia buat, aku telah memilihnya sejak awal dan berjanji akan selalu membahagiakannya. Malah akan menjadi berbeda kalau dia berubah menjadi istri kalem, bermulut manis, dan sering kerja di dapur. Rasanya ada yang salah saja. Rasanya aku bukan menikahi Sady si tukang suruh, pemalas, dan tentunya yang mencintai suaminya dengan baik.

Apa pun itu, asalkan Sady merasa bahagia aku tetap akan melakukannya. Dan jika ada kata yang lebih hebat daripada kata ‘cinta’ aku akan mati-matian memberikannya meski dilakukan dengan berdarah. Karena aku mencintainya. Sangat. Lebih dari apa pun.

Purwakarta, 2 Maret 2015

1545696_799123193475448_1590826402508308213_n

10264869_799122626808838_390654746823398546_n

10945573_799122793475488_7445464674671198619_n

11026056_799123246808776_2526434352249406949_n

Giveaway Rewind Back

Rewind Back

????????????

Penulis : Julia Primadani Tebal : 162 halaman Harga : Rp. 36.700,00 ISBN : 978-602-225-965-7

Deskripsi: Lucy Fei masih tidak habis pikir, orang terkasihnya yang ingin ia kubur dalam-dalam kenangannya malah datang kembali ke kehidupannya. Tanpa berdosa, orang itu memberikan tatapan, senyuman, dan sorot mata yang membuat Fei ingin merengkuhnya, lalu mencaci laki-laki itu. Selama masa-masa sulitnya, Fei selalu diingatkan dengan cerita-cerita yang sering orang itu ucapkan.

“Kamu padam. Aku tiada. Aku menangis. Kamu menyesal. Kamu menangis. Aku tak bisa apa-apa. Aku hanyalah sebatang lilin yang selalu merindukan pemantikmu. Tanpamu, aku hanya sebatang lilin kecil yang gigil dalam tempat peristirahatannya. Kamu pemantik yang bisa membakar siapa saja. Kamu pemantik yang dapat menghangatkan siapa saja. Tapi kamu satu-satunya pemantik yang dapat meluluhkan hatiku. Terima kasih karena sudah memantikku dan mendekapkudengan hangatmu.”

-Ran-

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via : – SMS ke 0819 0422 1928 – Inbox FB dengan subjek PESAN BUKU – Email ke leutikaprio@hotmail.com Atau klik >>> http://www.leutikaprio.com/produk/110329/teenlit/14121110/rewind_back/14116431/julia_primadani

Itu dia sedikit informasi tentang buku punyaku. Nah, Untuk menyambut kelahirannya, ceritanya aku mau buat giveaway kecil-kecilan, nih. Ada yang mau ikutan? Oke, nggak usah panjang lebar. Simak ketentuannya!

  1. Follow Twitter @Juliaaprima dan blog ini.
  2. Reshare info giveaway ini di Timeline kamu dengan mention ke @Juliaaprima
  3. Buat cerita maksimal 700 kata termasuk judul dengan tokoh Ran dan Fei (tokoh lainnya bisa menggunakan nama Tio dan Tami atau pilih salah satu. Tidak menggunakan pun tidak apa-apa), genre bebas.
  4. Cerita dipasang di blog atau notes Facebook.
  5. Sertakan kalimat [Cerita ini diikutsertakan dalam giveaway Rewind Back] di awal kalimat.
  6. Tulis nama, akun twitter, dan link ceritamu di kolom komentar postingan ini
  7. Cerita paling lambat diterima pada 20 Februari 2015 pukul 23.59 WIB. Pengumuman pemenang menyusul setelahnya.
  8. Tiga cerita terbaik akan mendapatkan buku Rewind Back karya Julia Primadani. Satu karya Favorit akan mendapatkan sebuah buku So I merried the antifan karya Kim eun Jeong. Dan satu orang yang akan dipilih acak mendapatkan satu buah buku pilihan penulis ( buku belum ditentukan)
  9. Kurang banyak ya bukunya? Ikutan aja dulu siapa tahu, nanti ada kuis dadakan! Ajak temanmu untuk ikutan giveaway ini sebanyak-banyaknya ya! Good luck and happy writing! ^_^
  10. Jika ada hal yang kurang mengerti, silakan tanyakan ke akun @Juliaaprima ya!

Ally – All These Lives Menurutku?

Kali ini saya mau serius. Bukan membahas yang tidak penting lagi. Sudah saya cukupkan tentang nasihat ter-hakpret kemarin.  Sore ini, yah, dengan satu bungkus camilan saya akan membahas atau lebih tepatnya memberikan komentar untuk novel Karya Arleen A yang berjudul Ally-All These Lives. Sebelumnya saya merasa bersyukur telah diberi kesempatan untuk membaca First Chapter salah satu buku dia yang akan segera terbit ini. Uhwow, pastinya senang dong. Omong-omong, ini dia kovernya!

cover ally final

Sebenarnya, ini kali pertama saya membaca karya dia. Dan, BLAMMM! Buku tersebut langsung masuk daftar buku yang harus dibeli tahun ini. Kenapa? Tulisan Kak Arleen bagus. Kak Arleen ini pandai membuat setting yang kuat. Jujur, tanpa banyak ini-itu yang dijelaskan saja saya sudah bisa merasakan setting-nya. Untuk ceritanya sendiri, duh, sejak baca awal paragraf saja saya sudah ingin menebak-nebak alurnya. Dan lagi yang dialami tokoh Ally sangat membuat saya penasaran. Saya beranggapan dia kehilangan ingatannya atau mengalami gangguan kejiwaan karena tidak bisa menerima apa yang terjadi pada adiknya. Kalian juga ingin menebaknya, kan? Membaca Ally seperti menaruh jagung di minyak panas. Baru juga jatuh tapi langsung meletup lagi. Ah, begituah pokoknya.

Tapi ada satu hal yang sedikit menganggu saya ketika membaca. Ada pengulangan cerita yang saya rasa tidak perlu. Walaupun maksudnya ingin menekankan, tapi mungkin lebih baik jika dijelaskan dengan alternatif lain supaya pembaca tidak merasa bosan. Tentu saya tidak begitu, malah ingin tahu kelanjutan cerita Ally. Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kalian yang suka membaca. Dan untuk Kak Arleen, semoga Ally bisa dinikmati banyak orang. Amin!